Oleh: Joachim Vogt Isaksen
27 Desember 2012
Sumber: Popular Social Science

Pernahkah Anda bangun dari tidur malam tak enak usai beberapa mimpi buruk dan berpikir: “Ini akan jadi hari yang buruk,” dan di penghujung hari berkesimpulan bahwa prediksi Anda tepat dan inilah persis yang terjadi? Anda mungkin berpikir bahwa Anda telah memprediksi hasil akhir hari Anda, dan bahwa mungkin seharusnya Anda tetap di rumah hari itu.

Ramalan swawujud (self-fulfilling prophecy) adalah konsep yang dipakai sosiolog Amerika Robert Merton untuk melukiskan bagaimana sebuah pernyataan dapat mengubah tindakan dan karenanya menjadi kenyataan. Dalam situasi di mana banyak individu bertindak menurut ekspektasi, mereka dapat betul-betul mempengaruhi apakah suatu insiden akan terjadi atau tidak. Ketika ini terjadi, individu-individu tersebut menciptakan kondisi yang mereka yakini eksis. Bahkan ketika tak ada alasan untuk cemas, hasil akhir yang dikhawatirkan dapat terjadi jika cukup banyak orang bertindak seolah-olah ada semacam landasan untuk khawatir.

Foto oleh Ralph Daily

Ramalan swawujud sering membawa kepada hasil akhir yang tak baik. Ekspektasi buruk bahwa akan ada sebuah peristiwa bisa-bisa menimbulkan konsekuensi serius, seperti kebangkrutan, kelangkaan pangan dan barang, tekanan terhadap pasar saham, dan bahkan peperangan. Orang bisa-bisa, contohnya, bertindak menurut rumor tak benar bahwa saham akan jatuh, atau bahwa akan ada kekurangan mentega dalam waktu dekat. Jika cukup banyak orang bertindak menurut rumor tak benar ini dengan menjual saham atau membeli banyak sekali mentega, mereka akan betul-betul menyebabkan peristiwa yang diekspektasikan tersebut terjadi.

Salah satu contoh ramalan swawujud adalah efek plasebo. Efek plasebo telah didemonstrasikan dalam beberapa studi, dan dapat digambarkan sebagai membaiknya kesehatan tapi tidak bisa diatributkan pada pengobatan, atau penanganan yang diberikan. Justru, kepercayaan pasien pada penanganan [medis] akan meningkatkan sistem kekebalan, dan menghasilkan pemulihan lebih cepat.

Foto oleh Stuart Richards

Ramalan swawujud juga telah didemonstrasikan dalam eksperimen di mana orang-orang menjustifikasi prasangka mereka terhadap anggota kelompok etnis lain. Ini dapat diilustrasikan dengan pernyataan berikut: “Kami tak ingin orang-orang itu di sini karena mereka hanya bergaul dengan kelompok mereka sendiri, mereka sangat sauvinistik untuk kepentingan mereka sendiri.”

Meski ramalan swawujud tidak punya kekuatan untuk mengubah peristiwa alam semisal badai atau gempa, sikap pribadi Anda mungkin mempengaruhi situasi kecil sehari-hari sebagaimana Anda berhubungan dengan orang lain dan tanggapan mereka terhadap perilaku Anda. Jika Anda menerapkan pola pikir optimistis, Anda mungkin mempengaruhi, contohnya, orang lain untuk memandang Anda secara positif.

Orang-orang yang cenderung terjebak dalam ramalan swawujud negatif seringkali menderita penghargaan diri rendah di mana mereka bertindak menurut penilaian yang terlalu kritis terhadap diri sendiri. Mereka cenderung berpandangan pesimistis tentang dunia dan peluang untuk mempengaruhi situasi menuju lebih baik. Ini menghasilkan siklus ganas, di mana pola pikir negatif memperkuat ramalan swawujud mereka.

Ringkasnya, peningkatan kesadaran tentang bagaimana menghindari efek negatif ramalam swawujud mungkin bagus bukan saja bagi seseorang dalam kehidupan sehari-hari, tapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan.

Bacaan Lebih Lanjut

Robert K. Merton. 1968. Social Theory and Social Structure. New York: Free Press.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s