Oleh: Natalie Wolchover dan Peter Byrne
3 November 2014
Sumber: www.quantamagazine.org

Pengujian hipotesis multiverse mensyaratkan pengukuran apakah alam semesta kita tipikal secara statistik di antara alam-alam semesta yang tak terhingga macamnya. Tapi ketakterhinggaan mengacaukan statistik.

Teori inflasi abadi memberi peran kepada alam semesta kita sebagai salah satu dari banyak gelembung tak terhitung di laut yang membusa abadi. (Olena Shmahalo/Quanta Magazine)
Teori inflasi abadi memberi peran kepada alam semesta kita sebagai salah satu dari banyak gelembung tak terhitung di laut yang membusa abadi. (Olena Shmahalo/Quanta Magazine)

Jika fisika modern dianggap benar, semestinya kita tak berada di sini. Dosis energi amat kecil yang merembesi ruang hampa, yang pada tingkat lebih tinggi dapat merobek-robek kosmos, adalah satu triliun triliun triliun triliun triliun triliun triliun triliun triliun triliun kali lebih kecil dari prediksi teori. Dan massa kerdil boson Higgs, yang kekecilan relatifnya memungkinkan terbentuknya struktur-struktur besar semisal galaksi dan manusia, kurang-lebih 100 kuadtriliun kali lebih rendah dari ekspektasi. Penaikan [besaran] konstanta-konstanta ini sedikit saja akan mengakibatkan alam semesta tidak dapat dihuni.

Guna menerangkan kemujuran kita, para kosmolog terkemuka seperti Alan Guth dan Stephen Hawking membayangkan alam semesta kita sebagai salah satu dari banyak gelembung tak terhitung di laut yang membusa abadi. “Multiverse” ananta ini memuat alam-alam semesta yang konstanta-konstantanya tersetel ke setiap harga potensial, termasuk beberapa alam semesta asing, seperti milik kita, yang beratribut tepat untuk menunjang kehidupan. Dalam skenario ini, kemujuran kita tidak terhindari: gelembung istimewa ramah kehidupan adalah satu-satunya yang dapat kita ekspektasikan dan saksikan.

Banyak fisikawan merasa jijik terhadap hipotesis multiverse, menganggapnya pengelakan besar-besaran. Tapi seiring tertatihnya upaya-upaya pelukisan alam semesta kita sebagai struktur yang niscaya dan berdiri sendiri, mazhab multiverse terus tumbuh.

Masalahnya tetap: bagaimana menguji hipotesis ini. Para pendukung ide multiverse harus membuktikan, di antara alam-alam semesta langka yang mendukung kehidupan, alam semesta kita adalah tipikal secara statistik. Dosis tepat energi vakum, massa tepat boson Higgs yang terlalu ringan, dan anomali-anomali lainnya harus punya peluang tinggi dalam subhimpunan alam-alam semesta layak huni. Jika atribut-atribut alam semesta ini masih terasa tidak tipikal bahkan di subhimpunan layak huni, maka penjelasan multiverse gagal.

Tapi ketakterhinggaan menyabotase analisa statistik. Di multiverse yang berinflasi abadi, di mana gelembung apapun dapat terbentuk berkali-kali tanpa hingga, bagaimana Anda mengukur “tipikal”?

Guth, profesor fisika di Massachusetts Institute of Technology, berpaling kepada keajaiban alam untuk mengajukan “persoalan ukuran” ini. “Di alam semesta tunggal, sapi yang lahir dengan dua kepala lebih langka dari sapi yang lahir dengan satu kepala,” katanya. Sedangkan di multiverse yang mencabang tak terhingga, “terdapat sapi berkepala satu dalam jumlah tak terhingga dan sapi berkepala dua dalam jumlah tak terhingga. Bagaimana nasib rasio?”

Selama bertahun-tahun, ketidakmampuan untuk menghitung rasio kuantitas ananta telah mencegah hipotesis multiverse membuat prediksi yang dapat diuji tentang atribut-atribut alam semesta ini. Agar hipotesis tersebut tumbuh matang menjadi teori fisika baku, persoalan sapi berkepala dua harus dijawab.

