“Teori Multiverse” Berpandangan Alam Semesta Adalah Matriks Realitas Virtual

Oleh: Paul Davies
22 Juli 2004
Sumber: www.redicecreations.com

Komentar: Bukankah menakjubkan bahwa para ilmuwan akhirnya harus mengakui rancangan alam semesta begitu sempurna hingga mengisyaratkan adanya perancangan cerdas, tapi mereka tetap berusaha menghindari penjelasan yang mencakup istilah Tuhan.

Teori multiverse telah menelurkan teori lain—bahwa alam semesta kita adalah simulasi, tulis Paul Davies.
Teori multiverse telah menelurkan teori lain—bahwa alam semesta kita adalah simulasi, tulis Paul Davies.

Jika Anda pernah berpikir hidup adalah mimpi, tenang saja. Beberapa ilmuwan tersohor mungkin sependapat. Para filsuf sudah lama bertanya apakah memang ada dunia nyata di luar sana, ataukah “realitas” hanyalah kilasan imajinasi kita.
Lalu datanglah fisikawan quantum, yang menyingkap alam ketidakpastian atom ala Alice in Wonderland, di mana partikel-partikel bisa berupa gelombang, dan benda padat larut ke dalam pola samar energi quantum.

Dan sekarang kosmolog ikut-ikutan, menyatakan bahwa apa yang kita persepsikan sebagai alam semesta mungkin sebetulnya tidak lebih dari simulasi raksasa.

Cerita di balik pernyataan janggal ini berawal dari pertanyaan menjengkelkan: kenapa alam semesta begitu ramah hayati? Sudah lama kosmolog dibingungkan oleh fakta bahwa hukum alam seolah diramu dengan lihai untuk memperkenankan munculnya kehidupan. Ambil contohnya unsur karbon, bahan vital yang menjadi dasar seluruh kehidupan. Itu tidak dibuat dalam [peristiwa] big bang yang melahirkan alam semesta. Justru, karbon dimasak di jeroan bintang-bintang raksasa, yang lantas meledak dan memuntahkan jelaga ke segenap alam semesta.

Proses yang menghasilkan karbon adalah reaksi nuklir rumit. Ternyata, keseluruhan rantai peristiwa tersebut perkara yang amat ketat, meminjam kata-kata Lord Wellington. Jika gaya yang menjaga kesatuan nukleus atom sedikit lebih kuat atau sedikit lebih lemah, reaksi takkan bekerja dengan benar dan kehidupan mungkin tak pernah ada.

Mendiang astronom Inggris Fred Hoyle begitu terpesona oleh kebetulan bahwa gaya nuklir mempunyai kekuatan tepat untuk menghasilkan makhluk seperti dirinya. Dia memproklamirkan alam semesta adalah “konspirasi terencana”. Karena ini terdengar mirip sekali dengan pemeliharaan ilahi, para kosmolog bersusah-payah mencari jawaban ilmiah untuk teka-teki keramah-hayatian kosmik.

Yang mereka hasilkan adalah alam semesta jamak, atau “multiverse”. Teori ini menyatakan apa yang kita sebut “alam semesta” bukanlah alam semesta. Ia adalah fragmen inifinitesimal dari sistem yang jauh lebih akbar dan rumit di mana kawasan kosmik kita, betapapun luasnya, hanya melambangkan satu gelembung ruang di antara gelembung-gelembung lain yang tak terhitung, atau alam semesta saku (pocket universe).

Keadaan jadi menarik ketika teori multiverse digabung dengan ide-ide dari fisika partikel subatom. Bukti terus menggunung bahwa apa yang fisikawan anggap hukum ajeg karunia Tuhan mungkin lebih mirip regulasi lokal, berlaku di petak kosmik kita, tapi beda di alam semesta saku lainnya. Jika bepergian ke satu triliun cahaya di luar galaksi Andromeda, Anda mungkin berada di alam semesta yang gravitasinya sedikit lebih kuat atau elektronnya sedikit lebih berat.

Mayoritas alam-alam semesta lain ini tidak harus mengandung kebetulan-kebetulan setelan halus yang diperlukan untuk munculnya kehidupan; mereka tandus, jadi terus tidak terlihat. Hanya di alam-alam semesta Goldilocks seperti milik kita, di mana aspek-aspeknya ternyata tepat (murni kebetulan), makhluk berperasaan akan timbul dan takjub oleh betapa ramah hayatinya alam semesta mereka.

