Asal-Usul Bangsa Celtik: Kaukasia, Bukan Eropa

Oleh: S. McKenna
Sumber: Angel Fire

Bangsa Celtik adalah Circaesir dari Circaesya, yang hidup di Laut Grass di wilayah Kazakhstan barat modern sampai akhir milenium kedua sebelum masehi. Mereka, menurut definisi mereka sendiri, adalah kelompok bahasa, tapi sekarang mereka adalah budaya. Berlawanan dengan kepercayaan populer, mereka tak ada kaitan dengan penduduk Eropa yang dikenal oleh arkeolog sebagai “bangsa Beaker” dan “kaum Battle Axe”. “Kaum Urnfield” lebih jauh di timur adalah Circaesir, dan jelas-jelas terkait dengan bangsa Celtik. Keturunan mereka berintegrasi dengan Celtik di Eropa tengah.

Uffington Horse

Tradisi mengindikasikan bahwa bangsa Celtik meninggalkan Laut Grass dalam sengketa dengan konfederasi Skithia, di mana mereka adalah anggotanya. Tampaknya bangsa Skithia agak terlalu menonjolkan diri di antara sekutu-sekutu mereka. Mereka hendak mengambil-alih suku Kimmeri yang hidup di wilayah Ukraina modern, tapi tak lama setelah pertengahan milenium pertama mereka mendapat pembalasan. Bangsa Sarmatia dari tenggara menginvasi, mungkin didukung oleh para anggota konfederasi yang tak puas.

Pada waktu ini bangsa Celtik telah mendominasi Eropa tengah selama beberapa abad. Mereka segera menjadi berpengaruh di sana, di tanah-tanah yang diduduki oleh Faan (lihat “Arthur”), karena mereka bangsa ksatria dan Faan adalah keturunan bangsawan. Mereka lebih berpengaruh daripada Circaesir yang telah hidup di sana, dan boleh jadi mereka mengalahkan suku-suku Jermanik yang bergerak ke selatan dari Skandinavia. Sudah lama menjadi misteri kenapa Jermanik mengambil-alih kendali dari mereka. Kemungkinan besar Jermanik Skandinavia bentrok dengan Faan, yang beranggapan bangsa Celtik tahu serangan tersebut. Faan tidak keberatan dikuasai, tapi pemusnahan adalah urusan lain. Saya yakin Celtik Eropa tengah bergerak ke selatan dan barat lantaran mereka tak punya niat berperang untuk orang lain.

Pada waktu Kekaisaran Romawi meluas, bangsa Celtik terkonsentrasi di wilayah Prancis modern. Mereka mungkin menjadi katalisator Kekaisaran Romawi, sebab di awal abad keempat SM mereka (1) menjarah dan memporak-porandakan Roma, (2) menarik janggut para Senator, dan (3) pergi tanpa menyangka bahwa mereka baru saja menciptakan musuh yang kelak membinasakan mereka.

Nama “Celtik” adalah istilah yang tidak tepat, tapi itu telah melekat dan saya akan terus memakainya. “Keltoi” adalah kata Yunani yang bermakna “uncivilized” (“tak beradab”) dan itu mengacu pada sebuah kaum Alpen yang mungkin terkait dengan orang-orang Asia tengah. Barangkali Celtik berkontak dengan orang-orang ini selama mereka tinggal di Eropa tengah, dan tak sengaja jadi tertukar dengan mereka. Kemungkinan juga mereka berintegrasi dengan orang-orang ini. Nama tepat untuk bangsa Celtik barangkali “Gaedheal”. Tentu saja bangsa Gael, orang-orang yang sama yang mengambil rute Mediterania dari Circaesya, merupakan keturunan dari pria bernama Gaedheal Glas, putera Agnoman, yang pada gilirannya keturunan dari Magog, putera Japheth. Tapi orang-orang dari keseluruhan kelompok budaya ini sekarang dijuluki sebagai Celtik, dan tak ada jalan balik. Sepanjang sejarahnya, orang-orang Kasdim, Faan, Athena, Volsungr, dan Viking Jermanik yang bergabung dengan bangsa Gaedheal ikut disebut sebagai Celtik, sehingga menimbulkan kebingungan bagi sejarawan yang mencoba menelusuri asal-usul bangsa Gaedheal itu sendiri.

Ada banyak kelompok budaya Circaesir, dan Celtik hanya salah satunya. Mereka semua berkarakter militer, sebab Circaesya adalah zona perang. Saya akan jelaskan kenapa. Sekitar 15.000 tahun lampau, sebuah migrasi besar-besaran dimulai dari padang rumput yang kini gurun Sahara. Orang-orang yang sekarang kita deskripsikan sebagai Oriental barangkali terdesak keluar dari Timur Tengah oleh eksodus di belakang mereka. Mereka bergerak ke timurlaut hingga sebagian dari mereka berbelok ke selatan menuju China, mengusir orang-orang yang tinggal di sana dan mendesak mereka ke selatan untuk bergabung dengan kerabat di Melanesia, Papua/Nugini, dan Australia. Kelompok-kelompok yang mendahului dan menyusul Oriental terus merangsek ke Amerika Utara, sementara kelompok-kelompok di belakang tetap di Siberia dan Mongolia.

