Sumber: Convict Creations

Di seluruh dunia, orang-orang dibesarkan bukan untuk menstereotip orang lain. Namun demikian, mereka sering mendefinisikan identitas budaya mereka sendiri dengan menstereotip dirinya sendiri. Stereotip bukan saja menyediakan model perilaku yang coba ditiru oleh individu, itu juga menyediakan rasa keumuman atribut yang membuat orang-orang merasa jadi bagian dari suatu komunitas. Sebagai contoh, di China, situs index-china.com mendeskripsikan bangsa China sebagai:

“damai, pekerja keras, dan mudah puas. Mereka menghormati sesepuh, menyayangi anak-anak, dan sabar terhadap sesama. Orang China secara umum pendiam dan bersahaja. Mereka meyakini kerukunan dan tak pernah mencari konfrontasi.”

Bukan orang China saja yang suka menstereotip diri sendiri. Orang Italia menstereotip dirinya sendiri sebagai pemilik gaya keren, orang Prancis sebagai pemilik keanggunan, orang Jepang sebagai pekerja keras, dan orang Spanyol sebagai pecinta kehidupan. Stereotip diambil oleh orang luar dan pada gilirannya dikembangbiakkan (terutama dalam panduan wisata) di mana para calon wisatawan ingin tahu sesuatu tentang jenis budaya yang akan mereka kunjungi.

Di Australia, ada beberapa individu yang juga menyadari manfaat identitas budaya dan kemudian menciptakan stereotip untuk menegaskan identitas tersebut. Salah satu orang Australia demikian adalah Peter Cosgrove, Gubernur Jenderal Australia. Menurut Cosgrove,

“Tak diragukan lagi, kualitas terbaik yang kita lihat di seluruh komunitas Australia adalah kemauan alami untuk menyingsingkan lengan baju dan mulai berbuat, untuk menolong orang lain. Tentu saja kita menyaksikannya kapanpun ada keadaan darurat atau sebab yang layak. Kita menyaksikannya dalam setiap organisasi relawan komunitas, mulai dari pasukan pemadam kebakaran hutan hingga ribuan klub olahraga remaja dan dewasa dan organisasi pelayanan internasional hebat semacam Rotary dan banyak lainnya. Kita menyaksikannya dalam badan-badan profesional seperti kepolisian, jawatan pemadam kebakaran dan ambulans, dan tentu saja pasukan pertahanan. Itu adalah kemurahan jiwa dan ketenggangrasaan yang mungkin warisan paling berharga untuk diturunkan kepada orang Australia generasi muda dan generasi baru—sebuah bangsa yang peduli dan perhatian pada satu sama lain.”

Demikian pula, panduan studi Australian Citizenship mengemukakan:

“Orang Australia bangga akan fakta bahwa negara mereka tidak lahir melalui revolusi atau pertumpahan darah, tapi melalui negosiasi atau referendum.”

Mustahil untuk memastikan akurasi stereotip. Tentunya tidak semua orang Australia bersukarela memadamkan kebakaran, menjaga pantai, bergabung dengan tentara, bekerja di toko Bala Keselamatan, atau memungut sampah. Begitupun, bisa dibuktikan bahwa tidak banyak orang Australia tahu sejarah politik Australia, sehingga menstereotip mereka sebagai pembangganya barangkali tidak akurat sama sekali. Namun demikian, biarpun sebuah stereotip tidak benar pada prakteknya, mungkin itu benar dalam mitos dan untuk alasan ini keyakinan pada stereotip adalah fakta tersendiri. Lebih jauh, ketika dibangkitkan dalam situasi tertentu, stereotip bisa menjadi ramalan swawujud (self-fulfilling prophecy). Individu yang mempercayainya mungkin sesuai dengan identitas sosial positif yang dipromosikan oleh stereotip bersangkutan. Maka mitos perilaku bisa menjadi fakta perilaku. Dengan kata lain, stereotip menjadi panduan cara bertindak dan menyesuaikan orang-orang dalam prosesnya.

Teori Identitas Sosial (Tajfel dan Turner 1979) mengusulkan bahwa meski individu sesuai dengan stereotip, biasanya itu hanya untuk waktu singkat. Sekali kebutuhan akan identitas sosial berlalu, individu memperagakan ciri khas uniknya sekali lagi. Sebagai contoh, seorang Australia mungkin akan mabuk di Hari ANZAC dan menghargai persahabatan di Hari Australia karena perilaku demikian distereotipkan dengan hari-hari tersebut. Pada hari-hari lain, dia mungkin menahan diri dari merayakan persahabatan dan mungkin juga menghindari alkohol. Begitu juga, orang-orang Australia mungkin akan menunjukkan belas-kasih pada orang lain pasca kebakaran hutan karena perilaku tersebut adalah stereotip perilaku orang Australia. Pada hari-hari lain, orang Australia mungkin menjadi egoistis lagi.

