Dua Jenis Tatanan

(Sumber: www.everythingforever.com)

David BohmEinstein pernah menyebut fisikawan David Bohm sebagai penerusnya. Bohm memperkenalkan konsep Implicate Order dan Explicate Order. Bohm mendefinisikan explicate order sebagai tatanan dunia fisik. Dia mendefinisikan implicate order sebagai sumber explicate order, dan sebagai keutuhan pokok yang darinya bentuk fisikal senantiasa terhampar dan kepadanya ia terlipat kembali. Ilmuwan lain telah mengkonstruksi model dua tatanan, mencakup Henri Bergson dan William Yeats di awal 1900-an. Bohm ingin konsepnya menggantikan tatanan dan ketidaktatanan meski dia tak mampu meyakinkan ilmuwan lain akan kebutuhan ini, dan Bohm berkutat dengan rasa depresi lantaran tidak mampu meyakinkan komunitas sains akan nilai ilmiah temuannya. Dalam mendeskripsikan Implicate Order, Bohm menulis:

Tatanan ini jangan dipahami semata-mata dari segi susunan reguler objek-objek (yakni bersambung) atau sebagai susunan reguler peristiwa-peristiwa (yakni berderet). Alih-alih, tatanan total terkandung dalam suatu pengertian implisit, di setiap kawasan ruang dan waktu. Nah, istilah “implicit” berakar dari kata kerja “to implicate”. Artinya “to fold inward” (“melipat/terlipat ke dalam”) (sebagaimana multiplication/perkalian berarti “folding many times”/“melipat berkali-kali”). Jadi kita tertuntun untuk menggali gagasan bahwa sedikit-banyak setiap kawasan ruang mengandung struktur total yang “terlipat” di dalamnya.

Dua arah tatanan boleh jadi merupakan fitur alam paling penting yang akan pernah kita pahami. Ada banyak penerapan kedua tatanan di setiap bidang, dalam fisika, biologi, geologi, politik, dan psikologi, untuk contoh bidang yang lebih nyata. Teori dua tatanan secara umum mendeskripsikan semua perubahan, semua pola, semua bentuk definitif, apapun yang dikecualikan. Seiring kita belajar mempersepsikan kosmos sebagai satu tipe tatanan yang beralihragam menjadi tipe lain, pintu-pintu pemahaman akan terbuka melampaui impian terliar kita.

Dalam rangka memahami bagaimana keutuhan/keseluruhan dapat eksis di setiap bagian, Bohm menaruh perhatian pada mekanisme fotografi holografi. Menggunakan laser, sebuah citra holografis direkam merata pada film fotografis. Konsekuensinya, area film manapun memuat informasi tentang keseluruhan citra, sehingga area sekecil apapun dapat mereproduksi citra, meski resolusinya lebih jelek daripada yang dihasilkan seluruh film.

Bohm percaya semua materi terhampar dari hologerak, yang berarti materi dapat pula terlipat dan dengan begitu kembali ke dalam hologerak. Bohm menganggap mekanika quantum adalah proses keterhamparan dan keterlipatan. Dia membayangkan alam semesta sebagai laut ananta ruang dan energi yang darinya materi terhampar (dia sebut explicating) dan terlipat (dia sebut implicating), yang, dalam kata-kata Bohm, “bersama-sama merupakan keutuhan mengalir tak terbagi. Setiap bagian alam semesta terkait dengan setiap bagian lain tapi dalam derajat berlainan”. Dalam sebuah wawancara dengan fisikawan F. David Peat dan John Briggs yang diterbitkan di majalah Omni, Bohm menjelaskan konsep keterlipatannya:

Setiap orang pernah melihat citra keterlipatan: Anda lipat sehelai kertas, ubah jadi paket kecil, buat sayatan, lalu hamparkan menjadi sebuah pola. Bagian-bagian yang berdekatan di sayatan terhampar menjauh. Ini seperti yang terjadi pada hologram. Keterlipatan sebetulnya sangat lumrah dalam pengalaman kita. Semua cahaya masuk ke ruangan ini hingga seluruh ruangan praktisnya terlipat ke dalam setiap bagian. Jika mata Anda menengok, maka cahaya akan dihamparkan oleh mata dan otak Anda. Saat Anda menengok lewat teleskop atau kamera, seluruh alam ruang dan waktu terlipat ke dalam setiap bagian, dan itu terhampar kepada mata. Pada televisi kuno yang tidak disetel dengan tepat, gambarnya terlipat ke dalam layar dan kemudian dapat dihamparkan melalui penyetelan.

