Kutipan Pengetahuan

“Saya benci kutipan. Katakan saja apa yang kau ketahui.” (Ralph Waldo Emerson)

“Sains hanyalah setitik dari luasnya hakikat alam semesta. Marilah kita mendengar pendapat alternatif tanpa peduli benar tidaknya. Demi mengintip luasnya samudera ilmu yang masih menjadi misteri.” (Agulinovich)

“Sains adalah ilmu pengetahuan yang tertata rapi. Sedangkan kebijaksanaan adalah kehidupan yang tersusun indah.” (Imanuel Kant)

“Sains tidak bisa memecahkan misteri tertinggi Alam. Sebab menurut analisis terakhir, kita sendiri merupakan bagian dari misteri yang tengah coba kita pecahkan.” (Max Planck) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 167)

“Sains tanpa agama adalah pincang. Tapi agama tanpa sains adalah buta.” (Albert Einstein) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 345)

”Sains adalah persamaan diferensial. Agama adalah kondisi batas.” (Alan Turing) (Sumber: John D. Barrow, New Theories of Everything, New York: Oxford University Press, 2007, hal. 44)

“Sains bukan hanya cocok dengan spiritualitas; ia merupakan sumber mendalam spiritualitas.” (Carl Sagan) (Sumber: Nancy K. Frankenberry (Editor), The Faith of Scientists in Their Own Words, New Jersey: Princeton University Press, 2008, hal. 224)

“Sains hanya bisa dibentuk oleh mereka yang sepenuhnya dikaruniai aspirasi menuju kebenaran dan pemahaman. Namun, sumber perasaan ini bersemi dari bidang agama. Untuk ini, mesti ada pula keyakinan terhadap kemungkinan bahwa peraturan yang valid untuk dunia eksistensi adalah rasional, yaitu, dapat dimengerti oleh akal. Saya tak bisa membayangkan seorang ilmuwan sejati yang tak memiliki keyakinan mendalam tersebut.” (Albert Einstein) (Sumber: Nancy K. Frankenberry (Editor), The Faith of Scientists in Their Own Words, New Jersey: Princeton University Press, 2008, hal. xv)

“Saya belum menemukan ungkapan yang lebih baik daripada “relijius” untuk keyakinan terhadap sifat rasional realitas, sepanjang dapat dicapai oleh akal manusia. Kapanpun perasaan ini tak hadir, sains merosot menjadi empirisme tak bergairah.” (Albert Einstein) (Sumber: Nancy K. Frankenberry (Editor), The Faith of Scientists in Their Own Words, New Jersey: Princeton University Press, 2008, hal. 152)

“Sedikit pengetahuan mengenai sains membuat anda menjadi atheis, dan pengetahuan sains yang mendalam menjadikan Anda percaya kepada Tuhan.” (Sir Francis)

“[Alam semesta] tidak dapat dibaca sampai kita mempelajari bahasanya dan akrab dengan karakter tulisannya. Ia tertulis dalam bahasa matematika, huruf-hurufnya adalah segitiga, lingkaran, dan gambar geometris lain, tanpanya, secara manusiawi mustahil untuk memahami sepatah kata pun.” (Galileo Galilei) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 226)

“Hukum alam ditulis oleh tangan Tuhan dalam bahasa matematika.” (Galileo Galilei) (Sumber: Walter L. Bradley, Is There Scientific Evidence for the Existence of God?, hal. 8)

“Pengalaman melewati jalan panjang meyakinkan Einstein bahwa matematika bisa menjadi kawat telegraf menuju Tuhan.” (Dennis Overbye) (Sumber: Dennis Overbye, Misteri Alam Semesta, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 85)

“Tujuan utama semua penyelidikan dunia eksternal adalah menemukan tatanan rasional dan harmoni yang telah diberlakukan padanya oleh Tuhan dan yang Dia ungkapkan kepada kita dalam bahasa matematika.” (Johannes Kepler) (Sumber: Walter L. Bradley, Is There Scientific Evidence for the Existence of God?, hal. 7-8)