Inflasi Abadi

Sebagai peneliti junior yang mencoba menjelaskan kehalusan dan keflatan alam semesta, Guth berusul di tahun 1980 bahwa pertumbuhan eksponensial sekejap pernah terjadi di awal Big Bang. Ini akan menyeterika setiap variasi ruang seolah-olah mereka adalah kerutan di permukaan balon menggembung. Hipotesis inflasi, kendati masih sedang diuji, berpadu dengan semua data astrofisika yang ada dan diterima luas oleh fisikawan.

Video: Kosmolog MIT Alan Guth, 67 tahun, mendiskusikan kenapa sapi berkepala dua menjadi masalah penting di multiverse ananta. (Katherine Taylor untuk Quanta Magazine)
Video: Kosmolog MIT Alan Guth, 67 tahun, mendiskusikan kenapa sapi berkepala dua menjadi masalah penting di multiverse ananta. (Katherine Taylor untuk Quanta Magazine)

Pada tahun-tahun berikutnya, Andrei Linde, kini di Stanford University, Guth dan kosmolog lain berargumen bahwa inflasi hampir pasti melahirkan alam-alam semesta dalam jumlah tak terhingga. “Sekali dimulai, inflasi tak pernah berhenti sama sekali,” jelas Guth. Di kawasan tempatnya berhenti—melalui semacam peluruhan yang mengendapkannya ke dalam status stabil—ruang dan waktu perlahan-lahan membengkak menjadi alam semesta seperti milik kita. Di tempat-tempat lain, ruang-waktu terus mengembang secara eksponensial, menggelembung selamanya.

Masing-masing ruang-waktu terputus menggelembung di bawah pengaruh kondisi awal berbeda-beda yang terkait dengan peluruhan energi dalam besaran bervariasi. Sebagian gelembung mengembang dan kemudian menyusut, sementara sebagian lain menelurkan cucuran anak alam semesta tiada akhir. Para ilmuwan menduga multiverse yang berinflasi abadi akan mematuhi kekekalan energi, kecepatan cahaya, termodinamika, relativitas umum, dan mekanika quantum. Tapi harga konstanta-konstanta yang dikoordinir oleh hukum-hukum ini kemungkinan besar bervariasi acak dari satu gelembung ke gelembung lain.

Paul Steinhardt, fisikawan teoritis di Princeton University dan salah seorang kontributor awal teori inflasi abadi, memandang multiverse sebagai “cacat fatal” dalam argumentasi yang turut dia galakkan, dan dia tetap anti-multiverse vokal hingga hari ini. “Alam semesta kita punya struktur sederhana dan alami,” ujarnya di bulan September. “Gagasan multiverse janggal, tidak alami, tidak dapat diuji dan, lama-kelamaan, berbahaya bagi sains dan masyarakat.”

Steinhardt dan kritikus lain yakin hipotesis multiverse membelokkan sains dari semata-mata menjelaskan atribut alam. Setelah pertanyaan mendalam tentang materi, ruang, dan waktu dijawab dengan anggun dalam seabad terakhir lewat teori-teori yang lebih manjur, bagi mereka menyebut sisa atribut tak terjelaskan sebagai “acak/sembarang” terasa seperti kepasrahan. Di sisi lain, keacakan terkadang menjadi jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan ilmiah, seperti ketika para astronom terdahulu mencari kebertatanan dalam orbit-orbit planet yang serampangan di tata surya, tanpa hasil. Seiring diterimanya kosmologi inflasi, semakin banyak fisikawan mengakui bahwa multiverse berisikan alam-alam semesta acak mungkin saja eksis, sebagaimana eksisnya kosmos penuh sistem bintang yang diatur oleh untung-untungan dan kebalauan.

“Saat saya mendengar tentang inflasi abadi pada 1986, perut saya jadi mual,” kata John Donoghue, fisikawan di Massachusetts University, Amherst. “Tapi begitu dipikirkan lebih jauh, itu masuk akal.”

