Lebih Dari Satu Adam? Tempat China Dalam Filologi

Sumber: Australian National University Press

Pada masa Edkins, sejarah bahasa-bahasa Indo-Eropa telah dipertunjukkan dan diterima. Dorongan besar untuk studi ini adalah pertumbuhan kesarjanaan Eropa mengenai bahasa Sanskerta, dan tokoh utama dalam bidang ini di paruh pertama abad 19 adalah Franz Bopp (1791-1867). Bopp menunjukkan hubungan antara bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Yunani, bahasa Latin, dan bahasa-bahasa Jermanik (dan kemudian bahasa Slavonia Lama, bahasa Lituania, dan Zend—bahasanya kitab-kitab Avesta Zoroaster) melalui studi perbandingan bentuk-bentuk tatabahasa; jadi karya pertamanya adalah mengenai infleksi verba. Dia paling dikenal atas bukunya, Comparative Grammar of the Sanskrit, Zend, Greek, Latin, Lithuanian, Gothic, German, and Slavonic Languages, yang terbit di Jerman sejak 1833 dan dalam terjemahan Inggris mulai 1845.[30]

Komentar Edkins tentang proyek Indo-Eropa membuka bukunya:

Untuk menunjukkan bahwa bahasa-bahasa Eropa dan Asia dapat dirujuk ke satu sumber di kawasan Mesopotamia dan Armenia, adalah tujuan karya ini. Para filolog Sanskerta, terkagum-kagum pada harta yang mereka temukan di selatan rangkaian Himalaya, lupa melihat ke utara penghalang besar itu. Membatasi riset pada kawasan-kawasan yang dilewati Alexander Agung, mereka biarkan diri mereka berasumsi bahwa tak ada jalur terakses yang dengannya penyelidik liguistik dapat secara legal menjangkau area luas di luar perbatasan mereka. Akibat dari pemantangan Bopp ini dan sarjana masyhur lain adalah bahwa ide membandingkan bahasa China, Mongol, dan Jepang dengan bahasa ibu kita sendiri terasa tak masuk akal, tak ada harapan, dan tak beralasan bagi sebagian pihak.

“Tapi,” lanjutnya:

…Injil, berbicara dengan suara otoritatif dan dari zaman kuno, menegaskan kesatuan ras manusia, mencatat ciri-ciri paling umum dari penanaman bangsa-bangsa di masa purba, dan mendeklarasikan bahwa semua manusia dahulu berbicara dalam satu bahasa. Buku paling ditakzimkan dan paling kuno di antara buku-buku manusia, dalam membuat pernyataan-pernyataan ini, memancarkan cahaya terang dan mantap pada kesamaran sejarah, dan di saat bersamaan menyingkap ketidaksempurnaan pandangan yang dipegang oleh beberapa pemikir dan penulis modern yang menyangkal bahwa bahasa-bahasa dunia memiliki satu sumber dan bahwa ras-rasnya berasal dari satu leluhur.

Edkins sama sekali bukan orang pertama yang melihat pertautan antara bahasa China dan bahasa bangsa-bangsa jauh di barat—bahasan seperti ini bermula sekurangnya sejak An Historical Essay Endeavouring a Probability that the Language of the Empire of China is the Primitive Language karangan John Webb yang diterbitkan pada 1669.[31] Kebanyakan dari karya-karya ini merujuk pada kronologi biblikal, yang pembahasan rincinya akan dimuat di bawah. Bukti krusial yang diajukan untuk kebenaran dalil Edkins datang dari permulaan pasal 11 kitab Kejadian: “Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya.” Namun, pertama-tama kita harus mencatat bahwa Injil hanyalah stimulus untuk karya Edkins, dan tidak membebaskan sang sarjana dari penelitian lebih lanjut, yang diberi informasi oleh studi-studi paling maju di masanya. Bahkan, Edkins menempatkan karyanya dalam konteks linguistik modern sepenuhnya dan di dalam buku ini dia melancarkan kritik serius terhadap pengetahuan linguistik yang diakui. Jadi, bersandar pada hipotesis “regenerasi dialek” milik Max Müller—pertama kali dipublikasikan dalam Lectures on the Science of Language karangan Müller pada 1864—guna menopang argumennya, Edkins berpendapat bahwa bahasa-bahasa Indo-Eropa berinfleksi dan bahasa-bahasa aglutinatif (seperti bahasa Tartar, India Selatan, dan Jepang) pada dasarnya bertalian. Ini tidak menghormati ide-ide kontemporer perihal taksonomi bahasa dan menjadi alasan, klaim Edkins, atas dikecualikannya bahasa-bahasa Asia dari filologi perbandingan. (Aglutinasi adalah penggunaan imbuhan untuk membentuk kata baru dari kata dasar, contoh: guna -> menggunakan—penj.)

