Catatan Mengenai Implicate Order

Oleh: F. David Peat
(Sumber: www.fdavidpeat.com)

1) Haruskah kita mempertimbangkan Implicate Order sebagai bentuk baru tatanan deskriptif dalam fisika, misalnya menggantikan apa yang Bohm sebut Cartesian Order (koordinat dan titik tetap/pasti di ruang)? Ataukah itu pernyataan ontologis tentang dunia dan realitas (pernyataan tentang dunia apa adanya)?

Sebuah contoh mungkin dapat membantu. Suara biola dihasilkan oleh getaran senar-senarnya (beserta semua nada tambahan mereka) dan juga badan kayu instrumen. Hasilnya adalah suara kaya yang dapat, untuk kepentingan studi, dianalisa dalam hal alihragam Fourier menjadi serangkaian gelombang sinus (getaran, masing-masing pada frekuensi tunggal berbeda). Karenanya, alihragam Fourier merupakan tatanan deskriptif tapi bukan pernyataan ontologis mengenai sumber suara itu sendiri. (Implicate Order sebagai tatanan deskriptif.)

Di sisi lain, kita dapat mereproduksi suara biola pada synthesizer musik. Dalam kasus ini, penyuaraan serangkaian osilator secara serentak akan menciptakan suara, masing-masing bergetar pada frekuensi tetap. Nah, komposisi suara Fourier adalah pernyataan aktual mengenai ontologinya—sumber dan sifat suara itu sendiri. (Implicate Order sebagai ontologi.)

Hari ini, suara demikian dapat dihasilkan pada sistem musik komputer dengan pertama-tama menyampel (sampling) biola sungguhan, mendigitalkan (digitize) hasilnya dan kemudian mengolah suara dengan beraneka teknik pemrosesan digital. Kali ini lebih baik membahas suara yang dihasilkan dari segi Generative Order—generasi oleh manusia pengoperasi komputer, rutin alihragam komputer, dan program dasarnya sendiri.

2) Rupert Sheldrake, dalam diskusinya dengan Bohm, menyatakan bahwa gagasan Implicate Order sebagai dasar Explicate Order merupakan, dalam hal tertentu, wujud kembalinya kita ke tipe Platonisme. Dalam tamsil gua miliknya, Plato mengisyaratkan bahwa dunia tampak adalah bayangan dunia Bentuk atau Ide yang lebih dalam. Saat membaca karya Bohm, adakalanya kita mendapat kesan serupa, bahwa dunia Explicate adalah semacam cerminan Implicate Order yang lebih dalam.

3) Dalam ceramah dan kuliah, Bohm memakai ide holografi untuk menjelaskan Implicate Order. (Sementara satu bagian foto memuat satu bagian gambar saja, sekeping holograf memuat gambar utuh. Dengan kata lain gambar terlipat ke segenap holograf.) Akan tetapi Bohm juga menguraikan batasan kiasan ini. Sialnya, “paradigma holografi” meraih popularitas tanpa selalu dipahami batasannya. Pertama-tama, itu adalah kiasan statis, sebab alihragam holografi (Alihragam Fourier) tidak mengandung dinamika. Di sisi lain, Implicate Order terikat pada gagasan pokok Hologerak (gerakan Keutuhan.)

Demikian pula, alihragam Fourier adalah pemetaan 1:1, sementara hubungan antara Implicate dan Explicate (dan Superimplicate) tidak sesederhana itu. Contoh, cuma aspek tertentu dari Implicate Order yang dapat, pada satu waktu, dipetakan ke dalam Explicate. Ini mengingatkan kita akan gagasan Komplementaritas Bohr. Satu eksperimen mengungkap sesuatu tentang sistem quantum. Eksperimen kedua mungkin mengungkap suatu aspek yang bertentangan, dan berkaitan secara paradoks, dengan eksperimen pertama. Bohr merasa Komplementaritas ini adalah karakteristik kesadaran dan quantum. Demikian halnya, Implicate Order dan Explicate Order tidak dapat direduksi menjadi pemetaan sederhana di antara mereka, beda dengan tatanan holografi.

4) Untuk alasan serupa, Bohm merasa model holografi otak adalah terbatas dan semestinya digantikan oleh sesuatu yang lebih dekat dengan quantisasi kedua. Tentu saja benar bahwa model otak milik Pribram mengandung wawasan signifikan—bahwa persepsi dan memori dipetakan secara terdelokalisir ke seluruh otak melalui fungsi-fungsi Gabor dan ada bukti bahwa alihragam Gabor tersebut dilakukan lewat sinapsis di otak.

Barangkali keberatan Bohm tertuju pada statisnya pendekatan holografi. Quantisasi kedua memuat nuansa lebih dinamis dan mengindikasikan bahwa peristiwa-peristiwa terhampar secara dinamis di otak. Di bab mengenai Aksi Lembut, saya telah mengusulkan sebuah model otak, via Jaring Syaraf, yang mensyaratkan konektivitas jejaring normal plus aspek non-lokalitas atau sekurangnya sinyal amat cepat. Dengan sinyal ini, ataupun non-lokalitas ini, penghubungan fase-fase di berbagai bagian jaring jadi memungkinkan. Dengan begini, sinyal-sinyal yang bergerak sepanjang jaring mengalami interferensi konstruktif, memungkinkan gelombang aktivitas global menyusur masuk ke dalam area-area otak yang kecil dan terfokus dan kemudian menyebar keluar. Citranya adalah citra otak di mana aktivitas listrik tersebar ke beberapa pusat aktif, menyusur ke dalam kawasan tertentu dan kemudian menyusur keluar lagi. Aktivitas demikian terlihat pada, contohnya, Persepsi, di mana informasi dihimpun dan diproses di berbagai kawasan korteks visual.

5) Apa kaitan antara gagasan Informasi Aktif (yang timbul dalam Interpretasi Ontologis Bohm terhadap Teori Quantum) dan Implicate Order?

6) Catatan selanjutnya akan menggali sifat potensial pemetaan dan alihragam dalam Implicate Order dan Explicate Order, yakni memakai kiasan Fungsi Green serta Matriks Densitas Tereduksi dan persoalan representabilitas-N.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s