Oleh: Agnieszka
10 Juli 2016
Sumber: Insight Guides

Berawal dari abad pertama, kebhinnekaan Malaysia terbentuk dalam waktu lama, saat kepulauan Melayu menjadi bagian dari jaringan dagang yang terbentang dari Samudera India sampai China.

Para pemburu dari suku Orang Asli.
Foto: Teng Wei/Shutterstock

Karakterisik paling mencolok dari orang Malaysia adalah kebhinnekaan mereka: etnis, bahasa, ketaatan budaya, agama, dan makanan. Ia adalah campuran rumit, yang terwujud jelas dalam pamer budaya menyasar turis tapi tidak kentara dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari hiruk-pikuk bahasa hingga pakaian dan ritual.

Orang-orang berlainan ini menyusun 29 juta rakyat Malaysia, yang 4/5-nya tinggal di semenanjung, kendati ukuran Borneo lebih dari dua kali lipatnya. Kebhinnekaan ini terbentuk dalam waktu lama, berawal dari abad pertama, ketika kepulauan Melayu menjadi bagian dari jaringan dagang yang terbentang dari Samudera India sampai China. Sejak saat itu dimulailah apa yang sejarawan sebut penyaringan lambat suku-suku berlainan, proses sinambung yang menghasilkan sebuah masyarakat yang berbagi tanah dan mengalami hibridisasi dan heterogenitas selama ratusan tahun.

Hari ini, meski nilai-nilai etnis setiap kelompok ditaati—khususnya berkenaan dengan agama dan pernikahan—peminjaman dan adaptasi dari satu kelompok ke kelompok berikutnya terus tersebar luas dan kreatif. Kadang dirangkul, kadang dicela, peminjaman ini tak terhindari di Malaysia karena batas-batas budaya begitu berpori. Maka dari itu, kategorisasi masyarakat ke dalam “kelompok etnis” sebetulnya baru titik awal untuk memahami orang Malaysia.

Kategorisasi etnis arahan negara untuk tujuan pecah-dan-kuasai—dengan izin kolonialis Inggris—dipakai para politisi untuk alasan politik, dan paling kentara dalam kehidupan kelembagaan. Bahkan, rasialisasi politik dan kelembagaan merupakan jantung sebuah masyarakat yang memperoleh kekuatan dan pengayaan dari kemajemukannya.

Perayaan di Hari Kemerdekaan Malaysia.
Foto: Lano Lan/Shutterstock

Orang Asli

Orang pertama yang menghuni Semenanjung Melayu dan Borneo adalah orang asli. Kelompok pertama sudah menetap di semenanjung 25.000 tahun lampau. Mereka terdiri dari beranekaragam kelompok etnis, 18 di semenanjung dan 68 di Borneo. Sayangnya, mayoritas menghadapi pergulatan sebagaimana orang-orang asli di seluruh dunia. Ini mencakup hak tanah dan identitas dan, khususnya di semenanjung, integrasi kelembagaan ke dalam masyarakat arus utama.

Orang asli semenanjung disebut Orang Asli, yang dalam bahasa Melayu berarti “original people”. Mereka menyusun kurang dari 0,4% populasi dan begitu terpinggirkan sampai-sampai banyak orang Malaysia perkotaan belum pernah berjumpa dengan mereka. Mayoritas Orang Asli tinggal di pinggir, atau di dalam, wilayah perkotaan di permukiman permanen; hanya sedikit yang mempertahankan gaya hidup tradisional mereka. Demikian juga, banyak dari mereka bukan lagi animis, tapi sudah beralih ke Kristen atau Islam.

Orang Asli terbagi ke dalam tiga kelompok utama. Negrito adalah kelompok tertua, dan bertalian dengan orang Vietnam Zaman Paleolitikum. Awalnya nomaden, hari ini mereka tinggal di timurlaut dan baratlaut semenanjung. Mereka masih menjalani kehidupan berbasis hutan, menjual hasil hutan untuk mendapat uang tunai.

Senoi adalah Mongoloid yang menetap di semenanjung beberapa ribu tahun setelah Negrito. Secara tradisional merupakan pengolah tanah, mereka adalah kelompok terbesar hari ini dan paling terintegrasi ke dalam masyarakat arus utama, bekerja di perkebunan dan di pusat-pusat kota yang berbatasan dengan desa mereka. Mereka tinggal utamanya di tengah-tengah semenanjung. Negrito maupun Senoi berbicara dalam bahasa yang termasuk rumpun bahasa Mon-Khmer, rumpun bahasa asli Asia Tenggara.

