‘Pemberontak’ Tanpa Ph.D.

Oleh: Thomas Lin
26 Maret 2014
Sumber: Quanta Magazine

Perbincangan dengan fisikawan matematis Freeman Dyson mengenai elektrodinamika quantum, perubahan iklim, dan proyek kesayangan terbarunya.

Video: “Saya punya keterampilan dengan alat matematika, dan saya memainkan alat-alat ini sebaik-baiknya karena ini indah,” kata Freeman Dyson dalam wawancara panjang-lebar.
(Sinematografi oleh Ben Henretig dari Micro-Documentaries. Penyuntingan oleh Aaron Biscombe. Musik oleh Dexter Britain. Ilustrasi oleh Robbert Dijkgraaf.)

Freeman Dyson—fisikawan matematis kenamaan dunia yang membantu menemukan elektrodinamika quantum bersama fisikawan pemain drum bongo Richard Feynman (peraih Nobel) dan lain-lain, menciptakan banyak teknik matematika, memimpin tim perancang reaktor nuklir daya rendah yang menghasilkan isotop medis untuk rumahsakit penelitian, bermimpi menjelajahi tata surya dalam kapal antariksa yang digerakkan bom nuklir, menulis buku-buku sains teknis dan populer, menulis lusinan resensi untuk The New York Review of Books, dan menginjak usia 90 pada Desember lalu—sedang merenungkan persoalan matematika baru.

“Ada satu golongan persoalan yang baru saja Freeman temukan,” kata fisikawan dan biolog komputasi William Press, kolega dan sahabat lamanya. “Itu pasti persoalan tak terpecahkan dan well-posed dan ada sesuatu di dalamnya yang membenarkan kejeniusan khasnya.” (Well-posed artinya mempunyai solusi unik yang harganya turut berubah jika kondisi awal berubah—penj.) Kejeniusan ini, ujarnya, melambangkan semacam “akal bulus dan cetusan” yang tak dimiliki mayoritas fisikawan: “Kemampuan untuk melihat lebih jauh di dunia konsep matematika dan seketika melihat jalan menuju cakrawala jauh, yaitu solusi.”

Press mengaku mengajukan sejumlah persoalan kepada Dyson yang tidak “memenuhi kualifikasi”. Bulan dan tahun berlalu tanpa tanggapan. Tapi ketika Press menanyakan “dilema tahanan berulang”, sebuah variasi skenario teori permainan klasik yang mengadukan kerjasama dengan pengkhianatan, keesokan harinya Dyson menjawab. “Barangkali cuma perlu satu menit baginya untuk melihat solusi,” kata Press, “dan setengah jam untuk menuliskannya.”

Bersama-sama, mereka mempublikasikan sebuah makalah dalam Proceedings of the National Academy of Sciences di tahun 2012 yang banyak dikutip.

Tahun berikutnya, Press bepergian ke Princeton, N.J., untuk pesta dua hari di Institute for Advanced Study, rumah intelektual Dyson selama enam dasawarsa terakhir. Sebagai perayaan ulangtahun Dyson ke-90, ada banyak sekali kue, hutan lilin putih panjang, 350 tamu—termasuk 16 cucunya—dan ceramah-ceramah pengakuan atas prestasi eklektiknya dalam matematika, fisika, astronomi, dan urusan publik. H.T. Yau dari Universitas Harvard memulai bagian matematika, masuk ke dalam karya Dyson mengenai universalitas matriks acak. George Andrews dari Pennsylvania State University dan Kathrin Bringmann dari Universitas Cologne menyusul dengan implikasi sumbangsih awal Dyson bagi teori bilangan, yang dia renungkan sejak SMU. William Happer, fisikawan di Universitas Princeton dan sesama skeptis terhadap bahaya perubahan iklim antropogenik, menutup hari pertama dengan ceramah berjudul provokatif “Kenapa Pemanasan Global Berhenti?”