Yang lain adalah apa yang disebut sifat isolatif beberapa bahasa ini, dan bahasa China adalah kasus klasik. Dalam bahasa China, sebagian besar morfem mengambang bebas dan mengandalkan sintaks untuk memperoleh fungsi tatabahasa: kata-kata tidak berinfleksi, sebagaimana dalam kebanyakan bahasa Eropa, dan tidak pula merekat (glue together)—akar etimologis dari “aglutinatif”—sebagaimana dalam bahasa Jepang. Dalam kasus bahasa China, jelas mustahil untuk membandingkan akhiran kata kerjanya dengan akhiran kata kerja dalam, katakanlah, bahasa Sanskerta, karena bahasa China tidak memilikinya. Jadi, Edkins berusul supaya akar kata dalam bahasa China dan bahasa-bahasa serupa dibandingkan untuk membawa mereka ke dalam lipatan perbandingan. Ini tidak menarik hati beberapa pengulas tapi ini melambangkan usaha untuk memasukkan sebuah metodologi orisinil yang dirancang untuk menjawab persoalan yang sebelumnya diabaikan begitu saja.

Implisit dalam argumen Edkins adalah pembelaannya bukan saja untuk Injil secara umum, tapi, secara lebih spesifik, untuk pandangan bahwa bahasa-bahasa umat manusia memiliki sumber tunggal. Bagi Edkins, dengan karakter ilmiah pikirannya, menemukan bahasa Adam takkan pernah menjadi proyek kesarjanaan yang layak dikerjakan, meski dia sendiri berspekulasi tentang sifat “bahasa purba” tersebut. Justru, dalam menunjukkan argumen monogenetis atas dasar filologi semata, bisa dibilang Edkins berusaha meletakkan fondasi ilmiah agama. Dalam perdebatan ini, perlu ditekankan sekali lagi bahwa bagi Edkins, Injil bukanlah bukti; alih-alih, itu adalah argumen filologis—dan ilmiah modern lain—yang bekerja menuju pemulihan nama baik Injil. Dia menerapkan sikap yang sama pada satu bidang aktif lain dalam kesarjanaan abad 19: “Setelah menyaring temuan-temuan mutakhir yang didapat para geolog mengenai zaman kuno, adalah tugas teolog Kristen untuk memeriksa sekali lagi persoalan kronologi Biblikal. Semua informasi baru dari tempat-tempat tak terduga perihal subjek ini harus diterima dengan gembira…”[32]

Dan, demikian halnya, Edkins mengadopsi model evolusi linguistik yang dipelopori Max Müller berdasarkan model Darwinian. The Origin of Species diterbitkan pada 1859, dan menyediakan alat-alat untuk linguistik yang mampu mengubah studi ini menjadi ilmu pengetahuan, di mana hukum linguistik setara dengan hukum ilmu pengetahuan alam. Dengan sigap Müller mengadopsi model seleksi alam dalam bahasa dan berargumen, di dalam Lectures on the Science of Language, bahwa bahasa-bahasa terbentuk, berubah, dan punah melalui serentetan proses yang dapat disamakan dengan model biologis, kecuali bahwa:

…seleksi alam, jika kita bisa selalu melihatnya, merupakan seleksi rasional tanpa kecuali. Bukan keanekaragaman secara kebetulanlah yang bertahan hidup dan melanggengkan diri; [tapi] individu yang paling mendekati niat awal penciptanyalah, atau yang dirancang paling baik untuk mencapai tujuan penciptaan jenis atau spesiesnyalah, yang menang dalam pergulatan hidup. Jadi ini ada dalam pikiran dan bahasa.[33]

Dengan demikian, hal-hal urgen agama dan sains terpenuhi: pokok-pokok kepercayaan aman dari penggulingan oleh temuan filologi perbandingan dan filologi perbandingan bisa mengambil tempat di sisi astronomi dan geologi dalam kuil sains.