Satu Untuk Multiverse

Hipotesis multiverse memperoleh daya tarik besar pada 1987, ketika peraih Nobel Steven Weinberg memakainya untuk memprediksi energi infinitesimal yang merembesi ruang hampa, bilangan yang dikenal sebagai konstanta kosmologis, dilambangkan dengan huruf Yunani Λ (lambda). Energi vakum bersifat menolak secara gravitasi, artinya ia membuat ruang-waktu meregang. Alhasil, alam semesta dengan harga Λ positif akan mengembang—bahkan semakin cepat seiring tumbuhnya ruang hampa—menuju masa depan sebagai kehampaan tanpa materi. Alam semesta dengan Λ negatif akhirnya menyusut dalam “big crunch” (“mamahan besar”).

Fisikawan belum mengukur harga Λ di alam semesta kita pada 1987, tapi laju perluasan kosmik yang relatif tenang mengindikasikan harganya hampir nol. Ini melesat saat dihadapkan dengan kalkulasi mekanika quantum yang mengisyaratkan Λ seharusnya besar sekali, menandakan densitas energi vakum begitu besar hingga dapat mengoyak atom. Entah bagaimana, rasanya alam semesta kita sangat encer.

Weinberg berpaling kepada konsep bernama seleksi antropik sebagai tanggapan terhadap “kegagalan berkelanjutan dalam menemukan penjelasan mikroskopik atas kekecilan konstanta kosmologis,” sebagaimana dia tulis dalam Physical Review Letter (PRL). Dia berdalil, bentuk-bentuk kehidupan, yang darinya para pengamat alam-alam semesta dihasilkan, mensyaratkan eksistensi galaksi. Oleh sebab itu, satu-satunya harga Λ yang dapat diamati adalah harga yang memungkinkan alam semesta mengembang cukup pelan agar materi menggumpal menjadi galaksi. Dalam makalah PRL-nya, Weinberg mengabarkan kemungkinan harga maksimum Λ di alam semesta yang mengandung galaksi. Itu adalah prediksi multiverse atas densitas energi vakum paling potensial yang akan teramati, berhubung pengamat harus eksis untuk mengamatinya.

Satu dekade kemudian, para astronom menemukan bahwa perluasan kosmos sedang mencepat pada laju yang memancang Λ pada angka 10-123 (dalam satuan “densitas energi Planck”). Harga persis nol harusnya mengimplikasikan kesimetrian tak dikenal dalam hukum mekanika quantum—sebuah penjelasan tanpa multiverse. Tapi harga kecil absurd ini tampak acak. Dan terasa sangat dekat dengan prediksi Weinberg.

“Itu keberhasilan besar, dan sangat berpengaruh,” kata Matthew Kleban, teoris multiverse di New York University. Prediksi tersebut kelihatannya menunjukkan bahwa multiverse bisa punya daya penjelasan sama sekali.

Menempel ketat keberhasilan Weinberg, Donoghue dan rekan-rekan memakai pendekatan antropik yang sama untuk menghitung harga potensial massa boson Higgs. Higgs membagikan massa kepada partikel-partikel unsur lain, dan interaksi ini menaikkan atau menurunkan massanya dalam efek umpan-balik. Umpan-balik ini diduga akan menghasilkan massa Higgs jauh lebih besar daripada harga teramati; berarti massanya seolah telah tereduksi oleh penetralan tak sengaja antara efek-efek semua partikel individual. Kelompok Donoghue berargumen, Higgs yang tak sengaja berukuran kecil ini patut diharapkan, mengingat adanya seleksi antropik: andai boson Higgs lima kali lebih berat, maka unsur-unsur kompleks penyebab kehidupan, seperti karbon, tidak dapat muncul. Jadi, alam semesta berisi partikel-partikel Higgs jauh lebih berat tidak mungkin teramati.