Cerita sains fiksi karangan Dyson yang tak rampung, Sir Phillip Roberts’s Erolunar Collision, ditulis di awal 1930-an saat dia berumur 8 atau 9 tahun.
(Courtesy Dyson Family Collection)

Dyson mengakui dirinya kontroversial bila sudah menyangkut ilmu iklim. Tapi dalam wawancara satu jam dengan Quanta Magazine Desember lalu, dia berkata: “Secara umum, saya jauh lebih konformis.” Tetap saja, dia gemar menulis tentang sains sebagai aksi pemberontakan. Dalam antologi esai dan resensi tahun 2006, The Scientist as Rebel, Dyson menulis, “Saya beruntung diperkenalkan dengan sains di sekolah sebagai kegiatan subversif anak muda.” Dengan perhatian khas pada isu-isu sosial, dia lantas menasehati para orangtua: “Kita harus coba perkenalkan anak-anak kita kepada sains hari ini sebagai pemberontakan terhadap kemiskinan, kenakalan, militerisme, dan ketidakadilan ekonomi.”

Pada hari kedua pesta tahun 2013 di Princeton, setelah banyak pembicara menceritakan kolaborasi dengan Dyson, bergantian menjamu dan memanggang kebrilianannya, Press mengambil arah berbeda. Merujuk pada kolaborasi mereka dalam dilema tahanan, Press—profesor di Universitas Texas, Austin—berkata, “rasanya sedikit ekstrim jika saya bernostalgia dengan Freeman tentang sebuah makalah yang baru saja dipublikasikan”. Sebagai gantinya, dia melukiskan temuan terbarunya sendiri tentang percobaan klinis “adaptif” yang lebih aman, seraya menambahkan bahwa walaupun dia punya data komputasi kokoh, ternyata analisa matematikanya terlalu berat. “Andai saja saya mengerjakannya bersama Freeman—dan mungkin masih ada kesempatan untuk itu,” katanya merayu.

Komentar Press terbukti intuitif. Usai pesta, Dyson mulai mempertimbangkan persoalan itu—tanpa diketahui Press, yang baru tahu setelah Quanta menghubunginya di bulan Maret perihal “kolaborasi” baru ini. “Saya gembira itu ada dalam daftar rencananya!” ungkapnya. “Saya menanti apa yang akan dia hasilkan.”

Quanta Magazine mewawancarai Dyson di institut, hanya beberapa hari setelah ulangtahun ke-90. Berikut ini percakapan dalam versi suntingan dan diperingkas.

Quanta Magazine: Secara teknis, Anda pensiun dari Institute for Advanced Study 20 tahun silam. Apa yang Anda kerjakan sekarang?

Freeman Dyson: Dulu saya ilmuwan dan melakukan banyak kalkulasi. Itu dunia yang kompetitif, dan saat beranjak tua saya putuskan tidak akan lagi berkompetisi dengan anak-anak muda nan cerdas. Jadi saya menulis buku. Dan sekarang saya sudah menjadi peresensi buku untuk The New York Review of Books. Sekitar satu kali per bulan saya menulis resensi, kemudian mendapat banyak tanggapan dan korespondensi, orang-orang yang menemukan hal-hal tidak benar dari tulisan saya.

QM: Apa yang Anda lakukan sebelum menulis resensi buku?

FD: Saya terlatih sebagai matematikawan, dan saya masih matematikawan. Itu memang keterampilan saya, mengerjakan kalkulasi dan menerapkan matematika pada segala jenis persoalan, dan itu menuntun saya ke dalam fisika dan juga bidang-bidang lain, misalnya teknik dan bahkan sedikit biologi, terkadang sedikit kimia. Matematika berlaku pada segala hal. Itulah salah satu kesenangan menjadi matematikawan.

QM: Kenapa matematika?

FD: Saya rasa momen yang menentukan adalah membaca buku Men of Mathematics karya Eric Temple Bell. Bell adalah profesor di Caltech, dan dia menulis buku ini. Sebetulnya cuma koleksi hebat biografi para matematikawan. Sejarawan mencelanya sebagai romantisasi. Tapi yang hebat dari buku ini adalah Bell menunjukkan mayoritas matematikawan adalah bajingan dan orang-orang berkualitas campuran, bukan santo sama sekali, dan banyak dari mereka tak bermoral dan tidak terlalu pintar, dan tetap saja mereka berhasil mengerjakan matematika agung. Jadi buku itu berkata kepada anak kecil, “kalau mereka bisa, kenapa kau tidak?”