Pandangan ini tentu saja sangat bisa diterima oleh Edkins, memberinya mekanisme perubahan linguistik untuk diterapkan pada model akbar miliknya, model perkembangan bahasa-bahasa dunia. Namun mesti dicatat bahwa bagi Edkins evolusi bahasa tidak bersifat teleologis. Mungkin kita terlalu terbiasa melihat proses evolusi biologis yang menghasilkan diri kita; dengan kata lain, dari kurang kompleks ke lebih kompleks di jenjang perkembangan. Padahal seleksi alam tak mesti menghasilkan kompleksitas lebih besar, intinya kecocokan lebih besar dengan lingkungan di mana organisme berada. Jadi, bagi para ahli linguistik pengiman Alkitab, evolusi bahasa sederhananya berarti perubahan bahasa karena orang-orang yang berbicara dalam setiap bahasa berada di lingkungan baru. Ini penting dari dua sudutpandang: pertama, bahasa orisinil diberikan Tuhan kepada Adam dan tak terbayangkan bahwa bahasa pertama ini mengalami penyempurnaan seiring waktu—yang ada justru sebalinya, sebagaimana dalam model kemerosotan; kedua, Edkins dan kolega sangat cakap secara linguistik dan pasti menyadari bahwa bahasa-bahasa tidak mesti bertambah kompleks seiring berlalunya waktu. Bahasa-bahasa kuno seperti Latin, Yunani, dan Ibrani tidak kurang kompleks dibanding bahasa Inggris modern atau bahasa China modern.

Kembali ke bukunya sendiri: China’s Place in Philology berbunyi sebagai sejarah linguistik dan kultural, dari prasejarah sampai perkembangan bahasa-bahasa Eropa di masa sejarah relatif belakangan. Tak ada ruang di sini untuk menyampaikan ringkasan lengkap karya Edkins, dan bahkan sebagian besarnya rumit dan perlu dibaca secara cermat untuk mengikuti argumennya. Jadi di sini saya akan berkonsentrasi pada tiang-tiang fondasi risetnya dan memberikan garis besar pandangan-pandangannya.

Argumen Edkins sebetulnya tidak bertolak dari bahasa tapi dari perbandingan antara peradaban bangsa China kuno dan peradaban penghuni kuno Timur Tengah: “Kemiripan antara peradaban China lama [yakni kuno] dan peradaban ras Hamit [yakni, keturunan Ham, putera kedua Nuh] yang dahulu berkembang di tepi sungai Nil dan Eufrat sangat luar biasa.”[34]

Kemudian menyusul sederet kemiripan adat-istiadat, metode pertanian, dan arsitektur, di antara topik-topik lain, dan diajukanlah dalil dasar:

Begitu dekat kemiripan dalam hal kecerdasan di antara keturunan Cush dan Mizraim [dua putera Ham], yang mendirikan seni-seni pertama barat, dan bangsa China, yang selalu berkuasa paling tinggi dalam intelektualitas dan kepintaran tangan di timur wilayah Indo-Eropa, mengindikasikan kemungkinan pertalian ras.[35]