Hingga belakangan ini, penjelasan utama atas kecilnya massa Higgs adalah teori bernama supersimetri, tapi versi-versi paling sederhana dari teori ini telah gagal melewati ujian komprehensif di Large Hadron Collider dekat Jenewa. Kendati alternatif baru telah diusulkan, banyak fisikawan partikel yang beberapa tahun silam menganggap multiverse tidak ilmiah kini dengan enggan membuka diri pada ide tersebut. “Saya harap ia enyah,” kata Nathan Seiberg, profesor fisika di Institute for Advanced Study, Princeton, N.J., yang berkontribusi pada supersimetri di tahun 1980-an. “Tapi kita harus hadapi kenyataan.”

Namun, meski dorongan untuk teori multiverse yang prediktif telah bertambah, para peneliti menyadari prediksi-prediksi Weinberg dan lain-lain terlalu lugu. Weinberg menaksir Λ terbesar yang cocok dengan pembentukan galaksi-galaksi, tapi itu sebelum astronom menemukan “galaksi kerdil” mini yang dapat terbentuk di alam semesta di mana Λ seribu kali lebih besar. Alam-alam semesta lebih lazim ini juga bisa mengandung pengamat, sehingga alam semesta kita terasa tidak tipikal di antara alam-alam semesta teramati. Di sisi lain, galaksi kerdil kiranya mengandung lebih sedikit pengamat dibanding galaksi ukuran penuh, sehingga alam semesta berisi galaksi kerdil saja akan punya kesempatan lebih kecil untuk teramati.

Para peneliti sadar, membedakan antara gelembung teramati dan tak teramati tidaklah cukup. Untuk secara akurat memprediksi atribut-atribut alam semesta kita, mereka perlu menimbang kemungkinan mengamati gelembung-gelembung tertentu berdasarkan jumlah pengamat yang dikandungnya. Di sini masuklah persoalan ukuran.

Mengukur Multiverse

Guth dan ilmuwan lain mencari ukuran untuk mengukur peluang mengamati berbagai jenis alam semesta. Ini akan memungkinkan mereka membuat prediksi tentang bermacam-macam konstanta fundamental di alam semesta ini, yang kesemuanya punya peluang tinggi untuk teramati. Upaya awal para ilmuwan melibatkan pembangunan model-model matematis inflasi abadi dan penghitungan sebaran statistik gelembung-gelembung teramati berdasarkan berapa banyak dari setiap tipe muncul dalam selang waktu tertentu. Tapi dengan waktu sebagai ukuran, jumlah akhir alam semesta tergantung pada bagaimana ilmuwan mendefinisikan waktu terlebih dahulu.

Fisikawan Berkeley Raphael Bousso, 43 tahun, melakukan ekstrapolasi dari fisika black hole untuk menemukan cara baru mengukur multiverse, cara yang sukses menjelaskan banyak fitur alam semesta kita. (Courtesy Raphael Bousso)
Fisikawan Berkeley Raphael Bousso, 43 tahun, melakukan ekstrapolasi dari fisika black hole untuk menemukan cara baru mengukur multiverse, cara yang sukses menjelaskan banyak fitur alam semesta kita. (Courtesy Raphael Bousso)

“Orang-orang mendapat jawaban berlainan tergantung pada kaidah pancung acak yang mereka pilih,” kata Raphael Bousso, fisikawan teoritis di Universitas California, Berkeley.

Alex Vilenkin, direktur Institute of Cosmology di Universitas Tufts, Medford, Massachusetts, telah mengusulkan dan mencampakkan beberapa ukuran multiverse dalam dua dekade terakhir, mencari ukuran yang akan melampaui asumsi sembarangnya. Dua tahun lalu, dia dan Jaume Garriga dari Universitas Barcelona, Spanyol, mengusulkan sebuah ukuran dalam bentuk “pemantau” kekal yang membumbung di multiverse dan menghitung peristiwa-peristiwa, misalnya jumlah pengamat. Frekuensi peristiwa lantas dikonversi menjadi probabilitas, dengan begitu memecahkan persoalan ukuran. Tapi usulan ini mengasumsikan hal mustahil secara terang-terangan: ajaibnya sang pemantau selamat dari pemamahan gelembung-gelembung, seperti avatar dalam video game yang sekarat dan kembali hidup.

