Implicate Order

Oleh: F. David Peat
(Sumber: www.fdavidpeat.com)

David Bohm meninggalkan pusaka besar. Terutama karena dia masih sedang mengerjakan ide-ide baru, serta mengembangkan implikasi ide-ide terdahulu, sampai saat kematiannya. Salah satu ide signifikannya adalah Implicate Order. [Lihat David Bohm, Wholeness and the Implicate Order, Routledge, London, serta Bohm dan Peat, Science, Order and Creativity.]

Realitas yang dideskripsikan oleh fisika klasik, kata Bohm, realitas benda padat tetap dengan posisi definitif di ruang dan durasi waktu yang spesifik sebaiknya diistilahkan sebagai Explicate Order. Kebanyakan dari apa yang kita indera di dunia adalah berbentuk Explicate Order ini. Sebaliknya, realitas yang cocok untuk teori quantum adalah realitas superposisi, keterlipatan (enfolding), antarpenembusan (interpenetration), dan ruang non-lokal. Bohm menjulukinya sebagai Implicate Order. Untuk kepentingan ilustrasi, Bohm melukiskan tatanan implicate ini dalam konteks gambar-gambar holograf, atau setetes celup yang diputarbalik menjadi zalir hingga terlipat sepenuhnya. (Tapi kiasan seperti ini terbatas dan tidak mengeksploitasi implikasi utuh Implicate Order.) Dengan demikian partikel-partikel unsur tidak boleh dianggap semata-mata sebagai objek padat tetap di ruang, melainkan sebagai proses yang terhampar dan terlipat dari keseluruhan alam semesta.

Terkait ketidakmampuan sains dalam merukunkan teori relativitas Einstein dengan teori quantum, kata Bohm yang dibutuhkan bukanlah teori dan ide baru, tapi tatanan baru nan radikal di dalam fisika. Implicate Order adalah tatanan baru tersebut. Menurut Bohm, fisika masih didominasi oleh apa yang disebutnya Cartesian Order. Yakni, gagasan explicate ruang dan waktu yang diekspresikan dengan koordinat Cartesius—setiap titik di ruang-waktu adalah tetap/pasti dan ekuivalen dengan sehimpun bilangan. Kesuksesan praktis tatanan Cartesian terletak pada fakta bahwa gerak dan alihragam objek-objek di ruang dapat dideskripsikan oleh persamaan diferensial. Sebaliknya, Implicate Order berproses lewat suatu skema deskripsi berbeda, misalnya aljabar.

Tapi, menurut Bohm, Implicate Order tidak berlaku pada fisika quantum semata, melainkan juga sebagai cara pantas untuk meninjau proses-proses kesadaran. Ilmuwan syaraf Karl Pribam, misalnya, memanfaatkan analogi holografi dalam modelnya tentang bagaimana ingatan disebar secara terdelokalisir ke seluruh otak. Bohm juga merasa Implicate Order menyediakan pemahaman mengenai cara kita mengindera dunia dan mengerjakan ide-ide. Dalam hal ini ide Implicate Order sedikit mirip Komplementaritas milik Bohr—lahir dari fisika yang menjangkau bidang-bidang lebih umum: kesadaran, seni, dan budaya.

Tapi Bohm menyisakan sejumlah pertanyaan: bagaimana kita harus menafsirkan tulisannya tentang Implicate Order dan bagaimana konsep ini dapat diperluas dan diterapkan. Biar bagaimanapun, Bohm senantiasa mengembangkan ide-idenya, jadi apa yang dia tulis atau kuliahkan mengenai Implicate Order di satu periode tidak akan sama persis di periode lain. Saat ini ide-idenya sedang digali oleh rekan lama Bohm, Basil Hiley, di Birkbeck College, London; filsuf Paavo Pylkaanen; dan lain-lain.

Lihat catatan menyangkut Implicate Order. Camkan, ini bersifat spekulatif dan belum disunting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s