Yang penting, bagi Edkins, terdapat pula pertalian erat antara ibadah, pengorbanan, dan bangunan keagamaan di Tanah Suci kuno dan di China. Baginya ini menunjukkan monoteisme asli di China, monoteisme yang berasal dari leluhur bersama dengan bangsa-bangsa Semit. Sikap ini menggema sepanjang sejarah perjumpaan Barat dengan China, terutama tentu saja di kalangan misionaris di mana kemungkinan perpindahan agama dianggap lebih tinggi jika, dalam akar agama China, terdapat kepercayaan pada satu dewa mahakuasa—apalagi jika dewa tersebut sebetulnya, aslinya, adalah Yehovah. Itu juga memiliki konsekuensi langsung terhadap kontroversi paling panjang dan paling sengit di antara persaudaraan misionaris di China abad 19—yakni apa yang disebut persoalan istilah. Inti “persoalan istilah” dapat dinyatakan dengan mudah: apa terjemahan terbaik kata “God” dalam bahasa China? Mana, jika ada, di antara kata-kata dalam teks China yang bermakna “God”-nya orang Kristen? Bergudang-gudang upaya manusia dicurahkan pada pertanyaan-pertanyaan ini, dan kesengitan seringkali tidak jauh dari permukaan, karena, setidaknya bagi kaum Protestan, terjemahan Injil merupakan inti pekerjaan keagamaan mereka dan memahami kata “Tuhan” dengan benar adalah keharusan. Jadi, jika China kuno betul-betul keturunan kaum yang pernah menerima wahyu asli, maka misteri dan sifat agama China kuno dapat dipahami dan kata/istilah yang tepat dapat diidentifikasi.

Sama jelasnya bagi Edkins, selain monoteisme asli China, adalah fakta bahwa, teramati di sekitarnya di Beijing serta dalam teks-teks paling kuno, praktek keagamaan China juga mencakup fitur-fitur yang tidak dijumpai dalam agama semit kuno. Salah satu praktek non-monoteistik ini adalah peran yang dimainkan benda-benda angkasa dalam astrologi serta pemujaan bintang. Edkins memakai istilah “Sabeanisme” untuk mendeskripsikan gaya penyembahan ini, menjelaskan: “Bahwa China awal pasti, di samping monoteisme mereka, telah terjangkiti Sabeanisme yang dikutuk Ayub, dan dengan adanya beberapa penggunaan musyrik lain yang didapati berlaku lama kemudian di negara-negara asalnya dan yang dilaluinya, tak perlu diherankan…”[36]

Jadi, bangsa yang kita kenal sebagai China berasal dari kawasan Mesopotamia dan bermigrasi perlahan-lahan ke arah timur, tiba di China pada “hampir 3.000 SM”. Mereka memasuki tanah itu, “melalui jalan raya biasa dari Tartar Muslim, menuju Kansu dan Shensi, mendirikan koloni-koloni sepanjang tepian anak-anak sungai Yellow River, di mana kita menemukan para leluhur keluarga tersebut,”[37] kemudian menyebar ke area-area permukiman awal China yang kita ketahui dari teks kuno.

Namun, orang-orang China ini bukan yang pertama memasuki teritori China. Dalam skema Edkins, “migrasi ras-ras mengikuti radius dari pusat bersama di mana pasangan manusia pertama diciptakan”.[38] Satu rute adalah ke India lewat Punjab dan disusul pertama-tama oleh bangsa Dravida “dan kemudian kaum Hindu”. Satu kelompok lain—ras-ras Himalaya Timur dan Barat—menyeberangi Tibet dan mengikuti Sungai Brahmaputra, ke selatan dan timur menuju Indo-China dan ke utara dan timur menuju China baratdaya. Sementara itu, orang-orang China pergi ke utara dan barat sepanjang apa yang kelak dikenal sebagai Jalur Sutera. Cabang Himalaya yang memasuki China dari selatan merupakan, menurut Edkins, kelompok-kelompok etnis “Miau, Lo lo, Nung, dan Yau” yang dikenal menurut pembagian terkini sebagai “minoritas kebangsaan”. Cabang selatan ini bertemu dengan cabang utara di berbagai kawasan di China.