Pada 2011, Guth dan Vitaly Vanchurin, kini di Universitas Minnesota Duluth, membayangkan “ruang sampel” terhingga, iris ruang-waktu yang terpilih secara acak di dalam multiverse tak terhingga. Seiring meluasnya ruang sampel, mendekati tapi tak pernah menyentuh ukuran tak terhingga, ia menembus alam-alam semesta gelembung yang mengalami peristiwa-peristiwa semisal pembentukan proton, pembentukan bintang, atau perang antargalaksi. Peristiwa-peristiwa dicatat di bank data hipotetis sampai penyampelan berakhir. Frekuensi relatif beragam peristiwa dapat diterjemahkan menjadi probabilitas dan karenanya menyediakan daya prediksi. “Apapun yang dapat terjadi akan terjadi, tapi probabilitasnya tidak setara,” kata Guth.

Tetap saja, di luar keanehan pemantau kekal dan bank data khayali, kedua pendekatan ini mensyaratkan pemilihan sembarang tentang peristiwa mana saja yang mesti berfungsi sebagai perlambang kehidupan, dan karenanya sebagai perlambang pengamatan alam-alam semesta yang akan dihitung dan dikonversi menjadi probabilitas. Proton penting untuk kehidupan; perang antariksa tidak—tapi apakah para pengamat membutuhkan bintang, ataukah ini konsep kehidupan yang terlalu sempit? Dengan ukuran manapun di antara keduanya, pilihan bisa diambil agar peluang untuk mendiami alam semesta seperti punya kita semakin tinggi. Derajat spekulasi menaikkan keraguan.

Wajik Sebab-Akibat

Bousso pertama kali menjumpai persoalan ukuran di tahun 1990-an sebagai mahasiswa pascasarjana yang bekerja dengan Stephen Hawking, sesepuh fisika black hole. Black hole membuktikan tak ada yang namanya pengukur mahatahu, sebab orang di dalam “horison peristiwa black hole”, yang darinya cahaya tak bisa lolos, mempunyai akses informasi dan peristiwa berbeda dari orang di luar, dan sebaliknya. Bousso dan spesialis black hole lain jadi berpikir, kaidah demikian “harus lebih umum”, ungkapnya, sehingga menghalangi solusi yang segaris dengan [gagasan] pemantau kekal. “Fisika bersifat universal, jadi kita perlu merumuskan apa yang dapat, secara prinsip, diukur oleh pengamat.”

Wawasan ini menuntun Bousso untuk mengembangkan ukuran multiverse yang menghapus ketakterhinggaan dari persamaan. Alih-alih memperhatikan seluruh ruang-waktu, dia mengarah pada petak terhingga multiverse bernama “wajik sebab-akibat” (causal diamond), melambangkan petak terbesar yang dapat diakses oleh pengamat tunggal yang berjalan dari awal waktu ke akhir waktu. Perbatasan terhingga sebuah wajik sebab-akibat dibentuk oleh persimpangan dua kerucut cahaya, menyerupai berkas-berkas sinar berpencar dari sepasang lampu senter yang saling dihadapkan dalam gelap. Satu kerucut menunjuk ke arah luar sejak momen terciptanya materi pasca big Bang—kelahiran terawal pengamat—dan kerucut lain membidik ke belakang dari cakupan terjauh horison masa depan kita, momen ketika wajik sebab-akibat menjadi kehampaan kosong tak berwaktu dan pengamat tak bisa lagi mengakses informasi yang menghubungkan sebab dengan akibat.