Proses keterhamparan dan keterlipatan mengindikasikan sebuah keutuhan eksis sebagai dasar. Walaupun Bohm, dalam mayoritas tulisannya, mendeskripsikan keutuhan sebagai “dinamis dan terus bergerak”, belakangan dia mulai mendeskripsikan waktu sebagai “terdapat dalam ketidakberwaktuan”. Kalau diingat-ingat, Bohm tidak cukup fokus pada ketidakberwaktuan pola-pola. Dia tidak cukup mengakui bahwa pola-pola standar mengungkap tatanan implicate, kendati dalam analogi Bohm terdapat jenis contoh yang saya pakai untuk menjelaskan transisi dari keberkelompokan menuju tatanan simetri. Salah satu analogi kesukaan Bohm bermula dari program sains yang dilihatnya di acara televisi. Program itu menampilkan keajaiban kecil sains, di mana setetes tinta hitam non-larut, dalam sebuah proses, menghilang secara seragam ke dalam gliserin, lalu dalam proses kebalikannya muncul kembali.

Pada saat saya memikirkan pertanyaan-pertanyaan ini, sebuah program sains BBC menampilkan alat yang mengilustrasikannya dengan baik. Itu terdiri dari dua silinder kaca konsentris. Di antara mereka terdapat zalir kental, seperti gliserin. Jika setetes tinta non-larut ditempatkan dalam gliserin dan silinder luar diputar pelan-pelan, maka tetes celup itu akan tertarik keluar menjadi benang. Akhirnya benang terbaur hebat sehingga tak bisa dilihat. Pada momen itu rasanya tak ada tatanan sama sekali. Tapi jika Anda putar balik silinder pelan-pelan, gliserin kembali ke bentuk aslinya, dan tiba-tiba tetes tinta tampak lagi. Tinta telah terlipat ke dalam gliserin, dan terhampar lagi oleh pemutarbalikan.

Tentu saja kita bisa lakukan transformasi ini secara kurang dramatis dengan wadah berisi air dan minyak, dan cukup goyang wadahnya hingga kedua cairan bercampur merata. Lalu, saat diam, kohesi elektrostatik dan gravitasi akan segera memisahkan ulang cairan-cairan tersebut menjadi dua kelompok murni. Maksud dari analogi pencampuran dan pemisahan ini adalah bahwa bentuk materil dapat bersatu dan lenyap menjadi suatu keutuhan. Ini mengisyaratkan ekuivalensi antara materi dan latar tak nampak itu, latar yang kita kenal sebagai ruang. Seluruh ruang hampa di alam semesta, yang kita anggap lebih rendah dari materi fisik yang dengannya kita bisa berinteraksi, sebetulnya lebih berisi daripada permukaan yang kita saksikan dengan gelombang cahaya. Apa yang kita kira ruang kosong ternyata mengandung segala sesuatu. Ini cara pandang dunia yang sangat berbeda, tapi pesannya adalah bahwa materi senantiasa terhampar dari dan terlipat kembali ke keutuhan seimbang yang lebih besar. Bohm menulis:

Fisika klasik menyatakan realitas adalah partikel-partikel kecil yang memisahkan dunia menjadi unsur-unsur independennya. Kini saya usulkan sebaliknya: realitas fundamental adalah keterlipatan dan keterhamparan, dan partikel-partikel merupakan lepasan darinya. Kita bisa gambarkan elektron bukan sebagai partikel yang eksis terus-menerus, melainkan sebagai sesuatu yang masuk dan keluar dan masuk lagi. Jika aneka kondensasi ini berdekatan, mereka menyerupai lintasan. Elektron sendiri tak pernah terpisahkan dari keutuhan ruang, yang menjadi ranahnya.

