Oleh: Kevin Zawacki
Januari 2017
Sumber: Internet Health Report

Penerjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa lokal adalah satu cara mendukung Web menjadi sebhinneka mungkin.

Bagi pengguna Internet pertama kali, mempelajari Web berarti menguasai segenggam keterampilan inti: perambah, mesin pencari, kreasi konten.

Bagi pengguna Web yang tak pandai bahasa Inggris, ada langkah mutlak sebelum mengklik, mencari, dan berkreasi. Pertama, belajar bahasa Inggris. Kemudian belajar Web.

Internet menjengkal semua pelosok bumi, tapi kontennya hampir tidak sebhinneka cakupannya. Meski hanya seperempat dunia berbicara dalam bahasa ibu Inggris, 54% situs di dunia berbahasa Inggris.

Statistik yang sama-sama mencengangkan: meski lebih dari satu miliar orang berbicara dalam bahasa China, hanya sekitar 2% konten Web berbahasa China.

Tenaga pendorong di balik Web yang Inggris-sentris ini sebagian besar bersifat ekonomi. Di seluruh dunia, para kreator konten mengincar pasar paling besar dan paling menguntungkan, yang berada di Amerika Utara dan Eropa Barat. Tapi implikasinya jauh melampaui ekonomi, mempengaruhi dan mentransformasi budaya, perilaku, dan persepsi pengguna Internet.

Tak banyak orang memiliki pemahaman hebat seperti Heather dan Dwayne Bailey, tim suami-isteri di balik Translate.org.za, “jawara bahasa lokal di dunia digital” yang bersifat nirlaba.

Translate menyelenggarakan pelatihan, acara, dan lokalisasi piranti lunak. Usaha keluarga Bailey untuk melokalisasi Web berawal satu dasawarsa lalu di Cape Town, Afrika Selatan, ketika duo ini mengalami langsung betapa sulitnya teman-teman mereka penutur bahasa Xhosa menjalani kehidupan daring.

Keluarga Bailey mencatat bahwa para penutur non-bahasa Inggris di Web sangat banyak akal. “Orang-orang beradaptasi dengan bahasa Inggris,” kata Heather Bailey. “Hasilnya adalah pendekatan bahasa hibrida yang menyerap dan memadukan bahasa lokal dan bahasa Inggris.”

Contoh-contohnya mengagumkan: di Zimbabwe, seorang penutur bahasa Shona dapat mengerti antarmuka bahasa Inggris WhatsApp, tapi mengirim pesan dalam bahasa Shona. Di dunia berbahasa Arab, pengguna Twitter dan SMS mempergunakan transliterasi, mengkonversi tulisan Arab ke dalam abjad Latin. Dan di situs berita Afrika Selatan, sebuah artikel bisa dikarang dalam bahasa Inggris—tapi komentar-komentar di bawahnya diungkapkan dalam bahasa Afrikaans, Xhosa, dan Zulu.

“Orang-orang berhasil dalam keterbatasan,” terang Heather. “Saya kira itu menakjubkan.”

Heather Bailey sedang berbicara tentang lokalisasi di MozFest 2015

Terlepas dari pendekatan-pendekatan cerdik ini, keluarga Bailey memperhatikan ada dampak berbahaya. Saat bicara baru-baru ini dengan seorang teman Kenya, Heather menanyakan upayanya untuk melokalisasi konten berbahasa Inggris ke dalam bahasa Swahili. Tanggapannya: kenapa repot-repot?

Sekali pengguna menguasai Web berbahasa Inggris, tak ada banyak motivasi untuk balik dan melokalisasi, ujar Dwayne.

Konten berbahasa Inggris merupakan praktek budaya yang dapat berbenturan dengan, atau meruntuhkan, budaya lokal, catat keluarga Bailey. Sebagai contoh: bahasa Inggris tidak mencakup kata benda bergender. “Itu membuatnya sulit diterjemahkan—yang kemudian mulai mempengaruhi bahasa [lokal],” kata Dwayne.

Terlepas dari segala tantangan, keluarga Bailey optimistis tentang menciptakan Web yang lebih inklusif. Heather lekas membagi sebuah semboyan: “Kenapa orang harus belajar bahasa Inggris sebelum belajar memakai Internet?”

Keluarga Bailey mencatat, sepasang praktek lokalisasi terbaik bisa berdampak luar biasa. “Hal terbesar yang membuat perbedaan adalah jika Anda punya seseorang yang menguasai bahasanya sendiri…dan memiliki keterampilan teknis bagus,” kata Heather. Penutur [bahasa lokal] yang bergairah dan berbakat dapat membangun tim lokalisasi dan membuat perbedaan besar.

Lokalisasi harus sesederhana mungkin. “Ini tentang mempermudah orang-orang berketerampilan teknis rendah untuk melokalisasi,” jelas Dwayne.

Ini berarti penggunaan platform dan praktek yang intuitif. Seperti alat berbasis Web ketimbang piranti lunak, atau menyembunyikan kerumitan format file.

“Kita perlu menyederhanakan ruang dan menantang asumsi,” kata Dwayne. “Mempermudah proses lokalisasi adalah hal terbesar yang dapat kita lakukan.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s