Oleh: James Harbeck
6 Maret 2015
Sumber: BBC

Bahasa kasar (strong language) adalah lumrah bagi sebagian besar budaya, tapi apa yang menjadikan sebuah kata dianggap kotor, dan bagaimana umpatan bervariasi dari satu tempat ke tempat lain? James Harbeck menjelaskan.

Peringatan: Artikel ini mengandung bahasa kasar yang mungkin menyinggung sebagian pembaca.

Iblis! Penderita kanker! Piala tabernakel!

Alasan kenapa saya bisa mengatakan ini adalah karena saya menulis dalam bahasa Inggris, bukan bahasa Finlandia, Belanda, atau Prancis Quebec.

Anda mungkin berpikir definisi kata-kata “buruk” akan sama di seluruh dunia. Anda keliru. Bahasa kasar—serapah, perkataan kotor, apapun Anda menyebutnya—adalah khas.

Jika bahasa sehari-hari laksana kerak bumi dan tanah tempat kita mengolah hidup, maka bahasa kasar laksana gunung berapi dan geiser yang meletus lewatnya dari lapisan di bawah. Tradisi sosial kita menentukan bagian-bagian mana dari kerak tersebut yang merupakan titik tipis. Merasa yakin tentang sesuatu tidaklah cukup; itu harus punya pengaruh kemasyarakatan dan struktur kendali. Bahasa kasar seringkali melibatkan penyebutan yang Anda inginkan tapi tidak seharusnya diinginkan; minimal itu bertujuan menumbangkan struktur kekuasaan yang mungkin sedikit terlalu sewenang-wenang.

Kita cenderung menganggap kata-kata makian sebagai satu entitas, padahal mereka menjalankan beberapa fungsi khas. Steven Pinker, dalam The Stuff of Thought, mendaftar lima cara berbeda untuk berserapah: “secara deskriptif (Let’s fuck), secara idiomatis (It’s fucked up), secara abusif (Fuck you…!), secara empatik (This is fucking amazing), dan secara katarsis (Fuck!!!).” Tak satupun dari fungsi-fungsi ini mensyaratkan kata makian. Dalam rumpun bahasa Bikol (bahasa orang Filipina), terdapat kosakata amarah khusus—banyak kata mempunyai kata-kata alternatif yang mengacu pada hal sama tapi juga bermakna Anda marah. Dalam bahasa Luganda (sebuah bahasa Afrika), Anda bisa membuat kata hinaan hanya dengan mengganti awalan kelas kata bendanya—dari kelas untuk orang menjadi kelas untuk jenis objek tertentu, misalnya. Dalam bahasa Jepang, Anda bisa sangat menghina seseorang hanya dengan menggunakan bentuk “kau” yang tak tepat.

Tidak semua bahasa tabu (taboo language) tergolong sebagai kata makian. Sebagian bahasa tabu tetap bahasa kasar, sekalipun kita tidak menganggapnya sebagai “serapah”—julukan rasial, hinaan berdasar kecacatan dan orientasi seksual—tapi sebagian berkaitan dengan hal-hal yang tak mau Anda sebutkan lantaran pengaruhnya. Kata “bear” berasal dari kata untuk “brown” yang dipakai sebagai pengganti nama “true” binatang tersebut; tak seorangpun ingin mengucapkan nama ini kalau-kalau ia muncul. Di Afrika selatan, beberapa budaya mempunyai ungkapan ‘hormat’ yang diberlakukan pada kaum wanita sehubungan dengan keluarga suami: sebagai contoh, nama ayah mertua mereka tabu, begitupun kata apa saja yang berbunyi seperti namanya—tapi nama ayah mertua tidak lantas menjadi kata lontaran yang diteriakkan saat mereka sakit hati.

Induk Semua Hinaan

Kata-kata untuk alat kelamin adalah fokus bahasa kasar paling umum, jenis yang dipakai secara otomatis untuk lima fungsi milik Pinker. Anda dapat mengucapkan nama organ pria atau wanita saat merasa jengkel di China atau Rusia; di Italia, jika seseorang menyalip di jalan raya, Anda dapat berteriak “che cazzo”, yang bisa diterjemahkan sebagai “What the cock!” Tapi kata untuk organ wanita biasanya lebih terlarang. Penis adalah kunci kekuatan; vagina tetap terkunci kecuali bagi pria yang mempunyai kunci tepat. Namun sekuat apapun vittu dalam bahasa Finlandia, con Prancis dan derivatifnya (connard dan connasse) tidak lebih kuat dari jerk Inggris. Dan dalam bahasa Bikol Rinconada, bahasa orang Filipina, buray ni nanya (vagina ibu) biasanya digunakan sebagaimana kita menggunakan “Nuts!

Seks, walau diinginkan, adalah—dalam bagian pikiran yang marah dan agresif—tindakan menguasai, sesuatu yang dilakukan terhadap penerima lebih lemah. Padanan fungsional kata fuck dijumpai dalam banyak bahasa. Ini jelas terkait dengan agresi pria. Wanita diberi peran submisif. Tapi pria juga terikat dengan ibu yang mengasuhnya (kita tak usah baca tentang Freud, kan?). Jadi bahasa paling transgresif di banyak budaya melibatkan tindakan seksual terhadap ibu seseorang (kadang merinci alat kelaminnya). Budaya di mana ibu sering muncul dalam bahasa jelek andalan mencakup budaya Latin (Prancis kurang); juga Slavik, Balkan, Arab, China dan tetangganya. Kebetulan, budaya-budaya ini juga cenderung merupakan masyarakat keluarga besar, alih-alih keluarga inti. Sebagian serapah fuck merembet lebih luas, ke ayah (Bosnia), kakek, bahkan seluruh kerabat: Albania (qifsha robt “keluarga Anda”), Turki (sülaleni sikeyim “keluarga besar Anda”), Mandarin (cào nǐ zǔzōng shíbā dài “leluhur Anda sampai generasi ke-18”).