Bodoh jika kita memakai perilaku lazim individu untuk berargumen bahwa stereotip kelompok tidak akurat. Stereotip hanya berlaku pada individu ketika dia memutuskan untuk memberlakukannya dengan mengadopsi identitas sosial. Ini tidak sepanjang waktu. Bagi kebanyakan orang, identitas sosial hanya penting ketika menjumpai kelompok sosial berbeda atau terjadi peristiwa tunggal.

Karena individu seringkali bertindak sesuai stereotip, para pengiklan kerap mendefinisikan stereotip dengan harapan pemirsa target akan sesuai dengannya. Sebagai contoh, industri daging domba sudah sering mempromosikan stereotip bahwa makan daging domba (padahal domba dimakan di seluruh dunia) adalah Australia banget. Kampanye ini diambil oleh perusahaan-perusahaan lain, seperti McDonalds, yang juga mengeksploitasi stereotip bahwa selain makan daging domba, orang Australia menaruh ubi bit pada hamburger. Bagi McDonalds, stereotip membantu membangun afinitas terlokalisasi yang membuat jaringan makanan cepat saji tersebut terasa lebih khas.

Menurut McDonalds, orang Australia cinta daging domba dan menaruh ubi bit pada hamburger.

Vegemite adalah produk lain yang distereotipkan sebagai santapan orang Australia sejati. Dibanding daging domba, barangkali produk ini lebih baik dalam menciptakan stereotip Australia karena ini produk khas Australia (dibuat dari ragi bir) dan kebanyakan orang dari negara-negara lain tak tahan dengannya.

Citra merek Vegemite terjangkar pada stereotip Australia. Dalam iklan di atas, bendera Australia dan pantai membantu membangun citra.

Sementara banyak pemasar Australia mengeksploitasi stereotip guna membangun afinitas antara produk mereka dan masyarakat Australia, seniman penghibur Australia telah menciptakan karikatur stereotip Australia yang dapat ditertawakan dan diremehkan. Karikatur-karikatur ini bisa dianggap padanan tradisi “muka hitam” Amerika di mana orang kulit putih menghitamkan wajah dan bertingkah merendahkan secara sosial. Karakter fiksi Les Patterson, diciptakan oleh Barry Humphries, termasuk contoh karikatur paling masyhur. Patterson adalah kombinasi stereotip yang mengemukakan bahwa orang Australia kegemukan, ofensif, dan tak berbudi. Karikatur ini meraih popularitas tinggi di Inggris di mana pemirsa setempat ingin menertawakan orang Australia.

Karakter Les Patterson karya Barry Humphries mengkarikaturkan orang Australia sebagaimana “muka hitam” mengkarikaturkan orang Afrika Amerika.

Walau Patterson tak pernah meraih popularitas di Australia sebagaimana di Inggris, banyak seniman penghibur Australia lain menciptakan karikatur berdasar stereotip negatif Australia. Kadang karikaturnya bermaksud melucu, tapi di lain waktu, mereka mengandung unsur prasangka yang mencerminkan perpecahan sosial dalam masyarakat Australia. Sebagai contoh, kartunis Andrew Weldon membuat komik “lucu” yang mengesankan bahwa tradisi Australia berisi generalisasi, deindividualisasi, stereotipisasi, kecurigaan, diprasangkai, berasumsi atas nama humor. Yang ironis, humornya didasarkan pada prasangka, generalisasi, deindividualisasi, dan stereotipisasi, jadi sedikit-banyak karyanya menunjukkan bahwa dia mempunyai karakteristik Australia yang coba dijauhinya. Apalagi, karena semua orang Australia-nya adalah kulit putih, dia sedang menunjukkan sebuah keyakinan bahwa purwarupa orang Australia adalah kulit putih.

Kartunis Andrew Weldon memperlihatkan sifat-sifat buruk yang dicelanya dalam karikatur orang Australia bernada menghina. Pemilihan singlet ikat biru pada dasarnya menstereotip segolongan orang Australia sebagai rasis berdasarkan pemilihan pakaian mereka. Ironisnya, dia memperlihatkan ada setitik kebenaran dalam stereotipnya dan justru dia adalah titik itu.