Itu ide apik, dan sangat populer di kalangan ilmuwan. Tapi itu membawa implikasi ganjil. Karena jumlah total alam semesta saku tidak terbatas, harus ada sekurangnya satu yang bukan cuma berpenghuni, tapi juga didiami oleh peradaban maju—komunitas berteknologi dengan kemampuan komputer memadai untuk menciptakan kesadaran buatan. Bahkan, sebagian ilmuwan komputer berpikir teknologi kita hampir menggapai mesin berpikir.

Tinggal satu langkah kecil dari penciptaan pikiran buatan pada mesin menuju pensimulasian seluruh dunia virtual untuk dihuni makhluk simulasi. Skenario ini jadi familiar sejak dipopulerkan oleh film-film The Matrix.

Kini sebagian ilmuwan menyatakan itu harus diambil serius. “Barangkali kita adalah simulasi…ciptaan suatu entitas tertinggi atau super,” renung Astronomer Royal Inggris, Sir Martin Rees, penganjur kukuh teori multiverse. Dia bertanya-tanya apakah keseluruhan alam semesta fisik adalah aplikasi di dalam realitas virtual, sehingga “kita ada dalam matriks ketimbang fisika itu sendiri”.

Adakah justifikasi untuk mempercayai ide sinting ini? Tentu saja, kata Nic Bostrom, filsuf di Universitas Oxford yang bahkan punya situs khusus untuk topik ini (www.simulation-argument.com). “Karena komputernya begitu canggih, mereka bisa menjalankan banyak simulasi,” tulisnya dalam The Philosophical Quarterly.

Jadi jika ada peradaban berkemampuan simulasi kosmik, maka alam-alam semesta palsu yang mereka ciptakan akan cepat berkembangbiak melampaui jumlah alam semesta asli. Biar bagaimanapun, realitas virtual jauh lebih murah daripada yang asli. Jadi berdasarkan statistik sederhana, seorang pengamat acak seperti saya atau Anda kemungkinan besar adalah makhluk simulasi di dunia palsu. Dan dipandang dari dalam matriks, kita tak pernah bisa menyebut perbedaannya.

Atau bisa? John Barrow, rekan Martin Rees di Universitas Cambridge, penasaran apakah para simulator akan bersusah-payah dan berhambur-hambur menjadikan realitas virtual tahan penyalahgunaan. Jangan-jangan jika menengok cukup cermat, kita akan menangkap pemandangan tertatih-tatih.

Dia bahkan mengisyaratkan bahwa malfungsi dalam sejarah simulasi kosmik kita sudah ditemukan oleh John Webb di Universitas NSW. Webb menganalisa cahaya dari quasar-quasar jauh, dan menemukan sesuatu yang ganjil terjadi sekitar 6 miliar tahun lampau—kecepatan cahaya bergeser tipis. Mungkinkah ini berarti para simulator sedang meléng?

Harus diakui, saya turut bertanggungjawab atas kekacauan ini. Tahun lalu saya menulis sebuah artikel untuk The New York Times. Isinya menyatakan, sekali teori multiverse keluar, skenario-skenario mirip Matrix pasti mengekor. Kesimpulan saya: mungkin seharusnya kita mempertahankan skeptisime sehat terhadap konsep multiverse sampai hal ini dijernihkan. Tapi jauh dari meredakan teori, itu justru menggenjot antusiasme terhadapnya.

Bagaimana akhir semua itu? Jelek, barangkali. Setelah para simulator tahu kita mengenali mereka, dan permainan sudah habis, mereka mungkin kehilangan minat dan memutuskan menekan tombol “hapus”. Demi kebaikan Anda, jangan percaya sepatah katapun tulisan saya ini.

Tentang penulis: Paul Davies adalah profesor ilmu alam di Australian Centre for Astrobiology Universitas Macquarie. Buku terbarunya adalah How to Build a Time Machine.

2 thoughts on ““Teori Multiverse” Berpandangan Alam Semesta Adalah Matriks Realitas Virtual

  1. Inilah kesimpulan-kesimpulan yang dapat dikatakan berbahaya dari kajian Fisika modern sekarang ini. Jelas dapat dipahami, mereka para Fisikawan itu seolah kehilangan titik patokan sebagai tujuan akhir, yang sebaliknya mereka malah terus bersemangat melampaui yang seharusnya jadi batasan. Interpretasi-interpretasi itu tak pernah sampai pada ujungnya dan semakin lama makna murni itu hilang atau bahkan makna itu sendiri sepenuhnya hilang.

