Hipotesis Simulasi dan Hal Lain yang Tidak Saya Percayai

Oleh: Sabine Hossenfelder
28 Februari 2013
Sumber: backreaction.blogspot.com

Beberapa tahun lalu di SciFoo saya mengikuti sesi Nick Bostrom, direktur Future of Humanity Institute, yang menguraikan kemungkinan bahwa kita hidup dalam simulasi komputer dan seseorang dapat mencabut stekernya, dengan demikian sengaja atau kebetulan menghapus seluruh umat manusia.

Keanu ReevesPikiran saya terus-menerus hanyut kembali ke sesi Bostrom. Anda mungkin berpikir, membahas probabilitas kepunahan manusia akibat perang, penyakit, atau musibah bisa menyebabkan insomnia. Hipotesis simulasi secara khusus adalah sesuatu yang mengisi mimpi indah dan mimpi buruk—agama modern dengan pemrogram mahakuasa. Maka tidak heran jika hipotesis simulasi populer di internet, kendati Keanu Reeves jelas punya peran dalam kepopuleran ini, yang kini memberi saya alasan untuk menghias blog dengan fotonya.

Tapi meski terkadang puyeng oleh pertanyaan tentang sifat realitas, hipotesis simulasi bukan termasuk hal yang membuat saya terjaga di malam hari (bukan pula Keanu Reevs, terimakasih sudah bertanya). Setelah melakukan sedikit pencarian jiwa, saya sadar bahwa saya tidak percaya pada hipotesis simulasi untuk alasan yang sama sebagaimana tidak percaya penculikan alien. Sebelum sastra sains fiksi dan tokoh-tokoh aliennya menjadi populer, tidak ada yang namanya penculikan alien. Justru masyarakat umumnya menganggap mereka kerasukan setan. Hari ini diyakini bahwa kelumpuhan tidur (sleep paralysis) mungkin merupakan pangkal halusinasi dan pengalaman keluar tubuh (out-of-body experience), sebuah topik yang menarik, tapi intinya di sini adalah budaya populer menciptakan hipotesis, dan budaya mutakhir adalah batas kolektif imajinasi kita.

Masyarakat hari ini mempertimbangkan gagasan bahwa realitas adalah simulasi komputer sebagaimana kaum intelektual pasca Newton menganggap alam semesta adalah mesin jam. Teori alam semesta mesin jam terasa ganjil hari ini, setelah kita tahu banyak hal yang tak mampu dilukiskan oleh mekanika Newtonian. Tapi waktu itu orang-orang biasa mengenakan wig aneh dan kaum wanita berdiam diri dalam gaun, hampir tak bisa berjalan, apalagi bernafas, jadi mereka tak tahu apa-apa. Dan ada kemungkinan, 200 tahun dari sekarang, hipotesis simulasi akan sama ganjilnya dengan ide pemindahan lemak dari bokong ke bibir atau membuat catatan dengan menggosok grafit pada kertas.

Cara pengungkapan yang lebih ilmiah adalah bahwa hipotesis simulasi menciptakan persoalan kebetulan, mirip persoalan kebetulan untuk konstanta kosmologis. Pada konstanta kosmologis, persoalan kebetulannya adalah begini: sepanjang perluasan alam semesta, materi menipis dan konstanta tetap konstan. Kenapa kita kebetulan hidup dalam periode di mana keduanya mempunyai harga hampir sama? Untuk hipotesis simulasi, persoalan kebetulannya adalah begini: kenapa kita kebetulan hidup dalam periode di mana kita menemukan sarana pengoperasian alam semesta?

Bagi saya, itu terlalu kebetulan untuk dianggap masuk akal. Saya akan tuliskan ini sebagai korolari Prinsip Imajinasi Terhingga: “Hanya karena manusia tidak atau tidak bisa membayangkan sesuatu bukan berarti itu tidak atau tidak bisa eksis.” Korolari: “Jika manusia mengajukan hipotesis berdasarkan sesuatu yang baru mereka ketahui untuk diimajinasikan, kemungkinan besar itu adalah artefak budaya dan tidak relevan secara fundamental.” Walau ada kemungkinan imajinasi manusia hari ini merupakan mundurnya wawasan ilmiah, hasrat untuk jadi istimewa sangat memperkuat keyakinan pada kemungkinan ini.