Mengikuti penjelasan ini—bagaimana orang China memasuki teritori yang ditakdirkan untuk mereka—Edkins bergerak mundur untuk berpostulat tentang asal-usul bahasa itu sendiri. Dia mengemukakan bahwa beberapa unsur dan karakteristik “bahasa purba” dapat diperoleh kembali melalui perbandingan filologis. Jadi, “bahwa itu bersukukata satu, hal ini dapat disimpulkan dari fakta bahwa dalam semua rumpun, mulai dari Indo-Eropa ke atas, akar-akarnya bersukukata satu” [39] dan “struktur kalimat dalam bahasa purba, patut disimpulkan, menuruti tatanan alam. [Subjek] nominatif mendahului kata kerja transitif, dan kata kerja transitif mendahului objeknya. Bahasa China, bahasa Ibrani, dan bahasa Inggris sepakat di sini.”[40] Cara lain untuk menentukan sifat bahasa pertama, tentu saja, adalah dengan berpaling kepada Injil. Pernyataan klasik mengenai asal-usul bahasa di dalam Alkitab datang dari pasal kedua Kitab Kejadian: “Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada Adam untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan Adam kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu..”[41] Ini, dalam bacaan Edkins, berarti bahwa meski “bantuan ilahi” disyaratkan untuk menghasilkan bahasa, itu belum maju sepenuhnya di tahap tersebut. Ini karena aksi bahasa paling awal adalah penamaan binatang—kecakapan utuh bahasa adalah proses bertahap yang ditolong oleh bantuan ilahi tapi tidak dikaruniakan lengkap. Edkins mengutip Dr. Magee dalam konteks ini: “Adalah cukup jika kita menduga penggunaan bahasa mengajarinya [Adam] berkenaan dengan hal-hal yang diperlukan, dan bahwa dia dibiarkan menggunakan pancainderanya sendiri untuk perbaikan lebih lanjut dari fondasi ini.”[42]

Setelah menetapkan karakteristik dasar bahasa purba, Edkins menyoroti isu penting pemaduan kronologi Alkitab dengan skema perkembangan bahasa miliknya. Kejatuhan bahasa purba adalah, tentu saja, Kekisruhan Bahasa-bahasa (Confusion of Tongues) di Menara Babel, sebuah kejadian yang Edkins tanggalkan pada angka 400 tahun pasca Banjir Nuh, yang mana terjadi 2.200 tahun setelah Penciptaan.[43] Namun, sikapnya tentang Babel boleh jadi mengejutkan:

Keterangan Injil soal Banjir Besar dan Kekisiruhan Bahasa-bahasa, saya kira, mengacu terutama pada dunia menurut dimensi-dimensinya sebagaimana dipahami waktu itu, πάσα οίκονμένη [pasa oikoumene, semua kawasan berpenghuni pada hari itu]. Koloni-koloni yang pergi keluar batas Banjir Nuh, jika ada, hilang dari pandangan.[44]

Menurutnya, ini memperkenankan kemungkinan bahwa dalam beberapa kasus tertentu bahasa purba telah selamat dari intervensi Tuhan, meski para penutur bahasa purba, atau keturunan mereka tak lagi hidup di dunia yang dikenal oleh bangsa Babilonia. Dia mengutip dua kasus: pertama, dalam Kejadian 4 dikatakan bahwa ketika Cain diusir dari hadapan TUHAN Allah, dia mendiami tanah Nod, di timur Eden”.[45] Dengan isterinya, dia lalu menghasilkan garis suksesi yang memanjang dari Henokh sampai Lamekh dan selebihnya. Terkait ini, Edkins berkata:

Bani Cain pergi…ke timur. Apakah mereka dan keturunan Adam lainnya masuk ke Asia Timur dan Amerika selama 2.000 tahun itu, yang kini kurang diketahui, kita tidak bisa pastikan. Jika ya, mereka berada di luar jangkauan Banjir Besar, yang menurut sains tidak mencapai bagian-bagian jauh benua.[46]

Kasus kedua adalah bani Cush, keturunan Cush, putera Ham, cucu Nuh dan ayah Namrud, si pemburu perkasa. Bani Cush waktu itu adalah bangsa Namrud yang membangun Menara di Babel. Edkins mengemukakan, atas dasar persamaan budaya Babilonia dan China yang dia amati sebelumnya, bahwa gelombang emigrasi yang melahirkan orang China kuno pergi dari kawasan bani Cush sesudah Banjir—dengan begitu mengakuisisi peradaban Babilonia—tapi sebelum Kekisruhan Bahasa-bahasa—sehingga melestarikan bahasa purba. Jadi, ketika orang-orang China ini tiba di China dari utara, mereka mengusir orang-orang yang ditemui di sana, yaitu orang Himalaya Timur dan Barat yang tiba lebih awal dari selatan, dan yang merupakan hasil migrasi dari sebelum Banjir, dan karenanya kurang beradab. Ini menjelaskan kenapa kedua kelompok di China berbicara dalam bahasa-bahasa bersukukata satu seperti bahasa purba berhubung mereka tidak menderita hukuman Tuhan pasca Menara Babel.