Di selatan ada orang Melayu Aborigin agraris, yang datang sekitar 3.000 tahun lampau dan bekerja di perkebunan atau sebagai nelayan. Sebagian menikahi penduduk pulau di Indonesia modern dan Borneo, karenanya mereka mirip orang Melayu. Bahasa mereka adalah Melayu bentuk lama.

Pribumi Borneo

Orang asli Borneo lebih bhinneka lagi. Disebut sebagai “pribumi”, mereka betul-betul menjadi mayoritas.

Sekitar 60% penduduk Sabah adalah orang asli, dan di antaranya berbicara dalam separuh dari bahasa-bahasa asli yang dijumpai di Malaysia. Dari 39 kelompok, paling besar adalah Kadazandusun, yang tinggal di Sabah baratlaut dan tengah, utamanya di wilayah perkotaan. Gunung Kinabalu adalah tempat peristirahatan roh mereka, dan perayaan terbesar mereka adalah Kaamatan (Hari Raya Panen).

Murut, “orang bukit” dari Sabah timurlaut, adalah kelompok terakhir yang berhenti berburu kepala. Sementara itu, penghuni pesisir adalah rumpun Bajau dan Melayik, secara tradisional nelayan dan pekerja kapal yang terampil.

Sarawak merupakan rumah bagi 29 kelompok etnis; paling besar adalah Iban, yang berasal dari Kalimantan dan juga dikenal sebagai Dayak. Secara tradisional merupakan penghuni rumah panjang dan penanam padi, Hari Raya Panen Gawai adalah perayaan budaya terpenting mereka. Menyusun 30% populasi Sarawak, mereka sebagian besar terurbanisasi, sebagaimana kelompok terbesar berikutnya, Bidayuh, yang tinggal di wilayah lebih besar yaitu Kuching.

Penghuni pedalaman adalah Orang Ulu, pembuat kerajinan tangan dan seniman paling terampil di tanah tersebut. Melanau adalah orang pesisir, terkenal sebagai penanam sagu dan nelayan; mereka punya benteng politik di Sarawak. Lun Bawang dan Kelabit adalah penghuni tanah tinggi, sedangkan Penan adalah kelompok etnis Borneo paling terkenal, berkat perhatian media internasional pada pembalakan rumah hutan mereka.

Melayu

Melayu dan bumiputera lain menyusun sekitar 60% populasi Malaysia. Mereka adalah kelompok etnis mayoritas di semenanjung, mendominasi populasi di Terengganu, Kelantan, dan Putrajaya.

Melayu atau orang Melayu tiba di kawasan ini 3.000-5.000 tahun lampau dari China selatan dan Taiwan. Lewat bertahun-tahun, mereka menikah dan berasimilasi dengan orang China lain, India, Arab, dan Thai, dan merupakan orang Melayu, orang Indonesia, dan orang Filipina modern.

Di Malaysia, budaya Melayu menunjukkan pengaruh kuat bahasa Jawa, Sumatera, Siam, dan khususnya India. Secara linguistik, Melayu adalah Austronesia, tapi orang-orang dapat mengenali kosakata Arab, Sansekerta, Tamil, Portugis, Belanda, China, dan Inggris.

Orang Melayu sebagian besar beragama Hindu sebelum beralih ke Islam di abad 15. Mereka juga menjalani gaya hidup agraris pedesaan sebelum merespon langkah Malaysia menuju industrialisasi di tahun 1960-an dengan pindah ke wilayah perkotaan.

Hari ini, lebih dari separuh tinggal di kota kecil dan kota besar. Mereka hadir dominan di pemerintahan, jawatan sipil, dan sektor-sektor penting perekonomian. Partai politik khusus Melayu, UMNO, telah memimpin pemerintahan sejak merdeka, sebagai bagian dari BN. Dalam kehidupan sehari-hari, adat-istiadat Melayu dipatuhi, paling jelas bagi orang luar adalah pakaian yang dikenakan wanita Melayu. Islam adalah kunci, dan manifestasi paling nyata adalah penuhnya masjid-masjid di hari Jumat untuk shalat.

Orang India

Sekitar 7% populasi adalah keturunan India. Kebanyakan mereka tinggal di semenanjung, kelompok terbesar di Klang Valley, Perak, dan Negeri Sembilan. Mayoritas adalah Tamil, dan sedikit orang Malayalis, Punjab, Telugu, Sikh, dan Sri Lanka. Sebagian besar Hindu, agama-agama lain yang dipraktekkan meliputi Kristen, Sikh, dan Buddha. Muslim India digolongkan sebagai Melayu atau bumiputera.