QM: Apa beberapa pertanyaan besar yang telah membimbing karir Anda?

FD: Saya bukan orang yang suka pertanyaan besar. Saya mencari teka-teki. Saya mencari persoalan menarik yang dapat dipecahkan. Saya tak ambil pusing apakah mereka penting atau tidak, jadi saya tidak terobsesi dengan pemecahan suatu misteri besar. Itu bukan gaya saya.

QM: Teka-teki macam apa yang pertama kali menggugah Anda?

FD: Saya mengawali sebagai matematikawan murni dan menemukan persoalan-persoalan yang timbul dari sifat bilangan, yang mana luar biasa licin, sulit, dan indah. Itu saat usia saya 17-an, persis di akhir masa SMU. Saya tertarik pada bilangan sebelum tertarik pada dunia nyata.

QM: Ada apa dengan bilangan hingga Anda ingin memahaminya?

FD: Itu seperti bertanya, “Kenapa pemain biola suka main biola?” Saya punya keterampilan dengan alat matematika, dan saya memainkan alat-alat ini sebaik-baiknya karena ini indah, sebagaimana musisi memainkan biola, tidak berharap mengubah dunia tapi semata karena dia cinta instrumen tersebut.

QM: Anda dikenal atas karya Anda dalam elektrodinamika quantum—yang mendeskripsikan interaksi antara cahaya, materi, dan partikel bermuatan—dan dalam pemecahan persoalan renormalisasi—yang membantu membersihkan matematika dari ketakterhinggaan yang tak dikehendaki. Bagaimana lahirnya karya itu?

FD: Saat saya tiba di Cornell pada 1947, baru saja berlangsung eksperimen indah di Columbia terhadap atom hidrogen. Atom hidrogen adalah atom paling sederhana, dan Anda pasti bisa memahaminya jika Anda memahami atom. Jadi, eksperimen-eksperimen ini dikerjakan oleh Willis Lamb dan mahasiswanya, Robert Retherford, di Columbia. Mereka mengamati perilaku halus hidrogen untuk pertama kalinya dengan memakai gelombang mikro guna memeriksa atom hidrogen, dan Lamb mendapat hasil amat presisi. Masalahnya, teori quantum tidak cukup bagus untuk menjelaskan hasil miliknya. Dick Feynman, seorang jenius mutlak, sudah paham kurang-lebih cara menjelaskannya tapi tidak bisa menerjemahkan ide-idenya ke dalam matematika biasa. Saya datang dan punya keterampilan matematika, memungkinkan mereka mengkalkulasi apa persisnya yang dikerjakan atom hidrogen, dan ajaibnya semua kalkulasi saya cocok dengan eksperimen, jadi ternyata teori itu benar.

Saya tidak menemukan hal baru—saya menerjemahkan ide-ide Feynman ke dalam matematika sehingga lebih dapat diakses oleh dunia, dan hasilnya saya jadi terkenal, tapi itu semua terjadi dalam waktu sekitar enam bulan.

QM: Apa itu membawa kepada persoalan lain yang ingin Anda gali?

FD: Saya dapat tawaran kerja dari mana-mana di Amerika dan juga Inggris, tapi masalahnya saya belum mau menetap dan menjadi profesor penuh beban dengan banyak mahasiswa. Maka saya kabur ke Inggris dan mengalami dua tahun bahagia di Birmingham tanpa tanggungjawab apapun dan terus mengerjakan persoalan lain.