Moralitas adalah sistem kendali yang memelihara dominansi pria tapi juga tingkat keamanan untuk isteri. Pelacur menantang eksklusivitas isteri dan kepemilikan pria. Mungkin itu sebabnya kata untuk “whore” juga menjadi bahasa kasar sangat umum di banyak wilayah dunia—dan itu sebabnya dalam beberapa bahasa (seperti Luganda) kata-kata untuk alat kelamin dihindari: pelacur menggunakannya. Bahkan, budaya-budaya yang paling banyak berserapah tentang ibu cenderung banyak berserapah tentang pelacur juga. Mereka tidak muncul dalam bahasa China, tapi di seluruh dunia Slavik, kata untuk “whore” merupakan kata kasar penting; kurwa Polandia adalah padanan serba guna kata fuck. Bahasa Spanyol punya puta dan hijo de puta, bahasa Italia punya puttana, dan bahasa Prancis penuh dengan pelacur dan rumah bordil—dan tinja.

Omongan Kotor

Di kalangan budaya Kristen, garis antara budaya yang banyak berserapah tentang ibu dan pelacur dan budaya yang tidak, agak seperti garis antara budaya di mana Maria adalah bintang bersama Yesus dan budaya di mana Maria adalah peran pendukung. Jika Anda menyebut nama ibu seorang pria di Finlandia, contohnya, dia akan beranggapan Anda punya perselisihan pribadi dengan ibunya ketimbang sebagai usaha menyinggung dirinya. Ya, di Finlandia, istilah untuk alat kelamin wanita termasuk kata paling kasar yang tersedia. Sedangkan kata paling kasar lain adalah saatana (Satan), perkele (devil—dikonversi dari nama dewa petir pra-Kristen), dan helvetti (Hell). Kata-kata ini juga menjadi set andalan dalam bahasa Swedia, Norwegia, dan Denmark.

Para misionaris siksa neraka, membakar teror jahat ke dalam mereka. Bukti langsung kendali gereja juga tampak sedikit dalam bahasa Inggris (berabad-abad silam, berserapah dengan aneka bagian tubuh Kristus adalah seburuk-buruknya serapah; sekarang “damn” dan “hell” masih rapuh). Prancis mungkin menyukai putain dan con-nya, tapi di Quebece, yang hingga beberapa dasawarsa lalu sangat didominasi oleh Gereja Katolik, sebagian besar bahasa kasar dibentuk dari kata untuk barang-barang yang Anda jumpai di gereja: hostie (wafer komuni suci), tabernakel (tempat penyimpanannya), ciboire (wadahnya), dan calice (piala anggur).

Tinja dipilih dalam bahasa kasar di sedikit tempat daripada yang Anda kira. Itu muncul di sana-sini: di antaranya bahasa Fiji dan bahasa Austronesia lain, Arab, dan Albania. Di lingkaran Inggris-Prancis-Jerman, shit, merde, dan Scheiße adalah kata-kata jelek sebagai hasil dari kendali sosial yang fokus pada kebersihan (haruskah kita mengatakan anal retentiveness?). Tapi di Swedia, meski Anda bilang skit saat kesal, Anda bisa mengatakannya di depan nenek Anda. Tabu kebersihan lain muncul dalam beberapa bahasa. Kain yang Anda pakai untuk membersihkan bokong adalah bahasa jelek dalam Patois Jamaika.

Segelintir tempat memiliki ketakutan penyakit yang khusus. Anda bisa menggunakan “cholera!” sebagai kata lontaran katarsis dalam bahasa Polandia (jika Anda generasi tua) dan Anda bisa mendoakan kolera pada seseorang dalam bahasa Thailand. Banyak dari bahasa kasar Belanda memanfaatkan kanker, kolera, dan tipus; jika Anda ingin membuat sesuatu yang ofensif dalam bahasa Belanda, tambahkan saja kanker. “Penderita kanker” adalah hinaan sangat kasar. Kesehatan buruk sepertinya lebih mengusik bagi orang Belanda ketimbang pelanggaran standar moral.

Binatang juga bisa kotor, dan dipakai dalam banyak hinaan, tapi binatang umumnya tidak dekat dengan struktur kendali sosial berdasar moralitas, jadi mereka biasanya bukan sesuatu yang kita pikirkan sebagai kata makian—kecuali bila berasal dari rujukan terselubung, seperti guītóu (kepala penyu, mewakili penis) dalam bahasa Mandarin. Demikian pula, cacat mental sangat dipandang rendah, tapi meski hinaaan-hinaan sepadan “idiot” cukup lazim, hanya budaya Jepang yang menjadikannya salah satu kata kasar paling populer (baka). Struktur kendali sosial berbeda-beda dari satu negara ke negara lain, tapi mereka, bagaimanapun, dikembangkan oleh manusia yang sama di planet yang sama. Yang menggelegak adalah magma yang sama.

Jika Anda ingin mengomentari artikel ini atau apa saja yang Anda baca di BBC Culture, kunjungi laman Facebook kami atau kirim pesan di Twitter.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s