Saya sudah menghabiskan banyak ruang untuk penjelasan Edkins tentang asal-usul bangsa China dan bahasa mereka. Dalam sisa bukunya, dengan perspektif serupa dia berlanjut menjelaskan bahasa Semitik, Himalayik, Turan, Malayu-Polinesia, dan rumpun-rumpun bahasa Indo-Eropa, meski saya tidak akan membahas landasan tersebut di sini. Biar saya tambahkan bahwa, seraya mengkatalogkan bagian-bagian karya Edkins yang telah saya kesampingkan dalam makalah ini, setiap langkah dari bangunan perkembangan miliknya tergambar dengan banyak contoh linguistik yang menunjukkan luasnya pengetahuan Edkins. Namun, poin dari seluruh upaya ini tetap menjadi bukti kesatuan fundamental bahasa-bahasa dunia dan bangsa-bangsa dunia, dan khususnya wahyu asli yang diterima semua bangsa pada permulaan. Dalam kesimpulan yang dia tulis, di antaranya mengutip pasal 17 Kitab Kisah Para Rasul dan sebuah petikan masyhur dari Lectures on the Science of Religion karya Max Müller:

“Dari satu orang saja Tuhan telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi.” Ketika orang Eropa pergi ke benua-benua lain, sebagai pelancong, kolonis, misionaris, dan pengadab, di mana-mana dia bertemu manusia dari ras yang sama. “Tapi apa kesamaan kita dengan orang Turan, orang China, dan orang Samoyedik? Mungkin kedengarannya sangat sepele: padahal itu sangat tidak sepele, sebab itu adalah perikemanusiaan kita semua. Bukan kulit kuning, atau tulang pipi tinggi, yang menjadikan manusia. Bahkan, jika kita menatap kokoh ke dalam mata hitam orang China, kita akan temukan bahwa di situ juga ada jiwa yang menanggapi jiwa, dan bahwa Tuhan yang mereka maksud adalah Tuhan yang kita maksud, betapapun sia-sia doa mereka, betapapun cacat ibadah mereka.” Bahasa membuktikan mereka satu dengan kita.[47]

Dengan demikian, monogenisme radikal Edkins ditopang di satu sisi oleh keyakinan kokohnya pada kebenaran harfiah Injil, dan di sisi lain oleh etika persaudaraan semua bangsa; bangsa biadab, bangsa barbar, dan bangsa beradab. Dalam sejenis esai balasan di The China Review terhadap beberapa resensi tajam atas China’s Place in Philology, Edkins mendeskripsikan dua mazhab pemikiran terkait China kuno. Yang pertama, klaimnya, “memandang peradaban lama China sebagai tumbuh sendiri, tak mengharapkan adanya pertalian dengan kekaisaran-kekaisaran Asiatik lama dari Perjanjian Lama, dan dalam banyak hal mengurangi kredit yang diberikan kepada China kuno”. “Kubu lain,” di mana Edkins adalah anggotanya, ungkapnya, “ingin menyelaraskan kesimpulan aman para geolog dan etnolog modern mengenai zaman kuno, baik dengan tradisi historis Yudea dan Babilonia, maupun dengan tradisi China.” Pilihan di antara mereka, katanya adalah antara dalil bahwa “agama, bahasa, dan sejarah memiliki satu sumber” dan alternatif bahwa “ada lebih dari satu Adam”.[48] Dalam pandangannya, model poligenetik apapun, menurut definisi, bertentangan dengan sains, bertentangan dengan Injil, bertentangan dengan persaudaraan bersama.