Dalam buku The Holographic Universe, penulis Michael Talbot memadukan visi dua tatanan milik Bohm dengan karya Karl Pribram, seorang neuropsikolog terkemuka yang juga tertarik pada fotografi holografi sebagai sarana menjelaskan misteri memori manusia. Talbot juga menyebut keseluruhan alam semesta adalah hologram. Dia menulis:

Sebagaimana setiap porsi hologram memuat citra keseluruhan, setiap porsi alam semesta melipat keseluruhannya. Berarti, jika tahu cara mengaksesnya, kita bisa temukan galaksi Andromeda di kuku jempol tangan kiri Anda. Kita juga bisa temukan perjumpaan pertama Cleopatra dengan Caesar, karena secara prinsip seluruh masa lalu dan implikasi bagi seluruh masa depan juga terlipat di setiap kawasan kecil ruang dan waktu. Setiap sel di tubuh kita melipat keseluruhan kosmos. Begitupun setiap daun, setiap tetes hujan, setiap partikel debu…

Sayangnya, arus utama ilmuwan lain tidak menangkap visi dua tatanan milik Bohm, dan dia bergumul dengan keputusasaan dan depresi lantaran tidak mampu meyakinkan komunitas sains akan nilai ilmiah tatanan terlipat, pergumulan yang saya warisi. Tanpa sadar telah terpengaruh secara dramatis, saya menjumpai konsep Implicate Order Bohm bertahun-tahun sebelum saya menemukan dan mempersembahkan sistem saya sendiri dalam memandang hal yang sama, prinsip yang sama, proses yang sama di alam. Menemukan ulang dan mempelajari karya Bohm lebih rinci, kini saya sadar konsep tatanan berkelompok dan tatanan simetri milik saya tak lain adalah perluasan konsep Bohm. Kini saya percaya, satu-satunya alasan kenapa pencapaian visioner Bohm tidak berdampak besar adalah karena dia lebih tergiring untuk menantang cara penafsiran mekanika quantum di masanya ketimbang menggali cara pendefinisian istilah tatanan dan ketidaktatanan, serta penggunaan istilah tatanan dan ketidaktatanan dalam hukum [termodinamika] kedua. Saya juga berpikir, dia mencoba meyakinkan audiens yang salah. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya yakin akan perlu waktu bertahun-tahun untuk sebuah tantangan keras mengendap ke dalam benak kolektif sains yang kadang tumpul, yang menurut paradigma gersang mutakhir cenderung menghindari konsep-konsep mendalam.

Salah satu pelajaran terpenting yang saya sampaikan dari Bohm adalah bahwa tatanan simetri merupakan komponen (komponen terpisah) dari pola-pola yang kita jumpai di alam, sehingga kita bisa memandang proses keterhamparan dan keterlipatan sebagai sistem pengatur, bukan cuma terlihat dalam evolusi umum waktu, tapi juga hadir dalam setiap individu, dan dalam umat manusia secara keseluruhan. Saya harap siapapun yang membaca buku ini kelak akan mampu mengamati pola di dunia mereka dan mengenali dua komponen tatanan yang bukan hanya berkontribusi pada penampakan tatanan, tapi juga penampakan ketidaktatanan.

Ketiadaan Satu Tatanan Menciptakan Tatanan Lain

Penyair Irlandia William Yetas, yang menerima Hadiah Nobel sastra pada 1923, maupun filsuf Prancis Henri Bergseon, yang menerima Hadiah Nobel sastra pada 1927, menulis tentang dua tatanan fundamental yang bekerja dalam proses evolusi alam semesta. Kendati sifat tatanan-tatanan ini tidak dideskripsikan segamblang konsep implicate dan explicate milik Bohm, mereka berdua mengenali kualitas eksklusif kedua tatanan secara lebih gamblang daripada Bohm. Dalam bukunya berjudul Creative Evolution, Bergson menulis:

Dua tatanan tidak disusun ke dalam hirarki linier atau spektrum bertingkat di mana yang satu ada di puncak, yang satu lagi ada di bawahnya, dan “ketidaktatanan” mutlak adalah alternatif ketiga, di dasar hirarki—“alam dalam kekuasaan berkelas-kelas”, meminjam kata-kata Plotinus. Justru, “ketiadaan salah satu dari dua tatanan terkandung dalam keberadaan tatanan lain”.