Saya sangat tertarik pada perjalanan antariksa. Jadi hal asyik berikutnya yang saya lakukan adalah bekerja pada sebuah perusahaan di California bernama General Atomics selama dua tahun untuk membangun kapal antariksa. Di zaman itu, orang-orang mau mengambil segala macam resiko, dan segala macam skema gila mendapat dukungan. Jadi ada gerombolan anak muda gila ini—sang pemimpin adalah Freddie de Hoffman, yang pernah bekerja di Los Alamos [National Laboratory] dan tahu semua hal tentang bom nuklir—dan kami putuskan kami akan keliling tata surya dengan kapal antariksa yang digerakkan oleh bom nuklir. Kami akan luncurkan kapal itu ke ruang angkasa—“bom, bom, bom, bom,” sekitar empat bom per detik—naik sampai ke Mars dan sesudah itu Yupiter dan Saturnus, dan kami sendiri berniat pergi.

Freeman dan Imme Dyson bepergian ke Baikonur Cosmodrome di Kazakhstan, Maret 2009, untuk kunjungan kedua Charles Simonyi ke International Space Station.
(George Dyson)

QM: Apa yang terjadi dengan Project Orion?

FD: Saya menghabiskan dua tahun luar biasa di San Diego dengan mimpi besar: kapal antariksa. Kami bukan saja melakukan kalkulasi, kami juga menerbangkan model-model kecil berdiameter kurang-lebih satu meter dengan bahan peledak kimiawi, yang betul-betul menge-“bom, bom, bom, bom” beberapa kali beberapa ratus kaki di atas. Ajaibnya kami tak pernah terluka. Saya rasa, kami bahkan tak harus membeli bahan peledak. Kami punya teman Angkatan Laut yang mencurinya dari AL. Meski begitu, kami pinjam pangkalan ujicoba dari AL di mana kami melakukan tes penerbangan kecil-kecilan. Itu berlangsung dua tahun. Waktu itu sudah jelas kompetitor betul-betul akan menang. Kompetitornya adalah Wernher von Braun dan program Apollo, yang akan pergi ke bulan dengan roket biasa.

QM: Kapal antariksa Orion terdengar seperti impian anak kecil. Seberapa kecewa Anda saat “mimpi besar” ini tak terwujud?

FD: Tentu saja kami kecewa berat ketika ternyata Orion tak pernah terbang, tapi jelas itu akan mengotori pemandangan. Bom-bom ini menghasilkan jatuhan radioaktif saat naik menembus atmosfer, dan walaupun saat itu kita sudah meledakkan bom-bom di atmosfer untuk tujuan militer, yang jauh lebih besar daripada bom-bom usulan kami, tetap saja kami berkontribusi pada pencemaran umum, dan itulah kenapa proyek tersebut gagal, dan saya kira itu alasan bagus.

QM: Anda mendapat reputasi sebagai ilmuwan non-konvensional berpandangan kontrarian. Menurut Anda dari mana itu berasal?

FD: Saya rasa pendapat bahwa saya selalu suka menentang konsensus sains adalah salah besar. Faktanya, cuma ada satu subjek di mana saya menjadi kontroversial, yakni iklim. Saya menghabiskan mungkin 1 persen waktu saya untuk iklim, dan itu satu-satunya bidang di mana saya bertentangan dengan mayoritas. Secara umum, saya jauh lebih konformis, tapi kebetulan saya punya pandangan kuat tentang iklim karena saya merasa kelompok mayoritas sangat keliru, dan Anda harus pastikan mereka tidak bicara omong-kosong jika mengatakan sesuatu.

QM: Dengan mayoritas ilmuwan ada di sisi lain isu ini, apa yang dapat meyakinkan Anda untuk beralih haluan?

FD: Yang saya yakini adalah kita tidak memahami iklim. Jadi itu semacam posisi netral. Saya tidak bilang kelompok mayoritas pasti keliru. Saya bilang mereka tidak paham apa yang mereka lihat. Perlu banyak kerja keras sebelum persoalan ini dibereskan, jadi saya akan tetap netral sampai terjadi sesuatu yang baru.

QM: Anda menjadi profesor di Cornell tanpa pernah mendapat gelar Ph.D. Anda kelihatan bangga dengan fakta itu.