Catatan

[30] Franz Bopp (diterjemahkan oleh Edward B. Eastwick), A Comparative Grammar of the Sanskrit, Zend, Greek, Latin, Lithuanian, Gothic, German, and Sclavonic Languages (London, Madden & Malcolm; James Malcolm: London, 1845-1850)
[31] Lihat Rachel Ramsey, China and the Ideal of Order in John Webb’s ‘An Historical Essay…’ Journal of the History of Ideas 62, 3 (July 2001), 483-503.
[32] Edkins, China’s Place in Philology, hal. xx.
[33] M. Müller, Lectures on the Science of Language, dikutip dalam R. Harris dan T.J. Taylor, Landmarks in Linguistic Thought: The Western Tradition from Socrates to Saussure (London: Routledge, 1989), hal. 166.
[34] Edkins, China’s Place in Philology, hal. 1.
[35] Ibid, hal. 2.
[36] Ibid, hal. 30. Kutukan Ayub dapat ditemukan di Ayub 31: 26-28: “Jika aku melihat pada matahari ketika ia sedang bersinar, atau bulan yang sedang berjalan dalam keindahannya; Sehingga diam-diam hatiku terpikat, dan mulutku mengecup tanganku: Ini juga akan menjadi kesalahan yang harus dihukum oleh hakim, karena aku sudah menyangkal Allah yang ada di atas.”
[37] Ibid, hal. 31.
[38] Ibid, hal. 34.
[39] Ibid, hal. 51.
[40] Ibid, hal. 55.
[41] Kejadian 2:19.
[42] 65, On the Atonement, Dissert. 53. Ini kemungkinan besar adalah William Magee, berturut-turut Uskup Raphoe dan Uskup Agung Dublin, Discourses & Dissertations on the Scriptural Doctrines of Atonement & Sacrifice: and on the Principal Arguments Advanced, and the Mode of Reasoning Employed, by the Opponents of those Doctrines as Held by the Established Church: with an Appendix Containing some Strictures on Mr. Belsham’s account of the Unitarian Scheme, in his Review of Mr. Wilberforce’s Treatise (London, 1801).
[43] Edkins secara umum mengikuti kronologi milik Dr. William Hales (1778-1821) yang ditemukan dalam A New Analysis of Chronology; in which an Attempt is Made to Explain the History and Antiquities of the Primitive Nations of the World, and the Prophecies Relating to them, on Principles Tending to Remove the Imperfection and Discordance of Preceding Systems, 3 vol. (London, 1809-1812). Hales mengikuti teks Septuaginta, berbeda dari kronologi lebih terkenal milik Uskup Agung James Ussher (menanggalkan Penciptaan pada angka 4004 SM) yang mendasarkan karyanya pada teks Masoretik.
[44] Edkins, China’s Place in Philology, hal. 67-68.
[45] Kejadian 4:16.
[46] Edkins, China’s Place in Philology, hal. 68.
[47] Ibid, hal. 395.
[48] Edkins, Chinese Philology, The China Review 1, 3 (1872), 181-190, 1, 5 (1873), 293-300, hal. 181-182.

One thought on “Lebih Dari Satu Adam? Tempat China Dalam Filologi

  1. Kalau sudah mengurai sesuatu dari sudut pandangan agama khususnya berlandaskan kitab sucinya, maka sulit pula diterima oleh yang memiliki kebudayaan dan keyakinan lainnya. Hal tersebut diterima sebagai pembenaran saja berdasarkan subyektivas semata.
    Beda dengan uraian ilmiah berlandaskan sains yang menghasilkan teknologi yang bermanfaat bagi manusia. Hasil teknologi seperti HP dapat diterima oleh siapaun tanpa memandang agama dan keyakinan apapun.
    Terbaik adalah perbaikilah sikap dan sifat dogmatis dari setiap agama khususnya agama samawi agar tidak tergerus dengan perkembangan zaman. Berdirilah ditempat yang tinggi dimuka bumi ini dan pandanglah kebawa, terdapat aneka rupa yang menghias permukaannya. Disitu kita akan mendapatkan kesimpulah tentang kehidupan manusia sebenanya penuh dengan warna warni sikap dan sifat sesungguhnya, tak perlu harus menang sendiri seolah kita dan kelompoknya yang paling benar, pasti akan masuk surga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.