Pedagang India tiba di Kedah utara di abad pertama, meninggalkan pengaruh abadi pada budaya, bahasa, dan bahkan gagasan kerajaan Melayu. Namun, sebagian besar orang India Malaysia hari ini adalah keturunan pekerja kontrak yang diimpor oleh Inggris di abad 19 dari Asia Selatan untuk perkebunan dan, sampai batas tertentu, jawatan sipil. Orang India menyumbang jumlah profesional terbesar per kapita, khususnya dokter dan pengacara. Banyak juga yang menjalankan bisnis sendiri.

Budaya India merupakan bagian kaya dan penuh warna dari kehidupan Malaysia: pakaian seperti setelan atasan kurtha dan celana panjang salwar-khameez sangat populer, film-film India mempunyai basis penggemar besar, kuil-kuil Hindu dan perayaan seperti Thaipusam dan Deepavali memperkaya kesadaran kolektif, sementara tidak ada yang mengalahkan penghubung jurang etnis seperti kari daun pisang dan teh tarik (teh India).

Pertunjukan Barongsai saat Tahun Baru China di Malacca, Malaysia.
Foto: udeyismail/Shutterstock

Orang China

Orang China menyusun 24% populasi negara, tinggal utamanya di wilayah perkotaan di seantero negeri. Di Kuala Lumpur dan Penang, mereka menyusun lebih dari 40%.

Seperti orang India, orang China punya sejarah panjang di kepulauan Melayu lewat perdagangan maritim yang dimulai di abad ke-5. Namun, sebagian besar orang China Malaysia hari ini adalah keturunan buruh kontrak yang diimpor oleh Inggris di abad 19 dan 20. Berasal dari China Selatan, mereka bekerja di tambang-tambang timah di semenanjung dan akhirnya mendirikan bisnis dan perkebunan. Pada waktu kemerdekaan terjadi, mereka mengendalikan ekonomi.

Kebijakan tindakan afirmatif yang mengutamakan bumiputera membuat bagian kue ekonomi mereka terkikis, tapi mereka masih menyusun mayoritas kelas pendapatan menengah dan atas.

Terdiri dari tiga kelompok dialek utama, Kanton, Hokkian, dan Hakka, orang China utamanya beragama Tao/Buddha atau Kristen, dan perayaan utama mereka adalah Tahun Baru China, sebuah perayaan keluarga, agama, dan makan-makan selama 15 hari.

Migran China abad 15 yang menetap di pelabuhan-pelabuhan Semenanjung Melayu, mengadopsi adat-istiadat Melayu, dan/atau menikahi penduduk setempat, kemudian dikenal sebagai Peranakan, “kelahiran lokal” atau Baba-Nyonya. Aspek-aspek budaya mereka hadir dalam bahasa (dimasuki kata-kata Melayu dan Thai), pakaian (terutama sarung kebaya yang dipengaruhi Melayu), makanan (kari kuat dan salad pedas), dan arsitektur (kebanyakan China dengan pengaruh kolonial).

Komunitas Lain

Terdapat komunitas kecil orang Malaysia keturunan campuran Asia dan Eropa, terutama Portugis, Belanda, dan Inggris. Komunitas Eurasia didirikan di Malaka pada masa penjajahan Portugis di abad 16 dan 17. Komunitas di sana masih menggunakan bahasa Portugis bentuk jelas yang disebut Kristang. Komunitas cukup besar lain ada di Penang, dibentuk oleh migran Thai-Portugis abad 18. Walau minoritas, orang Eurasia memainkan peran kunci dalam pendidikan serta penegakan Katolik.

Ada banyak lagi kelompok-kelompok suku berlainan yang lebih kecil, dan komposisi etnis Malaysia semakin kompleks dengan kehadiran buruh migran baru yang padanya Malaysia sangat bergantung sejak 1970-an. Buruh migran, legal dan ilegal, menyumbang sekurangnya 10% populasi, angka 2,8 juta orang yang besar. Kelompok terbesar datang dari Indonesia, Bangladesh, Nepal, India, dan Myanmar (Burma). Di Sabah, orang Indonesia dan Filipina diyakini menyusun minimal seperempat populasi.