ChequeredTak pelak lagi, Bergson mengakui bagaimana penurunan kadar satu jenis tatanan meningkatkan tatanan jenis lain. Ini dapat dikenali jika kita mempertimbangkan rusaknya kemurnian tiap tatanan. Bayangkan kita menukar dua buah persegi beda warna pada papan dam. Inkonsistensi susunan simetris akan mencolok seperti rambu. Tatanan ritmis pola simetris telah rusak. Tatanan simetri jelas-jelas berkurang. Tapi penggabungan tiga persegi menjadi satu blok besar merupakan peningkatan pada satu jenis tatanan. Tatanan berkelompok telah meningkat. Kadar tatanan simetri yang lebih besar tidak serta-merta hancur, kita cuma selangkah dari kekisi sempurna utuh, ia hanya berkurang.

UncheckeredSebaliknya, di ujung lain tatanan, jika kita kelompokkan keping-keping permainan berdasarkan warna ke tiap sisi papan, dan alpa mengganti satu keping warna dengan keping lain, kekurangmurnian tatanan berkelompok akan mencolok pula di sini. Kemurnian masing-masing kelompok tercemar, tapi perhatikan: ini adalah langkah pertama menuju peningkatan tatanan simetri. Sebetulnya tidak ada peningkatan bentuk umum ketidaktatanan. Masing-masing langkah pertama dari tatanan tinggi utuh ini merupakan peningkatan tatanan sekaligus penurunan tatanan. Karenanya tatanan jenis satu adalah ketidaktatanan jenis lain.

Di manapun suatu zat berpadu, tatanan berkelompok meningkat, sementara tatanan simetri menurun. Di manapun benda-benda tersebar merata sepanjang kerangka acuan apapun, tatanan simetri meningkat, tatanan berkelompok menurun. Secara umum, satu jenis tatanan tidak bisa meningkat tanpa menurunkan tatanan jenis lain. Setiap tatanan memiliki arahnya sendiri. Setiap tatanan unik. Dan yang ada di segenap alam semesta adalah tatanan.

Kita menyaksikan tatanan di alam semesta dan kita heran kenapa ada tatanan dibanding ketidaktatanan. Umumnya kita membayangkan pojok alam semesta kita berupa pulau tatanan kecil di dalam kebalauan besar. Istilah tatanan dalam kebalauan adalah lumrah. Namun, sekali kita belajar memahami dua jenis tatanan, secara eksistensial rasanya lebih tepat untuk menyebut bahwa kebalauan eksis di dalam tatanan. Jika ketidaktatanan simetri adalah tatanan keberkelompokan, dan jika setiap pola terdiri dari kombinasi dua tatanan, maka yang ada hanyalah tatanan. Dalam kata-kata puitis fotografer Catherine Ames, “tata dan balau adalah satu”.

Gir

Usai meraih Nobel pada 1923, penyair William Yeats melukiskan transformasi dari satu tatanan ke tatanan lain dengan apa yang disebutnya gir (gyre). Gambar-gambar di bawah menunjukkan ruang pola berbentuk baji ganda, tapi mereka lebih tepat menggambarkan kadar atau intensitas satu tatanan dibanding tatanan lain sepanjang rentang kemungkinan. Mereka melambangkan bagaimana dua tatanan bergabung hingga menjadi dua bagian dari deskripsi yang sama.

Gir-gir berbeda yang dilukiskan oleh Yeats
Gir-gir berbeda yang dilukiskan oleh Yeats

Dua kerucut secara efektif melambangkan kepaduan dan ketakterpisahan tatanan berkelompok dan tatanan simetri. Konon Yeats menemukan gambar-gambar ini lewat pengalaman mistis isterinya, Georgia Hyde-Lee, yang mempertontonkan bakat menulis otomatis. Dalam berbagai cara Yeats membuat diagram dua kerucut atau baji yang saling tertanam. Yeats mencatat, informasi yang didapat isterinya secara mistis kelihatannya berasal dari mimpi mereka berdua dan segelintir orang lain. Patut dicatat, Yeats diketahui mempelajari tulisan-tulisan Emanuel Swedenburg, ilmuwan Swedia di masanya yang beralih jadi pemimpin keagamaan. Swedenburg menulis, “Semua realitas fisik, alam semesta secara keseluruhan, setiap tata surya, setiap atom, adalah kerucut ganda. Di mana ada dua kutub yang saling berlawanan, kedua kutub ini mempunyai bentuk kerucut.”

