Oleh: Ruzhi Chew
8 Juli 2013
Sumber: Ruzhi was Here

Well itulah kesan yang saya dapat dari tiga hari berada di Brunei. Orang Brunei secara umum sangat tidak suka mengobrol; mereka takkan bergerak lebih dulu untuk menyapa Anda, tapi orang Malaysia/Singapura tidak berbeda (meski orang Brunei sedikit lebih hangat). Dan saya merasa orang Brunei secara umum menyenangkan, berkelakuan baik, dan suka membantu saat didekati. Orang Malaysia/Singapura…boleh dibilang kami jauh lebih ‘bhinneka’ dalam cara memperlakukan orang lain.

Dan oh, kalau Anda pikir tiga hari tidak cukup untuk menilai suatu masyarakat, harusnya Anda tahu Brunei adalah negara amat kecil dan saya sudah melewati perjalanan sial di Kuala Lumpur selama empat hari berturut-turut.

Dan kalau Anda orang Malaysia, jangan bersikap defensif—saya berasal dari negara yang sama dengan Anda. Kita tahu bisa seberapa kasar dan buruk diri kita, dan kita menyatakannya secara terbuka. Ironisnya kita tidak suka negara-negara lain menyatakan apa yang kita nyatakan sendiri, tapi saat mereka melakukannya, itu justru menunjukkan seberapa tepat diri kita.

Kalau Anda orang Singapura, lakukan sebagaimana saya katakan kepada orang Malaysia hipotetis. Anda tampar kami, kami tampar Anda. Pada akhirnya kita tetap berdandan dan menikah.


Dia adalah sopir taksi yang mengangkut orang-orang dari bandara, dan dia adalah orang Brunei pertama yang saya ajak bicara saat tiba. Taksi di sana mahal bukan main, jadi saya takkan bertemu dengannya kalau bukan karena bus publik yang tak pernah menampakkan diri. Itu takdir, kata orang-orang dalam bahasa Melayu.

Begitu tahu saya orang Malaysia, dia berkata antusias, “Selamat datang di Brunei!” dan segera membuang energi dengan menambahkan, “Ini tempat membosankan, tak ada hiburan di sini.” Oh masa? Saya terlalu bergairah mengamati jalan-jalan negara kurang dikenal ini, dan saya sedang bicara dengan penduduk setempat, yang selalu saya nantikan ketika berada di luar negeri. Itu lebih baik daripada hiburan.

Jalanan Bandar Seri Begawan Brunei

“Pemilu di negara Anda segera datang!” komentarnya heboh, dan menambahkan bahwa dia merasa politik Malaysia terlalu kotor. Saya langsung sependapat—dan merasa malu karena para tetangga kami bisa mencium cucian kotor kami dari jauh. Dia bicara soal Najib dan semua dosanya, dan saya terus menambahkan dengan apapun yang saya tahu. Politik adalah topik menarik yang membuka obrolan seketika.

Dan untung saja saya tidak menutupnya kembali dengan menyebutkan kebijakan rasis pro-Melayu UMNO sebagai salah satu dosa itu. Saya berpikir dia orang China, tapi saya menahan diri dari mengangkat isu kelompok etnis. Itu langkah bagus—nyatanya dia orang Melayu.

(Tapi sekali lagi, orang Melayu, China, dan ras-ras lain hidup damai di Brunei, tak seperti di Malaysia. Bahkan Melayu Singapura tidak setuju dengan ideologi aksi afirmatif UMNO. Saya menduga hanya negara kami yang betul-betul berantakan.)

Dia MEMANG bertampang China!

Sepanjang perbincangan, tak pernah ada lah, mah, atau ah dalam kalimatnya. Ketiganya begitu umum di kalangan orang Malaysia dan Singapura yang mencampurnya dengan kata-kata dari berbagai bahasa, menghasilkan bahasa kreol yang dipahami oleh kami saja (dan mengira orang lain juga paham, padahal tidak). Orang Brunei berbicara bahasa Inggris yang baik, dan mereka fasih. Orang-orang Brunei yang saya temui menunjukkan diksi dan sintaksis bagus.

Di sisi lain, orang Malaysia dan Singapura suka memperolok bahasa Inggris bangsa lain padahal mereka sama-sama jelek. “Their Ying-ge-rish so the weird one leh, donno how to say don’t say la!” Malu rasanya melihat betapa kami naif sekaligus sombong.