Multiverse tak terhingga dapat dibagi menjadi kawasan-kawasan terhingga bernama wajik sebab-akibat yang berkisar dari wajik besar langka berisi banyak pengamat (kiri) hingga wajik kecil lumrah berisi sedikit pengamat (kanan). Dalam skenario ini, wajik sebab-akibat seperti milik kita seharusnya cukup besar untuk melahirkan banyak pengamat tapi cukup kecil untuk relatif lumrah. (Olena Shmahalo/Quanta Magazine, sumber: Raphael Bousso, Roni Harnik, Graham Kribs, dan Gilad Perez)
Multiverse tak terhingga dapat dibagi menjadi kawasan-kawasan terhingga bernama wajik sebab-akibat yang berkisar dari wajik besar langka berisi banyak pengamat (kiri) hingga wajik kecil lumrah berisi sedikit pengamat (kanan). Dalam skenario ini, wajik sebab-akibat seperti milik kita seharusnya cukup besar untuk melahirkan banyak pengamat tapi cukup kecil untuk relatif lumrah. (Olena Shmahalo/Quanta Magazine, sumber: Raphael Bousso, Roni Harnik, Graham Kribs, dan Gilad Perez)

Bousso tidak tertarik pada apa yang berlangsung di luar wajik sebab-akibat, di mana peristiwa-peristiwa yang bervariasi tanpa batas dan berulang tanpa akhir tidak dapat diketahui, sebagaimana informasi kejadian di luar black hole tidak dapat diakses oleh manusia naas yang terjebak di dalamnya. Jika kita mengakui bahwa wajik terhingga, “sebagai satu-satunya yang dapat diukur oleh siapapun, adalah juga satu-satunya yang ada,” ungkap Bousso, “maka sebetulnya tak ada lagi persoalan ukuran.”

Pada 2006, Bousso sadar, ukuran wajik sebab-akibat miliknya dapat digunakan sebagai sarana netral untuk memprediksi harga konstanta kosmologis. Wajik sebab-akibat berharga Λ lebih kecil akan menghasilkan lebih banyak entropi—kuantitas yang terkait dengan kebalauan, atau penurunan energi—dan Bousso berpostulat bahwa entropi dapat berfungsi sebagai perlambang kompleksitas dan karenanya perlambang keberadaan pengamat. Tak seperti cara-cara penghitungan pengamat lainnya, entropi bisa dikalkulasi dengan memakai persamaan termodinamika terpercaya. Dengan pendekatan ini, kata Bousso, “membandingkan alam-alam semesta tidak lebih eksotis dari membandingkan kolam air dengan kamar penuh udara.”

Memanfaatkan data astrofisika, Bousso dan rekan-rekannya, Roni Harnik, Graham Kribs, dan Gilad Perez, mengkalkulasi laju keseluruhan produksi entropi di alam semesta kita, utamanya berasal dari cahaya yang berhambur dari debu kosmik. Kalkulasinya memprediksi kisaran statistik harga Λ. Harga dikenal, 10-123, berada persis di sebelah kiri angka median. “Jujur kami tidak melihat kedatangannya,” kata Bousso. “Itu betul-betul menyenangkan, karena prediksinya sangat sehat.”

Membuat Prediksi

Ukuran wajik sebab-akibat milik Bousso dan rekan-rekannya kini menggapai sejumlah keberhasilan. Itu menawarkan solusi bagi sebuah misteri kosmologi yang dijuluki sebagai persoalan “kenapa sekarang?”: kenapa kita kebetulan hidup di masa ketika efek-efek materi dan energi vakum sebanding, sehingga perluasan alam semesta akhir-akhir ini beralih dari melambat (menandakan masa didominasi materi) ke mencepat (masa didominasi energi vakum). Teori Bousso mengindikasikan, wajar-wajar saja kita berada di titik waktu ini. Kebanyakan entropi dihasilkan, dan karenanya kebanyakan pengamat eksis, ketika alam semesta mengandung porsi energi vakum dan materi yang setara.

Pada 2010, Harnik dan Bousso memakai ide mereka untuk menjelaskan keflatan alam semesta dan besaran radiasi inframerah yang dipancarkan oleh debu kosmik. Tahun lalu, Bousso dan kolega Berkeley-nya, Lawrence Hall, melaporkan bahwa pengamat yang terbuat dari proton dan neutron, seperti kita, akan hidup di alam semesta di mana jumlah materi biasa dan dark matter sebanding, seperti halnya di sini.