Penggunaan stereotip menghina juga menjadi ciri film-film Australia. Contoh sangat mencolok adalah The Adventures of Priscilla, Queen of the Desert (1994). Disutradarai oleh Stephen Elliot, Priscillia diciptakan sebagai “koreksi” homoseksual terhadap Crocodile Dundee (1986) karya Paul Hogan. Itu mengisahkan para gay yang membawa kemajuan ke Australia pedalaman, yang distereotipkan sebagai rumah kaum rasis, vulgar, dan intoleran. Dalam satu adegan, Elliot memperlihatkan pria-pria pedalaman sedang menonton seorang wanita Filipina menembakkan bola-bola pingpong dari vaginanya. Adegan ini bertujuan membangun stereotip bahwa pria pedalaman tidak beradab, rasis, cabul, dan intoleran dan bahwa wanita Asia adalah pelacur tak senonoh. Stereotip ini terbukti menular dan banyak kritikus film kesulitan membedakan fakta dari fiksi stereotip. Salah satu dari mereka adalah Paul Byrnes, yang menulis tentang film tersebut seolah-olah itu realita:

The Adventures of Priscilla, Queen of the Desert melampaui [film-film] ini dalam menyerang mitologi Crocodile Dundee tentang pria heteroseksual pedalaman yang tidak berbahaya. Tipe pria ini, biasanya dilukiskan di balik jeruji dalam Priscilla, bisa curiga, kasar, vulgar, dan sangat intoleran, khususnya saat dihadapkan dengan definisi maskulinitas alternatif.[3]

Kampanye media oleh akademisi Australia juga menunjukkan manipulasi stereotip buruk Australia yang intens dalam rangka menggapai sasaran politik. Salah satunya dijalankan oleh Dr. Tanja Dreher, Manajer Riset Shopfront Universitas Teknologi Sydney. Dr. Tanja Dreher giat mencari contoh-contoh stereotip tidak akurat agar dia bisa mendekonstruksinya secara terbuka, dan menggantinya dengan stereotip negatif mengenai intoleransi dan kejahilan Australia. Bukti Dreher untuk mendukung stereotipnya adalah bahwa dalam dua bulan pasca serangan teroris 11 September, terjadi 248 laporan ke Community Relations Commission for a Multicultural NSW (CRC), yang menyediakan hotline telepon untuk menerima panggilan terkait diskriminasi rasial. Menurut Dreher, sebagian besar laporan dibuat oleh Muslim. Selanjutnya Dreher melansir rilis pers yang menyimpulkan:

Padahal terdapat bukti jurang serius antara mitos Australia yang ‘adil’ dan realita. Sebagai masyarakat kita harus mulai memikul tanggungjawab atas intoleransi dan seringkali kejahilan negara kita sekarang.[1]

Jika kita tempatkan dalam perspektif, waktu itu ada 340.000 Muslim di Australia. Bagi Dreher, bukti bahwa 1 dari 1.500 Muslim di Australia merasa didiskriminasi adalah angka yang cukup untuk membangun stereotip bahwa Australia sekarang negara intoleran dan jahil.

Partai-partai politik, seperti Australian Greens, menggunakan manipulasi stereotip paling menarik yakni membangun stereotip negatif lawan-lawannya seraya memastikan stereotip dirinya sendiri tidak terkonfirmasi ataupun tersangkal. Dalam iklan di bawah, golongan bukan pemilih Green distereotipkan sebagai patriot pemakan pisang yang terjebak di tahun 1950-an. Bendera Australia dengan bangga ditampilkan di dada wanita. Pada saat bersamaan, pemilih Green dikarikaturkan sebagai perangkul katak, pencinta pohon, pengunyah muesli, dan penggemar kafe. Iklan ini cukup pintar, dalam arti ia tidak memperselisihkan kebenaran stereotip para pemilih Green, baik dengan membantahnya ataupun menyediakan alternatif jati diri pemilih Green. Dengan begini, Greens diswastereotipkan sebagai korban stereotip menghina yang mungkin benar atau tidak benar. Dengan kata lain, iklan ini memungkinkan Greens menstereotip diri mereka sendiri sebagai korban progresif yang mungkin ya atau mungkin tidak mencintai katak seraya menstereotip lawan mereka sebagai orang udik terbelakang.

Karena masing-masing kelompok menghabiskan banyak waktu untuk membangun stereotip negatif tentang kelompok lain di Australia, banyak orang Australia benci terhadap stereotip nasional yang bakal menggabung kelompok-kelompok tersebut dan menjadikan mereka satu kesatuan. Meski itu mungkin sebuah stereotip, mayoritas orang Australia menolak stereotip Australia.

Rujukan:
  1. UTS Experts Making News. Oktober 2005. uts.edu.au.
  2. What Lies Beneath: Postgraduate Conference 2003. Universitas Melbourne.
  3. Australianscreen.com.
  4. Stephen Gibbs. Wannabes and Ethnicity. Sydney Morning Herald. 26 April 2005.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s