“Sedikit-banyak, hukum fisika terlihat analogis dengan grammar dan bahasa yang Tuhan pilih gunakan.” (Don Page) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 356)

“Fisikawan merupakan satu-satunya ilmuwan yang bisa mengucapkan kata ‘Tuhan’ dan tidak merasa malu.” (Teolog Paul Tillich) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 357)

“Secara pribadi, dari sudut pandang ilmiah murni, saya pikir mungkin argumen paling kuat untuk eksistensi Tuhannya Spinoza dan Einstein datang dari teologi…” (Michio Kaku) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 358)

“Betul, fisikawan berdiri sendirian di antara ilmuwan dalam memecahkan salah satu pertanyaan terbesar manusia: apakah terdapat rancangan besar? Dan jika demikian, apakah ada perancang? Jalur mana yang benar untuk menuju kebenaran, akal atau wahyu? Teori string memperkenankan kita untuk memandang partikel subatom sebagai not pada string yang bervibrasi; hukum kimia sama dengan melodi yang bisa dimainkan oleh seseorang dengan string-string ini; hukum fisika sama dengan hukum harmoni yang mengatur string-string ini; alam semesta adalah simfoni string; dan pikiran Tuhan dapat dipandang sebagai musik string yang bervibrasi ke seluruh hyperspace. Jika analogi ini valid, seseorang pasti mengajukan pertanyaan berikutnya: apakah ada komposernya? Apakah seseorang merancang teori untuk memperkenankan keberlimpahan alam semesta potensial yang kita jumpai dalam teori string? Bila alam semesta adalah seperti jam yang disetel halus, adakah pembuat jam ini?” (Michio Kaku) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 357)

“Dalam perbendaharaan kosakata baru ini, hukum ilmu fisika, yang dibangun secara hati-hati setelah ribuan tahun eksperimen, tidak berarti apa-apa selain hukum harmoni yang bisa ditulis seseorang untuk string dan membran. Hukum ilmu kimia adalah melodi yang bisa dimainkan oleh seseorang dengan string ini. Alam semesta adalah simfoni senar. Dan “Pikiran Tuhan”, yang Einstein tulis dengan jelas, adalah musik kosmik yang menggema ke seluruh hyperspace. Ini menimbulkan pertanyaan: Jika alam semesta merupakan sebuah simfoni senar, maka apakah ada komposernya?” (Michio Kaku) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 34)

“Sistem matahari, planet, dan komet terindah hanya bisa berawal dari nasehat dan kendali Entitas cerdas dan berkuasa.” (Newton) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 345)

“Betul, Isaac Newton sendiri, yang memperkenalkan konsep hukum tetap yang memandu planet-planet dan bintang-bintang tanpa intervensi tuhan, percaya bahwa keeleganan hukum ini mengarah pada eksistensi Tuhan.” (Michio Kaku) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 256)

“Keteraturan menawan yang diperlihatkan oleh pemahaman kita atas dunia fisik menuntut adanya ketuhanan.” (Vera Rubin) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 256)

“Mengingat keharmonian sedemikian luar biasa yang mampu saya identifikasi di kosmos, dengan pikiran terbatas saya sebagai manusia, masih saja ada orang-orang yang mengatakan tidak ada Tuhan. Tapi yang betul-betul membuat saya marah adalah mereka mengutip saya untuk mendukung pandangan semacam itu.” (Albert Einstein)

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (QS ath-Thuur [52]: 35-36)

“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa,’ dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS al-Jaatsiyah [45]: 24)

“Alam semesta bukan hanya ‘dunia tua’, tapi juga istimewa dan disetel halus untuk kehidupan karena ia merupakan ciptaan Tuhan yang berkehendak demikian.” (Pendeta John Polkinghorne) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 256)

