Oleh: Tien Chew
5 September 2014
Sumber: ExpatGo

Warga Malaysia adalah sekelompok individu unik. Walaupun secara kolektif terdiri dari orang-orang dengan ras dan kepercayaan berlainan, kami semua berbagi kemiripan tertentu yang menjadikan kami orang Malaysia. Kebiasaan budaya, norma, idiosinkrasi, ciri kelakuan mendefinisikan siapa kami sebagai sebuah bangsa. Beberapa contoh karakteristik yang dimiliki oleh kebanyakan, jika tidak semua, orang Malaysia adalah kecintaan abadi pada makanan, kebutuhan tak terjelaskan untuk menambah kata “la/lah” di akhir setiap kalimat, atau bahkan sikap ya-bisa (Can-Do Attitude) “boleh” yang santai. Bagi orang asing, ciri-ciri ini kadang bisa membingungkan, menggelikan, aneh, atau menjengkelkan. Untuk lebih memahami Malaysia, pertama-tama Anda harus memahami orang-orangnya dan budayanya.

Sebagai panduan, berikut adalah 15 kebiasaan budaya Malaysia paling lazim yang ditemukan di seluruh pelosok.

1. Memanggil orang lebih tua dengan sebutan bibi atau paman

Orang Malaysia diajari sejak kecil untuk menghormati orang yang lebih tua. Untuk menunjukkan rasa hormat, kami memanggil semua orang yang lebih tua (kecuali mereka yang seusia kakek kami) dengan sebutan bibi atau paman, tak peduli apakah mereka kerabat atau bukan. Ya, ini mencakup “paman” kedai burger di jalan raya. Tonton dua video ini dan Anda akan tahu apa yang kami maksud.

2. Kebanyakan orang Malaysia tidak sadar waktu

Ada peribahasa di Malaysia ketika acara dan upacara terlambat dimulai, “Waktu Malaysia lah!” Kebanyakan orang Malaysia tidak memandang waktu sebagai komoditas, dan, alhasil, mereka sangat longgar, biasanya telat untuk rapat dan janji temu. Ini mungkin mengesalkan ekspatriat maupun penduduk lain.

3. Kenapa jalan kaki kalau bisa berkendara?

Orang Malaysia benci jalan kaki, sebagian berasal dari kombinasi iklim tropis panas dan rasa malas. Begitu kami tahu cara mengemudi, hilanglah hari-hari berjalan kaki. Karenanya lalu-lintas macet parah.

4. Parkir dobel adalah pemandangan lumrah

Kadang kami bisa menjadi pemarkir kreatif, sebuah istilah yang lebih baik untuk memanggil kami serampangan. Biasanya ini disebabkan oleh sejumlah individu yang memarkir dobel di sebelah, atau di depan, mobil lain di tempat yang ditunjuk, dan mengerjakan urusan mereka sendiri.

5. Kebanyakan dari kami ugal-ugalan saat berkendara

Bukan rahasia lagi bahwa pengendara Malaysia bisa sangat ugal-ugalan dan egois kalau soal etiket di jalan raya. Tidak menyalakan indikator sinyal, tailgating (mengikuti kendaraan depan terlalu rapat), tidak taat hukum, dan mengedip-ngedipkan lampu depan adalah sebagian dari hal-hal serampangan yang dilakukan pengendara di jalan raya, sehingga membahayakan nyawa setiap orang.

6. Kami memberi hadiah uang di musim perayaan dan acara pernikahan.

Negara kami punya banyak hari raya dan musim perayaan. Kebiasaan budaya yang kami miliki bersama adalah kedermawanan memberikan paket kecil berisi uang kepada tamu (biasanya orang yang lebih muda) di musim perayaan besar semisal Tahun Baru China, Hari Raya Idul Fitri, dan Deepavali. Ini juga hadiah lazim untuk pernikahan. Ketimbang bersusah-payah mencari kado sempurna, para tamu biasanya memberikan amplop uang kepada si pasangan baru.

7. Ada hadiah gratis?

Orang Malaysia suka barang gratis, sampai-sampai kami mengharapkannya setiap kami membeli sesuatu yang mahal, seperti mobil atau laptop. Dua kalimat favorit kami saat belanja adalah: “Ada hadiah gratis ah?” atau “Bisa diskon sedikit?”

8. Mengabaikan papan tanda atau peraturan publik

Karakter buruk lain yang diasosiasikan dengan sebagian orang Malaysia adalah ketidakacuhan mereka pada papan tanda atau peraturan publik. Mereka merokok di bukan area merokok, parkir di bukan area parkir, dan memakai lajur darurat dalam situasi bukan darurat di jalan bebas hambatan.

9. Menghabiskan terlalu banyak waktu di restoran mamak

Kita bisa bilang orang Malaysia cenderung menghabiskan terlalu banyak waktu di restoran mamak. Restoran mamak adalah tempat sempurna untuk menjangkau teman-teman sambil menikmati makanan murah, terutama restoran dengan layar besar yang menampilkan laga sepakbola terbaru.

10. Sarana multibahasa untuk menyampaikan pesan

Karena kami tumbuh besar dalam pertemanan dengan orang-orang dari beragam ras, kami berasimilasi dengan budaya-budaya lain di negara kami. Kebanyakan dari kami menguasai beberapa bahasa, cukup untuk dimanfaatkan dalam penyampaian pesan. Misal, “What! You went to eat without me, man?” bisa diulang dalam Manglish (Malaysian English) sebagai “What la wei! You pergi makan without me, macha?”

11. Mengawali percakapan dengan “Sudah makan?”

Orang Malaysia biasanya membuka percakapan dengan bertanya kepada lawan bicara apakah mereka sudah makan?, karena kami punya budaya yang sangat food-centric. Ini mirip dengan sapaan orang Inggris kepada satu sama lain, “How’s the weather like?” Para ekspatriat yang masih baru dengan kebiasaan budaya Malaysia sering merasa ini menggelikan atau membingungkan.

12. Memotong antrean

Memotong antrean bisa membuat marah orang-orang yang sudah menunggu giliran dengan sabar. Itu sangat tidak disukai. Walau demikian, orang-orang tak sabaran di Malaysia terkenal suka memotong anteran bilamana ada kesempatan, seperti ketika mengantre di bioskop atau jalan raya.

13. Tak ada kertas toilet di WC umum

Kendati WC umum sangat berlimpah di sebagian besar lokasi di seluruh pelosok, menemukan kertas toilet di WC-WC ini adalah bonus. Jika Anda perhatikan, kebanyakan di luar WC umum akan ada bibi atau paman, menjual paket kertas tisu kecil seharga 50 sen atau RM 1.

14. Kami selalu tahu di mana menemukan makanan terbaik

Kemampuan bawaan yang dimiliki orang Malaysia sejak lahir adalah rasa lapar tak terpuaskan akan makanan enak. Kami mengidamkan makanan enak setiap hari; sebagian besar dari kami mengaku tahu versi terenak masakan tertentu sampai terbukti sebaliknya.

15. Kami suka keluyuran di mal

Apa lagi rekreasi nasional favorit [kalau bukan ini]? Orang Malaysia suka menghabiskan waktu dan membuang waktu dengan melihat-lihat di mal, khususnya pada akhir pekan ketika mereka membawa keluarga untuk keliling kota. Tidak percaya? Lain kali saat Anda ke Ikea, perhatikan keluarga-keluarga yang keluyuran di ruang pamer, bersantai di sofa-sofa. Jangan tertipu, mereka tak berminat membeli.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s