Anak-anak Malaysia dalam kostum segala ras.
Foto: Sylvia sooyonN/Shutterstock

Kartu Ras

Orang-orang Malaysia hidup rukun, tapi sialnya politik dirasialisasi, koalisi berkuasa terdiri dari kelompok-kelompok politik berdasar ras. Bagi wisatawan, negara ini memproyeksikan utopia kerukunan sempurna, diringkas oleh slogan pariwisata Malaysia, Malaysia Truly Asia. Tapi ketika kekuasaan negara terancam, ia memproyeksikan skenario masyarakat di ambang pertumpahan darah kesukuan, terutama dengan menyinggung “Insiden 13 Mei”.

Kebijakan tindakan afirmatif untuk bumiputera telah menghasilkan rasialisasi politik dan kelembagaan, berujung pada kebencian di kalangan non-Melayu terhadap Melayu. Namun, kebijakan itu juga dikritik antara lain lantaran meninabobokan orang Melayu ke dalam kepuasan diri dan mendorong mereka bergantung pada pemberian negara. Selain itu, penerapan kebijakan yang tak merata telah menyebabkan kebencian di kalangan bumiputera, dengan di antaranya mengutamakan orang Melayu di atas bumiputera lain dan mengutamakan bumiputera berkoneksi politik di atas bumiputera lain.

Ketidakpuasan ini menjadi salah satu pendorong yang menuntun warga Malaysia memilih legislator oposisi dalam jumlah bersejarah pada pemilu 2008. Ini, pada gilirannya, mempolitisasi sebagian warga Malaysia, khususnya generasi muda, dan orang Malaysia mulai menatap kemungkinan masyarakat yang lebih setara, melampaui ras.

Tapi di tingkat jalanan, warga Malaysia menikmati hidup dalam masyarakat multietnis. Lembaga survey berpengaruh Merdeka Centre menemukan bahwa pada 2011, 82% masyarakat yang disurvey berpikir demikian. Namun, mereka masih berstereotip: orang China rakus, orang India tak bisa dipercaya, orang Melayu malas. Meski begitu, stereotipisasi terdapat dalam kelompok-kelompok itu sendiri dan, lagipula, responden tidak betul-betul paham budaya mereka sendiri. Selain itu, ada pengakuan jelas bahwa politik terasialisasi bertanggungjawab atas masyarakat terasialisasi. Tingkat kepercayaan antar komunitas juga turun sedikit sejak jajak pendapat sebelumnya di tahun 2006.

Tetap saja, setelah turut berkongsi dalam model pencapaian status negara maju, warga Malaysia cenderung lebih konsern pada pekerjaan dan ekonomi, ketimbang isu rasial dan persatuan. Malah, kemakmuran dan pengejaran keuntungan materi cenderung meratakan perbedaan.

Status Ekonomi

Lima puluh tahun pendekatan pembangunan telah mendorong Malaysia ke dalam barisan negara dengan pembangunan manusia yang tinggi, menurut Indeks Pembangunan Manusia PBB. Di Asia Tenggara, Malaysia berada di peringkat tertinggi setelah Singapura. Tingkat melek huruf orang dewasa di atas 90%, harapan hidup di atas 70 tahun, dan pengangguran 3%.

Pada 2011, Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita adalah USD 12.700, ketiga di bawah AS dan Inggris. Sasaran ekonomi Malaysia adalah mencapai PDB “negara maju” pada 2020, artinya naik dua kali lipat dalam kurang dari satu dasawarsa.
Sejalan dengan proyeksi pembangunan tersebut, orang Malaysia lebih suka tinggal di perkotaan daripada pedesaan. Ditarik oleh pekerjaan dan kehidupan kota besar, 20% orang Malaysia tinggal di Klang Valley saja.

Penduduk KL memiliki PDB dua kali lipat dari rata-rata nasional; demikian pula, rasio pemekerjaan banding populasi adalah dua kali lipat dari wilayah metropolitan lain. Sekitar 80% dari total pemekerjaan terdapat di sektor jasa. Secara global, ia dianggap kota dunia amat penting yang menghubungkan kawasan-kawasan dan negara-negara ekonomi besar ke dalam perekonomian dunia. Dari segi kedudukan sebagai pusat jasa global dalam pembukuan, periklanan, perbankan, dan hukum—kriteria yang dipakai untuk mengukur “kekotaduniaan” oleh Globalization and World Cities Study Group and Network yang bermarkas di Inggris—Kuala Lumpur, pada 2010, berada satu kelompok dengan Washington dan Frankfurt dan lebih tinggi dari Melbourne dan Vancouver.