“Bagi Newton, alam semesta adalah seperti jam raksasa yang diputar di permulaan masa oleh Tuhan dan mendetak sejak saat itu, menurut tiga hukum geraknya, tanpa campur tangan Tuhan. Tapi sesekali, Tuhan sendiri harus sedikit mengintervensi dan men-tweak alam semesta, untuk mencegahnya kolaps. (Dengan kata lain, terkadang Tuhan harus mengintervensi untuk mencegah set panggung kehidupan kolaps di atas para aktor.)” (Michio Kaku) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 42)

“Jika laju perluasan satu detik setelah big bang lebih kecil sebesar 1 bagian dalam 100.000.000.000, [alam semesta] akan kolaps kembali sebelum ia mencapai ukurannya yang sekarang… Kemungkinan alam semesta seperti punya kita untuk tidak muncul dari sesuatu seperti big bang adalah besar sekali. Saya pikir terdapat implikasi relijius yang nyata.” (Stephen Hawking) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 349)

“Mengapa ada sesuatu, daripada tidak ada? Kegelisahan yang membuat jam metafisika terus berjalan adalah pemikiran bahwa ketidakeksisan dunia sama mungkinnya dengan keeksisannya.” (William James) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 344)

“Di permulaan alam semesta, ia menjadi ada karena diamati. Artinya “it” (materi di alam semesta) menjadi eksis ketika informasi (“bit”) alam semesta diamati.” (John Wheeler) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 182)

“Dr. Alexander Vilenkin, fisikawan Universitas Tufts di Somerville, Massachusetts, menyamakan alam semesta dengan sebuah gelembung dalam panci berisi air mendidih. Sebagaimana pada air, hanya gelembung-gelembung berukuran tertentu yang akan bertahan dan mengembang, yang lebih kecil akan kolaps. Jadi, dalam pembentukan, alam semesta harus melompat dari tanpa ukuran sama sekali – radius nol, ‘tanpa ruang dan tanpa waktu’ – menuju radius cukup besar untuk terjadinya inflasi tanpa melewati ukuran perantara, sebuah proses mekanis quantum yang disebut “tunneling” (penembusan/penerowongan).” (Dennis Overbye) (Sumber: Dennis Overbye, Misteri Alam Semesta, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 41-42)

“Apa yang Tuhan lakukan sebelum Dia menciptakan dunia? Filsuf dan penulis (dan kemudian menjadi santo) Augustine mengajukan pertanyaan ini dalam Confessions-nya di abad keempat, dan kemudian memajukan sebuah jawaban yang, secara mengejutkan, modern: sebelum Tuhan menciptakan dunia tidak ada masa/waktu dan karenanya tidak ada ‘sebelum’. Menurut ungkapan Gertrude Stein, saat itu tidak ada ‘saat itu’.” (Dennis Overbye) (Sumber: Dennis Overbye, Misteri Alam Semesta, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 37)

”Dengan demikian pasti dunia diciptakan, bukan dalam waktu, tapi serempak bersama waktu. Diciptakan dalam waktu [yang saya maksud] adalah diciptakan setelah maupun sebelum suatu waktu—setelah masa lampau, sebelum masa depan. Tapi kalau begitu tak ada masa lampau, sebab tak ada makhluk, yang durasi pergerakannya bisa diukur. Jadi serempak bersama waktulah dunia diciptakan.” (St. Augustine) (Sumber: John D. Barrow, New Theories of Everything, New York: Oxford University Press, 2007, hal. 77)

“Bagi saya sebagai seorang manusia, tak terpikir untuk mengklaim bahwa alam semesta ada tanpa pengamat. Kita adalah bersama-sama, alam semesta dan kita. Tatkala Anda berkata bahwa alam semesta eksis tanpa pengamat, saya tidak bisa mencernanya. Saya tidak bisa membayangkan sebuah theory of everything konsisten yang mengabaikan kesadaran. Suatu perangkat perekam tidak dapat memainkan peran seorang pengamat, sebab siapa yang akan membaca apa yang tertulis di perangkat perekam ini. Agar kita bisa melihat bahwa sesuatu terjadi, dan saling mengatakan kepada yang lain bahwa sesuatu terjadi, Anda harus memiliki alam semesta, Anda harus memiliki perangkat perekam, dan Anda harus memiliki kita… Tanpa adanya pengamat, alam semesta kita mati.” (Andrei Linde) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 176)