Hukum [termodinamika] kedua dimaksudkan untuk mendeskripsikan aliran pola dan proses yang berlangsung di alam. Ia berupaya mendeskripsikan bagaimana secara fundamental alam semesta fisik berubah seiring berlalunya waktu, menyatakan bahwa entropi total suatu sistem (entropi adalah ukuran energi terpakai) selalu meningkat seiring waktu. Ini fakta, tak ada jalan untuk menghindari hukum alam ini. Tapi hukum kedua juga membuat pernyataan yang secara keliru memperkirakan kaitan antara hilangnya energi yang dapat dipakai dan meningkatnya ketidaktatanan. Dan sekarang kita tahu bahwa poin dari hukum kedua ini tidak mungkin fakta, utamanya karena tak ada yang namanya ketidaktatanan umum. Tatanan simetri adalah ketidaktatanan tatanan berkelompok, dan tatanan berkelompok adalah ketidaktatanan tatanan simetri. Jika tatanan yang satu merupakanan ketidaktatanan yang lain, maka tak ada ruang untuk ketidaktatanan umum. Yang ada di alam hanyalah pola bertatanan tipe satu atau tipe lain, dan kombinasi keduanya.

Kita menganggap tatanan dan kebalauan bertentangan, dan para teoris kebalauan menyebut tatanan di ambang kebalauan, padahal dua-duanya tidak akurat menggambarkan tatanan sebagaimana eksisnya di alam. Tatanan yang begitu nyata di segenap alam semesta kita berasal dari kombinasi ketidakseimbangan dan keseimbangan. Entah itu sebaran merata galaksi-galaksi, atau partikel-partikel gas yang berpencar merata ke seluruh ruang tersedia, kita dapati yang terjadi adalah waktu berevolusi dari status ketidakseimbangan paling ekstrim menuju status keseimbangan paling ekstrim. Ketika kita belajar melihatnya, tiba-tiba transisi ini tampak pada segala sesuatu, mulai dari bahan-bahan cair panas yang mengeras jadi batu atau baja, hingga uap air yang mengkristal jadi keping salju.

Diagram awal milik saya, yang bermaksud menunjukkan pertentangan dan keeksklusifan dua tatanan, adalah persegi terbelah dua pada sudut-sudut berseberangan, dan begitu pula dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa ekstrim tatanan jenis satu adalah ketidaktatanan jenis lain.

Gradien tatanan yang mengindikasikan tiadanya ketidaktatanan umum. Tatanan jenis satu adalah ketidaktatanan jenis lain.
Gradien tatanan yang mengindikasikan tiadanya ketidaktatanan umum. Tatanan jenis satu adalah ketidaktatanan jenis lain.

Tatanan simetri bertanggungjawab atas semua kualitas—dan preferensi—keseimbangan di dunia, mulai dari galaksi spiral hingga disipasi gas, bahkan mungkin kerinduan manusia akan perdamaian. Berkenaan dengan Alam Semesta secara keseluruhan, singularitas tertinggi—dan contoh tertinggi kesimetrian atau kesamaan sempurna—adalah ruang hampa tua polos. Atribut tunggal keseluruhan alam semesta, yang darinya segala sesuatu diciptakan, dan yang kepadanya segala sesuatu beralihragam kembali, adalah ruang semata, meski dalam mempelajari ini penting sekali untuk dipahami bahwa segala sesuatu adalah tidak lebih dari ruang, bahkan kurang dari ruang. Seluruh dunia benda materil adalah fragmen keutuhan. Segala yang kita ketahui sebagai riil adalah kurang dari ruang tempatnya berada, dan tidak lebih dari ruang hampa atau nihil. Penilaian rendah kita terhadap kenihilan adalah keliru sama sekali. Apa yang kita anggap nihil ternyata merupakan kesimetrian sempurna. Sekarang kita paham kebalikannya.

Fisikawan dan kosmolog sudah lama bertanya: apakah status kesimetrian sempurna pernah eksis di masa lampau, hanya saja kita belum pernah mempertimbangkannya sebagai masa depan potensial. Kita malah yakin, ditinjau dari kadar keacakan, bahwa tatanan alam semesta sedang menurun. Tapi jika sebaliknya, ia sedang menanjak! Segala sesuatu sedang terlipat bersama. Status akhir nol yang menjadi arah evolusi alam semesta sejak permulaan waktu sebetulnya merupakan status asli Alam Semesta. Itu adalah keutuhan tak berwaktu. Itu adalah segalanya selamanya. Dan kita tidak sedang menggapainya, kita sudah sampai di sana. Alam semesta yang kita kenal, masa lalu, masa depan, dan alam-alam semesta lain yang tak terhingga jumlahnya, semua eksis serempak. Kita ada di dalam keutuhan itu. Kita bagian dari status asli nol, bagian dari masa kini abadi.