Orang Malaysia dan Singapura punya pendapat berlebihan tentang diri mereka sendiri—terutama orang Singapura.

Begitu sampai, dia menagih saya persis BNR 25 sebagaimana tertera di tabel ongkos. Tak ada usaha untuk menipu saya, tak seperti banyak sopir taksi di Malaysia. Saya penasaran apakah kejujurannya datang dari fakta bahwa untungnya sudah cukup besar. Andai dia berada di Malaysia di mana tarifnya lebih rendah, akankah dia menjadi penipu seperti sejawatnya di KL (Kuala Lumpur)?

Sejujurnya saya tidak tahu. Saya anggap dia orang menyenangkan dan jujur. Karena dia memang menyenangkan dan jujur selama 15 menit itu. Saya tak bisa buktikan kepalsuan di balik kejujurannya, tapi saya dua kali lipat lebih tak bisa membuktikan sebaliknya.


Terus ada staf di Masjid Jame Asr, pak tua yang melihat saya berlari di taman seperti orang bodoh, dan seorang sopir taksi lain. Mereka seperti sopir taksi dalam kisah pertama. Bersahabat dan menyenangkan dengan bahasa Inggris yang baik, walaupun pak tua berbicara dalam bahasa Melayu, tapi itu tetap baik.

Ada sesuatu dari cara mereka tersenyum, cara mereka bicara dan bantuan ramah yang mereka tawarkan. Itu tulus, tak seperti kebaikan dibuat-buat yang diucapkan dengan senyum palsu oleh para karyawan customer service Singapura. Di Brunei, itu bagian dari didikan mereka. Di Singapura, itu bagian dari KPI (key performance indicator/indikator kinerja utama).


Dan saya hampir lupa (bagaimana bisa??), orang yang menyetop mobilnya di tempat saya istirahat, gerbang depan Masjid Jame Asr Hassanil Bolkiah. Dia tanya saya mau pergi ke mana dan menawarkan tumpangan. Dengan sopan saya menolak, merasa tak nyaman. Orang China Malaysia diajari untuk menolak tumpangan dari orang asing karena itu berarti ada plot penculikan/perampokan yang sedang beraksi.


Itu pertanyaan “SIAPA NAMAMU?” yang lantang. Mulanya saya mengabaikan pertanyaan mendadak ini karena terlalu sibuk mencicipi (dan menderita oleh) ‘kelezatan’ hambar bernama Ambuyat. Wanita yang berteriak halo itu duduk di meja sebelah saya, dan kami berada di restoran yang menyajikan santapan lokal otentik. Saya tidak yakin apa dia bertanya kepada saya atau orang lain.

Setelah beberapa menit, dia mengulang: “SIAPA NAMAMU?” Dan kali ini saya tahu wanita ini, kira-kira berumur awal 40-an, sedang bicara pada saya. Saya satu-satunya orang asing di sana, dan aturan praktisnya adalah penduduk setempat takkan pernah berbicara dalam bahasa Inggris di antara mereka sendiri. Saya tertegun sejenak.

DARI MANA ASALMU? Satu pertanyaan lain datang sebelum saya sempat menjawab yang pertama. Itu seperti interogasi, karena laju bertanya lebih cepat daripada laju menjawab. Saya cuma membisu dan terus melahap Ambuyat hambar. Tapi dia tidak menatap saya. Saya rasa dia malu. Itu aneh: dia lantang, tapi malu.

Itu dia.

Dan setelah hening beberapa saat, saya ditanya nama lagi, atau kenapa saya ada di Brunei—saya tak begitu ingat. Kali ini, saya menjawab kira-kira, “Kenapa Anda ingin tahu?” Dia malu-malu berkata kurang-lebih “Oh, tidak apa-apa”, lalu menunduk dan tetap diam sejak saat itu.

Saya langsung merasa sedikit bersalah dengan cara saya menjawab. Boleh jadi dia heran melihat orang asing di negaranya yang langka orang asing, tapi tidak tahu cara tepat untuk melakukan pendekatan. Dia sedang mencoba mengenal seseorang yang baru. Harusnya saya lebih pengertian.

Tapi saya tidak mengerti, karena saya lahir dan besar di Malaysia dan sudah tinggal di Singapura selama tujuh tahun dan sedang berhitung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s