Di belakang kelompok-kelompok ini adalah bangsa Aesir. Orang-orang ini punya kesamaan ciri dengan orang-orang yang pergi sebelum mereka, tapi kemungkinan besar merupakan cabang lain dari pohon silsilah tersebut karena rambut dan mata mereka terang. Mereka menetap di stepa-stepa Asia tengah, dan keseluruhan benua itu dinamai dari tanah mereka, Aesya. Setelah Aesir datang, orang-orang Circaesir, yang tinggal di baratdaya Aesya, menyebar ke dua arah sebagai alternatif daripada terus bergerak dalam rombongan yang menjadi sangat tidak nyaman. Nama “Circaesya” mungkin awalnya tidak mengacu pada area ini secara keseluruhan. (Ada sebuah teori yang menyatakan bahwa itu diambil dari “Zirghizia”, salah satu dari kawasan-kawasannya yang mereka lintasi.) Namun, istilah ini jadi berlaku pada tanah-tanah antara Aesya dan Arabaya.

Sebuah gelombang pasang menjelang 3.000 SM menggurunkan dataran Afrika utara di mana leluhur Circaesir pernah tinggal. Di satu sisi Circaesya, Aesya tidak menunjang lebih banyak orang, dan di sisi lain bangsa-bangsa Arab berdesakan meninggalkan gurun. Circaesir memberangus migrasi manusia terbesar, dan Circaesya menjadi zona perang karena bangsa-bangsanya bertarung demi tanah mereka.

Bangsa Celtik hanya salah satu dari banyak bangsa yang hidup di Circaesya. Mereka berada di area konflik terpanas, Laut Grass (dataran Ukraina dan Kazakhstan) persis sepanjang rute migrasi. Di sebelah selatan mereka, orang-orang dataran tinggi Iran juga merasakan tekanan. Selama ribuan tahun, kehidupan lebih mudah bagi orang-orang Circaesir di baratlaut yang menyebar sepanjang Danube. Sementara kerabat mereka di Laut Grass melestarikan kehidupan gembala, penghuni Danube belajar pertanian. Tapi pada milenium kedua sebelum masehi mereka juga merasakan tekanan kelebihan populasi. Banyak dari mereka bergerak ke selatan menuju Mediterania, menaklukkan budaya-budaya Mesopotamia di sana (utamanya Hamite), dan terpengaruh oleh mereka.

Sementara itu di Laut Grass, kehidupan berlangsung keras. Sekitar tahun 4.000 SM, sejumlah besar Circaesir keturunan Gomer, putera Japheth, bergerak ke utara menuju sebuah wilayah bernama Vanya (kini Rusia barat). Pada masa awal (lebih dari sepuluh ribu tahun lampau) kaum Vanya—disebut Vanir, pendahulu orang Finlandia modern—berperang dengan Aesir hingga menemui jalan buntu dan membuat gencatan senjata, bersepakat bahwa mereka akan tinggal di barat Sungai Don di Vanya jika Aesir mau membatasi Aesya sampai ke tanah di timur Sungai Don. Saat Circaesir keturunan Gomer tiba di Vanya ribuan tahun kemudian, mereka mengambil-alih wilayah itu dan mengembangkan budaya yang berbeda dan terpisah dari budaya di Circaesya. Mereka menjadi Jermanik, dan tidak boleh tertukar dengan orang Circaesir walaupun mirip secara fisik. Sekelompok Aesir yang disebut Volsungr sudah bergerak ke utara dan barat menuju Skandinavia. Pada akhir milenium keempat, mereka bentrok dengan Jermanik yang sedang merapat ke arah mereka dari Vanya.

Sebagian orang yang setipe dengan Jermanik masih tetap Circaesir. Kelas penguasa mereka memanggil diri mereka “Aria”, bermakna “noble” (“ningrat”), dan legenda-legenda mereka menyiratkan mereka datang dari Asia tengah, meski boleh jadi ini saduran tentang Kaum Kuno yang turun dari sebuah puncak gunung. Mereka menyembah Aries atau Marduk, pengawas para malaikat yang jatuh (iblis), dan seorang “Aria” adalah keturunan Aries.

Pada milenium kedua, orang-orang Circaesir ini terpaksa bergerak ke baratdaya melawan arus gelombang migrasi. Mereka mengambil-alih dataran tinggi Iran dan menaklukkan peradaban Dravidian India. Berkerabat dekat dengan Jermanik utara dan dengan Achaea Yunani, mereka menyebut leluhur mereka (Japheth) sebagai “Djapatischta”. Orang-orang yang masuk ke Persia berubah keyakinan dan menyembah Tuhan Langit, sedangkan orang-orang yang pergi ke India terus menyembah Marduk.

Saya hanya menyinggung segelintir Circaesir dalam artikel ini. Mereka memiliki tubuh kuat yang sama, tinggi sedang yang sama, dan roman kecil yang sama, tapi warna kulit mereka sangat beranekaragam. Sejarah gemar perang menjadikan mereka tipe dominan, tapi mereka ahli dalam mencegah konflik dan tidak memusnahkan budaya-budaya yang bekerjasama dengan mereka. Sayangnya mereka tidak punya mekanisme untuk menghentikan perang di tengah jalan. Ini karena saat mereka hidup dengan undang-undang mereka sendiri, jika kemampuan negosiasi hebat mereka tak mampu mencegah perang, maka tidak ada alternatif. Perlu diingat bahwa di banyak negeri, mereka terbukti bermanfaat bagi kaum yang mereka taklukkan, sebab Circaesir melindungi negeri mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.