    Kesan posisi bahwa kehadiran kita adalah yang teristimewa, dan yang seolah alam telah mempersiapkan dengan segalanya telah dirancang hanya untuk kehadiran kita. Semua kesan tersebut dapat ditelusuri sebagai suatu sifat subjektif dari prinsip antropik.

    Asumsikan dengan kita mempertimbangkan Zona Goldilock adalah tempat istimewa dimana segala aspek dan kondisinya memungkinkan untuk berlangsungnya kehidupan. Kita bayangkan probabilitasnya, ada milyaran galaksi dan trilliun planet disetiap galaksinya, kita hitung probabilitas pada skala yang besar, bahkan kalau ada multiuniverse yang jumlahnya tak hingga. Walaupun diantara universe-universe tersebut hanya memungkinkan ada eksistensi antara 10 atau 100 kehidupan cerdas seperti kita. Dengan ini saja cukup, membalik argumen antropik itu menjadi prinsip Copernicus. Dimana tempat kita tidak betul-betul istimewa, sebab ada kita-kita yang lain yang barangkali berjumlah tak hingga. Yang ditempatkan serampangan disetiap alam semesta-alam semesta.

    Apalagi jika diantara makhluk cerdas yang memiliki kesempatan untuk eksis diantara planet dan alam semesta tersebut, diantara mereka didasarkan pada skala kardashev tentu wajar terdapat mereka yang memiliki tipe peradaban IV. Tentu saja kita ini hanya objek mainan mereka. Tinggal dalam alam semesta matrix ilusi buatan mereka. Anda bisa pahami bagaimana Tuhan dapat direduksi sejauh ini ?

    Saya kembali menyarankan akan lebih bermanfaat jika artikel-artikel terjemahan yang muatannya mendalam ini dapat ditelusuri sampai pada akar-akarnya. Mubazir jika makna terdalamnya hanya segelintir orang yang memahami dan malah akan berbahaya jika orang hanya memahami makna luarnya saja. Yang kemudian menimbulkan banyak miskonsepsi dangkal dan menjurus pada kesesatan.

    Akan lebih baik jika ada forum diskusi terbuka untuk membedah artikel-artikel terjemahan ini.

    1. Hmm… ini selalu jadi masalah pertama di posisi kami. Menerjemahkan apa-apa yang di luar sana banyak orang paham DAN kami sendiri tidak paham (mengingat kami hanya penerjemah awam).

      Aneh rasanya bila menyadari bahwa kami tampak asyik “bermain” dalam bidang yang tidak kami pahami–di hadapan sekian pengamat kompeten dari berbagai cabang ilmu (boleh jadi banyak pakar melintas di sini). Jadi, kepada para pengamat bijak, baik yang apresiatif, persuasif, maupun yang kalem, tak sungkan kami sampaikan bahwa seringkali kami pikir rutinitas ini lebih karena terlanjur dilakukan, dan bukan karena sebuah alasan/pemahaman sempurna yang bisa kami arahkan di mana pengunjung dapat membaca apa maksud penerjemahan kami.

      Masalah selanjutnya bagi kami adalah, ternyata bahasan kami menuntut pandangan utuh. Fisika, matematika, agama, filsafat, kosmologi, biologi, psikologi, logika, sosial, komunikasi, bahasa, sejarah, dan lain-lain. Dan blog ini takkan mampu memberikannya. Karena “tugas” kami hanya menerjemahkan materi yang nantinya diharapkan orang-orang terbantu dengan adanya materi terjemahan kami.

      Adapun tentang materi yang, ketika disimak permukaannya saja, sudah jelas berseberangan dengan Islam, menyesatkan, atau hanya menimbulkan kesan keren; kami mungkin tak bisa memberi catatan memuaskan bagi pembaca (bahkan jika mau jujur, materi semacam itu mungkin akan terlarang sejak awal meski niatnya hanya untuk perbandingan). Ada sekian artikel di blog ini mungkin yang bersinggungan dengan ateisme, panteisme, wihdatul wujud, sufistik, dan sebagainya, yang kami yakini sendiri secara terbatas bahwa itu menjurus pada kesesatan yang nyata.