One thought on “Dua Jenis Tatanan

  1. Kita bertanya akan apa yang dapat disebut sebagai sesuatu yang fundamental di sebalik realitas yang selama ini kita telah akrab dengannya. Dimana realitas yang kita akrabi selama ini, ibarat pucuk kecil gunung es yang muncul di permukaan.
    Hipotesisnya seperti yang telah fisikawan Bohm tawarkan, adalah serupa hamparan (eksplisit) dan lipatan (implisit). Dan asumsinya adalah, terdapat dinamika proyeksi dari keutuhan (implisit) yang menampakkan realitas bervariasi (eksplisit). Tentu saja, setiap dari kita menangkap variasi realitas yang berasal dari proyeksi keutuhan tersebut, alaminya berupa bagian-bagian berbeda dan seolah jelas tidak terdapat korelasi antara satu sama lain. Bagaimana kita semua dapat sepakat tentang adanya keutuhan itu ? Selagi hal ini masih tahap hipotesis dengan individu-individu fisikawan berusaha merumuskan dalam kesan khusus masing-masing.
    Atau memang seperti ini adanya, bahwa masing-masing dari kita memang telah ditetapkan kapasitasnya. Adalah kapasitas penerimaan informasi dari variasi dari keutuhan tersebut. Disini sekaligus mempertegas, bahwa pada dasarnya memang tiada produk gagal atau balau dalam alam semesta. Sederhananya, bahwa variasi-variasi realitas (tatanan simetri) keseluruhannya adalah jelas merupakan bagian dari kesimetrian sempurna (tatanan kelompok).
    Tapi bagaimana dengan kita mempertimbangkan antara prinsip copernicus dan prinsip antropik. Jika mulanya adalah kesimetrian sempurna (singularitas) dan setelahnya muncul suatu dinamika (ekspansi ruang-waktu) yang mensyaratkan laju peningkatan entropi (hukum termodinamika kedua), tentu hal ini menunjukkan adanya balau atau acak. Bagaimana kita dapat mengklaim posisi kita istimewa sedang kenyataan kita hadir dari kemungkinan acak dan balau ? Bahwa, makhluk berkesadaran di planet lain juga memiliki hak klaim istimewa yang sama. Atau bahkan, benda mati seperti sebongkah batu di sungai pun pada esensinya juga memiliki klaim sebanding.
    Namun, apakah kita dapat yakin bahwa sungguh terdapat mula dari alam semesta dan apakah gerak dan dinamika tersebut sungguh ada ? Jika tidak demikian, maka laju peningkatan entropi itu dapat kita kaji ulang. Bahwa, pada dasarnya alam semesta tidak sungguh memiliki permulaan, dinamika dan gerak hanyalah ilusi. Adalah ilusi dari proyeksi lipatan (tatanan implisit) diluar dimensi kesadaran kita.
    Sampai disini, ada baiknya kita melihat dari sudut pandang lain adalah dimensi psikologi manusia yang terbebas dari pengaruh dimensi fisik. Interpretasi-interpretasi terhadap hierarki kesadaran realitas yang masih syarat akan konsep sistem bebas nilai ini akan terus berproses tanpa ujung, sebab hierarki realitas tersebut tereduksi hanya sebatas pada hierarki realitas material. Maka icon-icon suci seperti Tuhan pun dapat dilarikan oleh imajinasi liar manusia pada konsep-konsep Tuhan idealnya masing-masing.
    Berangkat dari hal ini, saya menyarankan untuk mengkaji artikel Psikoanalisis (Freud) yang diimbangi dengan beberapa konsep mistis dari C.G. Jung seperti Sinkronisitas dan Ketidaksadaran kolektif. Atau dalam bidang biologi, saya menyarankan artikel dari Rupert Sheldrake tentang Morphic Resonance. Dengan cara ini, saya harapkan dapat menemukan beberapa relevansi dan korelasinya dengan ajaran mistik para Sufi dan ilmu tasawuf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s