“Saat ini petak sebab-akibat terlihat sangat bagus,” kata Bousso. “Banyak hal bekerja dengan baik tanpa diduga, dan setahu saya tidak ada ukuran-ukuran lain yang hampir meniru keberhasilan ini atau menampilkan keberhasilan sebanding.”

Akan tetapi ukuran wajik sebab-akibat tidak memadai. Ia tidak mengukur probabilitas alam-alam semesta yang harga konstanta kosmologisnya negatif. Dan prediksi-prediksinya sangat bergantung pada asumsi tentang alam semesta awal, di permulaan kerucut cahaya yang menunjuk ke masa depan. Tapi para peneliti di bidang ini mengakui prospeknya. Dengan melangkaui ketakterhinggaan yang menjadi dasar persoalan ukuran, wajik sebab-akibat “adalah oase keterhinggaan yang ke dalamnya kita dapat membenam taring kita,” kata Andreas Albrecht, fisikawan teoritis di Universitas California, Davis, dan salah seorang arsitek awal [teori] inflasi.

Kleban, yang, seperti Bousso, mengawali karir sebagai spesialis black hole, menyebut ide petak sebab-akibat semisal wajik penghasil entropi “pasti menjadi bahan solusi final untuk persoalan ukuran.” Dia, Guth, Vilenkin, dan banyak fisikawan lain menganggapnya pendekatan manjur dan kuat, tapi mereka terus mengerjakan ukuran-ukuran multiverse masing-masing. Sebagian kecil menganggap masalah ini sudah terpecahkan.

Setiap ukuran melibatkan banyak asumsi, bukan semata bahwa multiverse eksis. Sebagai contoh, prediksi kisaran [harga] konstanta seperti Λ dan massa Higgs selalu berspekulasi bahwa gelembung-gelembung cenderung mempunyai konstanta lebih besar. Jelas, ini adalah penelitian yang masih berkembang.

“Multiverse dianggap sebagai persoalan terbuka atau sebaliknya barang absurd,” kata Guth. “Tapi pada akhirnya, jika multiverse memang menjadi bagian baku sains, itu karena ia merupakan penjelasan paling masuk akal atas penyetelan halus yang kita jumpai di alam.”

Boleh jadi para teoris multiverse ini telah memilih tugas yang tak mungkin tuntas. Boleh jadi mereka takkan pernah menyelesaikan persoalan sapi berkepala dua. Sebagian peneliti sedang menempuh rute lain menuju pengujian multiverse. Alih-alih menggeledah kemungkinan-kemungkinan persamaan yang tak terhingga banyaknya, mereka memindai langit terhingga demi mencari jalan terakhir—getaran sayup dari tubrukan gelembung di masa purba.

Perbaikan: Artikel ini direvisi pada 4 November 2014, menghapus kalimat yang tidak utuh menerangkan perkembangan mutakhir dalam kalkulasi banyak parameter konstanta fundamental. Kemudian direvisi lagi pada 23 Januari 2015 untuk mengakui Andrei Linde sebagai perintis teori inflasi abadi.

Advertisements

One thought on “‘Persoalan Ukuran’ Multiverse

  1. Besar, terbentuk dan tersusun dari miliaran yang kecil. Multiverse, representasip dari miliaran kecil itu. Ruang angkasa terdiri dari miliayan galaksi dan bintang, terbentuk dari atom-atom dan ternyata atom ini terbentuk dari partikel-partikel sub atom. Partikel sub atom ini dapat dipelajari dengan mekanika kuantum hingga sekecil 10 minus pangkat 18, batas terkecil kemampuan manusia saat kini. Bila kedudukan kita ada pada atom maka terlihat besar yang paling besar dan kecil yang paling kecil adalah sama, miliaran juga. Bila ini dihubungkan dengan bentuk mikro maupun makro kosmos berbentuk melengkung maka keduanya akan saling bertemu. Kesimpulan hipotesa, multiverse sebetulnya adalah universe, begitupun sebaliknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s