20 Desember 2012
Sumber: Joy Tour & Travel

Kontak mata mungkin salah satu bentuk interaksi sosial paling tidak kentara, tapi itu jangan pernah disepelekan.

Jika Anda sedang bepergian atau merencanakan sebuah perjalanan, ini sesuatu yang perlu Anda ketahui—sebab perilaku sosial yang normal di kampung halaman, boleh jadi tidak normal di budaya lain.

Budaya Barat

Inggris, AS, Australia, dan Eropa Barat semuanya memiliki ekspektasi sosial cukup mirip tentang kapan dan di mana kontak mata pantas dilakukan…yakni hampir sepanjang waktu!

Kontak mata diharapkan di budaya Barat. Ini dasar bagi interaksi sosial, yang menunjukkan ketertarikan seseorang dan partisipasi dengan percakapan Anda.

Di budaya Barat, mata dianggap menunjukkan titik tengah fokus seseorang. Jadi jika seseorang tidak memberi kontak mata dalam percakapan, itu bisa dianggap menghina. Banyak orang akan menganggap dia tidak tertarik, dan menganggap mata meléngnya sebagai tanda keteralihan perhatian.

Dalam keadaan lain yang lebih formal, kurangnya kontak mata bisa dipandang berbeda. Sebagai contoh, dalam situasi wawancara, kontak mata kuat dari orang yang diwawancara dipandang sebagai tanda kepercayaan diri, sementara kurangnya kontak mata dipandang sebagai kurangnya kepercayaan.

Budaya Timur Tengah

Meski banyak budaya negara-negara Timur Tengah hampir tidak dapat disatukelompokkan, mereka punya beberapa tren bersama—salah satunya kontak mata.

Kontak mata kurang umum, dan dianggap kurang pantas dibanding di budaya Barat. Ada aturan gender yang ketat, di mana kaum wanita tidak boleh membuat kontak mata terlalu banyak dengan pria karena bisa disalahtanggapi sebagai ketertarikan romantis.

Kontak mata intens seringkali menjadi cara untuk menunjukkan ketulusan. Kontak mata lama dan kuat bisa berarti “percayalah, saya berkata yang sebenarnya”.

Budaya Asia

Budaya Asia sangat mementingkan rasa hormat. Hirarki jauh lebih tampak dalam masyarakat mereka ketimbang di budaya Barat, dan perilaku sosial mereka mencerminkan ini.

Di negara-negara semisal China dan Jepang, kontak mata tidak dianggap dasar bagi interaksi sosial, justru sering dianggap tidak pantas. Di budaya otoriter seperti itu, diyakini bahwa bawahan tidak boleh melakukan kontak mata kokoh dengan atasan.

Sebagai contoh, mahasiswa diminta tidak melakukan kontak mata dengan profesor mereka, karena bisa ditafsirkan sebagai tanda sikap tidak hormat. Demikian pula, anak perempuan akan menundukkan pandangan ketika ayahnya bicara padanya, sebagai tanda sopan-santun dan rasa hormat.

Budaya Afrika dan Amerika Latin

Banyak budaya Afrika dan Amerika Latin, walau unik dalam banyak hal, tetap merupakan masyarakat hirarkis yang kuat. Dalam banyak keadaan, kontak mata intens dianggap agresif, konfrontatif, dan sangat tidak hormat.

Kontak mata begitu mendarah daging dalam setiap budaya sehingga jarang dipikirkan sebelum bepergian keluar negeri.
Penerapan kontak mata orang Barat bisa dianggap tak pantas, dan bahkan tidak hormat, di banyak budaya lain—jadi pastikan Anda pelajari penerapan kontak mata dan bahasa tubuh sebelum terbang!

Advertisements

One thought on “Peran Kontak Mata di Berbagai Budaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s