      Bagi mereka yang paham, alasannya sudah jelas, bahwa menerangkannya menuntut semacam kompetensi dan integritas. Seseorang akan lebih memilih mengutip sendiri dan menerangkan detail kesalahannya kepada yang berkepentingan dibanding menerjemahkan seluruhnya supaya dibaca oleh setiap orang yang bahkan tidak punya kepentingan sama sekali.

      Namun demikian, apakah itu berarti kami berlepas diri dari tanggungjawab?

      Masalah berikutnya bagi kami adalah, ternyata sains berkembang pesat seiring subjektivitas pemangkunya (penuturnya/penemunya). Aktualisasi apa yang mesti kami berikan dalam tanggungjawab pemahaman dengan mencoba mengikuti seluruh apa yang mereka pahami?

      Sekalipun boleh dikatakan aksi, maka aksi ini tentu bersinggungan dengan lingkungan di mana setiap penghuninya punya latarbelakang sendiri. Andaikan kami misalnya, hanya mengkopi langsung dari sumbernya tanpa penerjemahan, kami yakin bahwa meskipun pembaca tahu kami berlatarbelakang sama dengan mereka, blog ini takkan menjadi sesuatu yang mesti diperhatikan. Sementara pengutipan dengan sebuah catatan tidak mungkin dilakukan dengan tepat bila sebenarnya lingkungan punya kemampuan mengolah sumber aslinya sendiri dengan cara yang identik dengannya, yakni memandang apa yang dipandang penulis aslinya.

      Ini membuat kami harus punya keinginan untuk menerjemahkan apa yang kami perlukan dan tidak, berdasarkan kata kunci tertentu.

      Nah, kesan yang muncul karena posisi kami yang tidak jelas sama sekali ini, tidak memahami tapi malah menerbitkan, tidak bisa menjelaskan tapi malah menentukan; bukan semata-mata urusan pemahaman, tapi juga karena ekspresi lingkungan di mana kesan ini berkembang adalah sama cepatnya.

      Kurang tepat kiranya bila tindakan kami, justru kami tuntun dengan naifnya pada cara berpikir sedemikian tanggapnya, bila kami pikir itu hanya bentuk pengamatan.

      Dan apa jadinya bila terlalu atraktif menyimak dinamika tersebut? Sekalipun para ilmuwan melubangi teori big bang dengan mengajukan multiverse, pada akhirnya itu hanya menambah deret pertanyaan mereka sendiri: “Adakah yang bertambah di alam semesta [selain koordinat]?” Atau, sekalipun para ilmuwan mengindera sentuhan di alam semesta dengan informasi dan kesadaran, itu hanya tertambat pada naluri/sifat mereka sebagai penghuninya, bukan posisinya (atau definisinya). Menurut kami, semua itu bertolakbelakang dengan cara memahami keunikan. Dan bila kami terlalu menyesuaikan diri dengan potensi yang mereka hitung, maka ini terlalu tersembunyi karena “alangkah bodohnya kami” mengintip pandangan mereka dengan mata mereka.

      Dengan segala kerendahan hati, setiap Muslim boleh menyatakan bahwa banyak artikel di blog ini akan menggiring banyak penyimpangan, entah karena kurang dalam, kurang spesifik, terlalu terbuka untuk umum, atau hanya untuk terkesan menakjubkan. Tapi justru di situlah bukti hasrat manusia diungkap dari yang sebelumnya mengendap, tentang bagaimana mereka memperlakukan zaman dengan berlandaskan hukum dan keyakinan tertulis mereka.

      Subjektivitas akan terus mengalir, karena bergerak semakin liar pada hasrat pencarian. Sementara kami berkeyakinan, dasar dari objektivitas di luar sana adalah “Memikirkan Penciptaan”, di mana setiap pembaca sendiri mesti memegang erat kalimat tauhid (لا اله الا الله محمد رسول الله) untuk menyadari betapa dalam implikasinya. Cukuplah itu jadi petunjuk.

      Mohon maaf jika ada kalimat kami yang menyimpang dari Islam dan studi sains. Kami tidak mengharapkan blog ini menyesatkan pikiran manusia, secara langsung maupun tidak. Dan jika ada yang tampak jelas menyesatkan di blog ini, tidak sulit untuk memposting komentar dan koreksi tentangnya pada judul terkait. Terima kasih atas tanggapannya.

      Wallahu ‘alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s