Oleh: Maria Popova
27 April 2015
Sumber: Brain Pickings

Kesempurnaan sarana dan kekacauan tujuan rupanya—menurut pendapat saya—menjadi ciri zaman kita. (Albert Einstein)

Yang menjadikan Albert Einstein (14 Maret 1879 – 18 April 1955) bertahan sebagai jenius modern quintesensial bukanlah semata-mata sumbangsih besarnya bagi sains tapi juga kepercayaan teguhnya pada jiwa manusia dan pada kapasitas kebaikan peradaban kita di hadapan keburukan tak terbantahkan sekalipun. Di puncak Perang Dunia II—tepat satu dasawarsa setelah korespondensinya dengan W.E.B. Du Bois yang tak banyak diketahui mengenai keadilan rasial dan tepat satu dasawarsa sebelum suratnya untuk seorang pemudi patah arang (kebetulan ibu dari seorang pembaca Brain Pickings) yang menegaskan kenapa kita hidup—Einstein menulis sebuah karangan berjudul The Common Language of Science, yang mengudara sebagai siaran radio untuk Science Conference London pada 2 Oktober 1941. Akhirnya itu dimasukkan dalam antologi tak tergantikan, Ideas and Opinions (perpustakaan umum), yang juga memberitahu kita pandangan Einstein tentang nilai kebaikan dan sifat kombinatif kreativitas.

Einstein menelusuri bagaimana bahasa berkembang sebagai alat untuk mengubah pikiran ke dalam ekspresi akustik dan berevolusi menjadi “instrumen penalaran”. Lalu dia berargumen bahwa sains adalah bahasa paling internasional—satu-satunya instrumen penalaran manusia yang dimiliki bersama—tapi metode ilmiah saja, tanpa arahan moral, tidak cukup untuk memastikan kesejahteraan peradaban kita.

Tapi ada satu aspek lebih samar dalam rekaman ini yang membuat bimbang—mungkin lebih terasa bagi mereka yang hidup dan berpikir bukan dalam bahasa ibu kita: inilah salah satu otak manusia paling luar biasa, yang berjuang mengartikulasikan kandungan gemilangnya dalam bahasa asing—perlahan-lahan, tidak sempurna, dengan kata-kata yang diukur susah-payah. Tak ada pengingat yang lebih bergemuruh tentang kecenderungan kronis kita untuk menganggap keberadaan aksen sebagai ketiadaan akal—seberapa sering orang-orang, bahkan yang bermaksud baik dan berpendidikan, mendengar cara bicara demikian dari seorang asing dan langsung menghakimi kecerdasannya lebih rendah daripada mereka?

“Kau harus beritahu dunia bagaimana memperlakukanmu [atau jika tidak] kau dalam masalah,” kata James Baldwin kepada Margaret Mead dalam perbincangan agung mereka mengenai identitas dan pengalaman imigran. Tapi sumber masalah utama dalam pengalaman imigran adalah ketidakmampuan dunia untuk membebaskan apa yang Anda katakan dari bagaimana Anda mengatakannya. Wajar jika kita mengira bahwa Einstein sekalipun—yang sewaktu kecil segan menggunakan bahasa ibunya—merasakan beban bias sosial tak sadar yang rentan kita alami.

Rekaman asli karangan ini, dalam suara Einstein sendiri yang beraksen indah, tak lain merupakan harta budaya. Bagian penting ditranskripsikan di bawah—silakan nikmati.

Video

Perkembangan mental individu dan caranya membentuk konsep sangat bergantung pada bahasa. Ini membuat kita sadar sejauh mana bahasanya memaksudkan mentalitasnya. Dalam hal ini, berpikir dan bahasa bertautan.

Apa yang membedakan bahasa sains dari bahasa sebagaimana kita pahami istilah ini sehari-hari? Mengapa bahasa sains bersifat internasional? Yang sains perjuangkan adalah ketajaman dan kejernihan konsep-konsep berkenaan dengan hubungan timbal-balik mereka dan kebersesuaian mereka dengan data inderawi.

Karakter supranasional konsep sains dan bahasa sains adalah berkat fakta bahwa mereka ditegakkan oleh para pemikir terbaik dari semua negara dan semua zaman. Dalam kesunyian, dan dalam usaha kooperatif terkait hasil akhir, mereka menciptakan alat-alat spiritual untuk revolusi teknis yang telah mentransformasi kehidupan umat manusia di abad-abad belakangan. Sistem konsep mereka berfungsi sebagai pedoman dalam sengkarut persepsi yang membingungkan hingga kita belajar menangkap fakta umum dari tinjauan khusus.

Harapan dan ketakutan apa yang diisyaratkan oleh metode ilmiah untuk umat manusia? Saya pikir ini bukan cara yang tepat untuk bertanya. Apapun yang akan dihasilkan oleh alat di tangan manusia tergantung sepenuhnya pada sifat tujuan yang hidup dalam umat manusia. Sekali tujuan-tujuan ini eksis, metode ilmiah menyediakan sarana untuk mewujudkannya. Tapi ia tidak bisa menyediakan tujuan. Metode ilmiah tidak akan membawa ke manapun, ia bahkan tidak akan lahir tanpa perjuangan menggebu-gebu untuk mendapat pemahaman jernih.

Kesempurnaan sarana dan kekacauan tujuan rupanya—menurut pendapat saya—menjadi ciri zaman kita. Jika kita tulus dan serius menginginkan keselamatan, kesejahteraan, dan perkembangan bebas bakat-bakat semua orang, kita takkan kekurangan sarana untuk mendekati status demikian. Jikapun hanya segelintir umat manusia memperjuangkan tujuan tersebut, superioritas mereka akan terbukti dengan sendirinya dalam jangka panjang.

Lengkapi dengan satu-satunya rekaman suara Virginia Woolf yang masih ada dan rekaman langka A.A. Milne membacakan Winnie the Pooh tahun 1929, lalu tinjau kembali jawaban Einstein terhadap pertanyaan seorang gadis kecil, apakah ilmuwan berdoa, dan korespondensinya dengan Freud menyangkut perang, perdamaian, dan sifat manusia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s