Jurang Perkotaan-Pedesaan

Bahkan selagi urbanisasi dan industrialisasi berlanjut, ikatan orang Malaysia dengan kampung halaman dan desa mereka tetap kuat. Ini terwujud dalam eksodus masal yang disebut “balik kampung”—secara harfiah “pulang”—di mana pada masa-masa perayaan besar semisal Hari Raya Puasa dan Tahun Baru China, kota-kota besar seperti Kuala Lumpur, Kuching, dan Kota Kinabalu menjadi kosong.

Tapi kota kecil atau kota besar tempat anak-anak hidup semakin menjadi kampung, karena para orangtua ikut pindah. Meski ada kecemasan tentang pengikisan nilai-nilai keluarga, satuan keluarga masih penting bagi orang Malaysia, dan keluarga besar adalah hal lazim.

Dan dengan begitu jurang antara perkotaan dan pedesaan—dan karenanya si kaya dan si miskin—bertambah besar. Anak muda kelas menengah pembawa smarthphone di Kuala Lumpur dibesarkan oleh pembantu, berhari libur di Sydney, dan mencita-citakan pendidikan Harvard. Kontrasnya, remaja Kelabit di Bario, Sarawak, meninggalkan sekolah, kadang membantu ayahnya yang petani di sawah dan makan malam dengan penerangan lampu minyak. Dunia masing-masing mungkin seperti Mars bagi satu sama lain.

Anak-anak perempuan Malaysia di Kuala Lumpur.
Foto: Syaheir Azizan/Shutterstock

Jurang Timur-Barat

Terdapat jurang lain di antara warga Malaysia, jurang antara wilayah daratan dan kepulauan. Menyebut satu sama lain sebagai “Orang Semenanjung” (orang-orang dari semenanjung) dan “orang Malaysia Timur”, masyarakatnya begitu berbeda sampai seolah-olah mereka berasal dari dua negara terpisah.

Sabah dan Sarawak secara ekonomi kurang berkembang daripada semenanjung dan pendapatannya lebih rendah. Perpaduan etnis juga sangat berbeda, terdiri dari utamanya orang asli, yang kebanyakan Kristen. Selain itu, tidak banyak rasialisasi arahan negara di negara-negara bagian Borneo.

Orang-orang semenanjung cenderung menganggap orang-orang Malaysia Timur terbelakang atau eksotis. Selain mereka yang menetap di sana sebagai pegawai sipil atau untuk bisnis, orang-orang semenanjung menganggap Borneo sebagai destinasi wisata seperti Thailand atau Indonesia. Sementara itu, orang-orang Malaysia Timur tertarik ke semenanjung demi pekerjaan dan pendapatan lebih tinggi. Sebagian juga membenci Orang Semenanjung, terutama mereka yang menduduki posisi pemerintahan di negara bagian, gara-gara mentalitas kolonial Kuala Lumpur terhadap negara-negara bagian.

Mayoritas dari masing-masing pihak belum pernah menyeberangi Laut China Selatan untuk mengunjungi wilayah pihak lain.

Kemakmuran

Terlepas dari jurang pendapatan dan jurang pedesaan-perkotaan, seiring warga Malaysia semakin makmur, masyarakat sedang berubah. Seperti banyak komunitas kaya baru lain, warga Malaysia mempunyai prasarana tapi kurang mentalitas pemeliharaan dan standar layanan tinggi; mereka mengikuti tren terbaru tapi kesadaran warganegara dan kemauan sosial masih mengejar. Kehidupan yang baik datang dengan mudah sehingga pendekatan hidup bersifat santai, alih-alih tegang dan kompetitif.

Bahkan seraya mereka merangkul teknologi dan tren terbaru dari Silicon Valley atau Bollywood, para cenayang, penyembuh Melayu (bomoh), dan peramal masih dimintai konsultasi. Mencetak lotere (“4D” atau empat ekor) adalah obsesi—malah, kemacetan lalu-lintas naik dua kali lipat ketika ada kecelakaan gara-gara kombinasi faktor kaypoh (ingin ikut campur) dan penulisan angka keberuntungan untuk jackpot RM 1 juta.

Bahkan di Kuala Lumpur, masyarakat relatif kurang canggih dan tajam dibanding tetangga mereka di Hong Kong dan Singapura yang terbang tinggi secara ekonomi. Secara umum, para pengunjung akan mendapati orang-orang Malaysia hangat, bersahabat, dan penasaran sampai pada titik ingin ikut campur, senang membantu dan mengobrol tentang latarbelakang dan budaya orang asing.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s