FD: Oh, ya. Saya bangga tidak punya Ph.D. Saya pikir sistem Ph.D. adalah najis. Itu diciptakan sebagai sistem untuk mendidik para profesor Jerman di abad 19, dan bekerja dengan baik di bawah keadaan itu. Itu bagus untuk sejumlah kecil orang yang akan menghabiskan hidup mereka sebagai profesor. Tapi sekarang itu sudah jadi semacam kartu serikat yang harus Anda miliki untuk mendapat kerja, entah sebagai profesor atau lainnya, dan ini tidak pantas. Itu memaksa orang-orang menyia-nyiakan bertahun-tahun hidup mereka dengan berpura-pura melakukan riset yang tidak cocok untuk mereka. Ujungnya, mereka mendapat selembar kertas yang menyatakan mereka terkualifikasi, padahal itu tak berarti apa-apa. Ph.D. memakan waktu terlalu lama dan menyurutkan wanita untuk menjadi ilmuwan, yang saya anggap sebagai tragedi besar. Jadi saya menentangnya seumur hidup, tapi tak berhasil sama sekali.

Musim panas 1955, di bawah Air Terjun Yosemite di California.
(Verena Huber-Dyson)

QM: Bagaimana Anda bisa lolos dari persyaratan itu?

FD: Saya beruntung karena mendapat pendidikan di masa Perang Dunia II. Situasi sangat kacau sehingga saya bisa lolos tanpa Ph.D. dan berakhir sebagai profesor. Sekarang itu mustahil. Jadi, saya sangat bangga tidak punya Ph.D. dan saya membesarkan enam anak dan tak satupun dari mereka punya gelar Ph.D., itu andil saya.

QM: Menilik karir Anda ke belakang, bagaimana pendekatan Anda terhadap sains berubah sepanjang puluhan tahun?

FD: Saya sudah aktif selama kira-kira 70 tahun, dan saya masih memakai matematika yang sama. Saya pikir hal utama yang berubah sebagai hasil dari komputer adalah besaran basis data. Sekarang kita punya banyak data dan sedikit sekali pemahaman. Jadi yang kita punya sekarang—saya lupa siapa yang bilang begini—adalah pulau-pulau pemahaman kecil di lautan informasi. Masalahnya adalah memperbesar pulau-pulau pemahaman.

QM: Menurut Anda, kemajuan ilmiah apa dalam waktu dekat ini yang akan berdampak besar pada masyarakat?

FD: Orang-orang sering bertanya kepada saya, hal penting apa yang akan terjadi selanjutnya dalam sains. Dan tentu saja, intinya adalah jika itu penting, itu sesuatu yang tidak kita sangka-sangka. Semua hal penting datang sebagai kejutan besar. Ada banyak contoh, tentunya. Dark energy adalah contoh terbaru. Apapun yang saya sebutkan tidak akan menjadi kejutan.

QM: Apa Anda sedang mengerjakan persoalan matematika?

FD: Pertanyaan “apa yang saya kerjakan dengan waktu saya?” adalah pertanyaan sulit. Saya tidak betul-betul mengerjakan sains secara kompetitif, tapi saya suka mempunyai persoalan untuk dikerjakan. Saya beruntung sekali memiliki seorang teman, Bill Press, yang ahli dalam percobaan klinis, yang ternyata merupakan persoalan matematika menarik.

Dia mempublikasikan sebuah makalah yang menjelaskan bagaimana melakukan percobaan klinis secara efektif dengan jumlah kehilangan nyawa minimum. Dia ahli komputer, jadi segala hal yang dia kerjakan dihitung dengan angka. Saya sudah tetapkan tugas saya berikutnya adalah menerjemahkan pekerjaannya ke dalam persamaan, sebagaimana pernah saya lakukan pada Feynman. Saya tak yakin apa ini akan berhasil, tapi itulah yang saya pikirkan saat ini.

QM: Apa arti pensiun bagi seseorang dengan begitu banyak pengejaran intelektual?

FD: Saat pensiun sebagai profesor institut, saya tetap memegang semua hak istimewa. Satu-satunya yang berubah adalah cek gaji tak lagi datang. Saya masih punya kantor dan semua bantuan kesekretariatan yang dibutuhkan, plus satu tempat di meja makan siang. Satu keuntungan lain adalah tak harus ikut rapat fakultas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s