Dengan demikian, cara lain untuk mengatasi persoalan ini adalah meminta bukti ilmiah penopang hipotesis simulasi. Telah ada penelitian tentang ini, dan terkadang tampil di Arxiv, seperti makalah tahun lalu yang mempelajari kemungkinan bahwa Sang Simulator menjalankan QCD kekisi canggih. Saya rasa itu menarik dan saya salut dengan para penulisnya atas penerapan gagasan ilmiah pada hal-hal samar (untuk upaya-upaya lain, silakan cek daftar rujukan mereka). Sayang, skenario yang dipikirkan Bostrom jauh lebih buruk daripada skenario mereka. Sebagaimana dia jelaskan dalam makalah ini, untuk menghemat daya kalkulasi, hanya bagian realitas sedang teramati yang disimulasi:

“Dalam rangka memperoleh simulasi pengalaman manusia yang realistis, tidak banyak yang diperlukan [tidak mensimulasi keseluruhan alam semesta] – cuma hal-hal yang disyaratkan guna menjamin manusia simulasi, yang berinteraksi secara normal dengan lingkungan simulasi mereka, tidak melihat suatu ketidakberesan.”

Jadi Anda takkan pernah melihat efek jarak kekisi terhingga karena kapanpun Anda menengok, semua kesimetrian dipulihkan. Jahat. Ini juga menciptakan persoalan ilmiah lain.

Pertama-tama, Anda butuh proses di mana swa-keinsyafan tercipta dari bit-bit sederhana, kecuali Anda ingin mendiami populasi dengan tangan [secara manual]. Dan untuk mencegah makhluk swa-insyaf melihat batas simulasi, Anda butuh program pemantau yang mengidentifikasi kapan bagian-bagian swa-insyaf berupaya melakukan pengamatan dan persisnya pengamatan mana. Lalu Anda perlu memasok pengamatan ini kepada mereka, agar pengamatannya sama dengan yang mereka peroleh jika Anda menjalankan simulasi penuh. Ini mungkin bekerja dengan baik dalam beberapa kasus, contohnya fluktuasi vakum, karena tak seorangpun betul-betul peduli apa yang dilakukan fluktuasi vakum ketika tidak ditengok. Namun jika Anda punya sistem yang kompleks, penurunan kompleksitas secara sistematis dan pemompaannya kembali sangatlah sulit, jika bukan mustahil.

Ambil contohnya sebuah sistem yang masih agak sederhana, semisal galaksi. Jika tak seorangpun mengarahkan teleskop ke sana, Anda tak mau ambil pusing dengan evolusi waktunya. Tapi kemudian bagaimana Anda memastikan pengamatan-pengamatan di waktu berlainan adalah konsisten? Dan kemudian ada kemungkinan, di suatu tempat di galaksi yang tidak manusia perhatikan, berkembang makhluk berakal yang suatu hari kelak mendarat di planet Bumi. Jika rancangan simulasi Anda tidak memperhitungkan peristiwa-peristiwa semacam ini, berarti ia antroposentris. Ini juga menimbulkan pertanyaan, untuk apa ambil pusing dengan 7 miliar orang? Bukankah satu pulau mencukupi, dan kita selebihnya muncul dan lenyap demi menghibur para penghuni pulau? Saya jadi ingat, saya harus pesan pesawat ke Islandia.

Guna menghindari permasalahan ini, Sang Simulator akan memakai metode lebih sederhana: halangi pengamatan yang berpotensi menguji batasan, sebagaimana sulitnya menjangkau perbatasan Dark City. Dan tiba-tiba semua jadi masuk akal, bukan? Semua pemangkasan anggaran riset baru-baru ini, bahkan untuk bidang semacam fisika teoritis, mesin wawasan paling irit yang berjalan cukup dengan menggosok grafit di atas kertas. Itu semua untuk menghalangi kita dari menemukan batas-batas simulasi kita. Nah, jika menyapa pemrogam yang menjalankan simulasi tempat tinggal kita bukanlah argumen untuk mendukung riset dasar, maka saya tak tahu [argumen] apa lagi. Saya serahkan gagasan ini kepada kalian semua, dan memesan pesawat sebelum saya lenyap lagi.

One thought on “Hipotesis Simulasi dan Hal Lain yang Tidak Saya Percayai

  1. Beberapa komentar saya sebelumnya memiliki inti yang saling terkait satu sama lain. Saya berharap pihak penerjemah mempertimbangkan komentar-komentar saya sebelumnya dengan seksama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s