“Akan sangat malang menjadi atom di alam semesta tanpa fisikawan. Dan fisikawan sendiri terbuat dari atom. Fisikawan adalah cara atom mengenal atom.” (George Wald) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 351)

“Tidak mungkin merumuskan hukum mekanika quantum dengan cara yang konsisten sepenuhnya, tanpa merujuk pada kesadaran [pengamat]…studi dunia eksternal yang membawa pada kesimpulan bahwa kandungan kesadaran adalah realitas pokok.” (Eugene Wigner) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 176)

“Tapi jika saya melakukan pengamatan, siapa/apa yang akan menetapkan dalam kondisi mana saya berada? Artinya seorang lain harus mengamati saya untuk mengkolapskan fungsi gelombang saya. Ini terkadang disebut sebagai ‘temannya Wigner’. Tapi ini juga berarti bahwa seseorang harus mengamati temannya Wigner, dan temannya temannya Wigner, dan seterusnya. Apakah terdapat suatu kesadaran kosmik yang menentukan seluruh rentetan teman ini dengan mengamati seluruh alam semesta?” (Michio Kaku) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 176)

“Dunia sains quantum memberikan banyak keterangan mengenai persoalan peran kita di alam semesta, tapi dari sudut pandang berbeda. Jika seseorang menganut interpretasi Wigner atas persoalan kucing Schrödinger, maka kita harus memperhatikan peran kesadaran di mana-mana. Rantai pengamat yang tak berujung, masing-masing menatap pengamat sebelumnya, akhirnya membawa kepada pengamat kosmik, mungkin Tuhan sendiri. Dalam gambaran ini, alam semesta eksis lantaran ada Tuhan yang mengamatinya. Dan jika interpretasi Wheeler benar, maka seluruh alam semesta didominasi oleh informasi dan kesadaran. Menurut gambarannya, kesadaran adalah kekuatan dominan yang menentukan sifat eksistensi.” (Michio Kaku) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 350)

“Sudut pandang Wigner, pada gilirannya, menuntun Ronnie Knox menulis syair tentang pertemuan antara seorang skeptik dan Tuhan, merenungkan apakah sebuah pohon eksis di halaman berkeliling tembok apabila tak ada seorang pun di sana yang mengamatinya:

Suatu kali ada seseorang berkata, “Tuhan
pasti menganggap luar biasa ganjil
jika Dia mendapati pohon ini
terus ada
padahal tak ada seorang pun di Alun-alun.”

Seorang pelawak anonim kemudian menulis jawaban berikut:

Tuan yang terhormat, ketakjuban Anda ganjil
Aku selalu ada di Alun-alun
dan itulah mengapa pohon tersebut
akan senantiasa ada,
sebab diamati oleh Sahabat setia Anda—Tuhan

Dengan kata lain, pepohonan eksis di halaman berkeliling tembok karena seorang pengamat quantum senantiasa di sana untuk mengkolapskan fungsi gelombangnya—Tuhan sendiri.” (Michio Kaku) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 350-351)

“Menurut mekanika quantum biasa, sebuah elektron bisa dianggap tersebar di semua ruang sampai ia terukur dan teramati berada di suatu lokasi tertentu. Demikian pula, alam semesta kita tersebar di seluruh superspace sampai ia, entah bagaimana, teramati memiliki satu set sifat dan hukum yang khusus. Ini memunculkan pertanyaan besar lainnya. Karena tak ada seorang pun yang bisa melangkah ke luar alam semesta, siapa yang akan melakukan pengamatan?” (Dennis Overbye) (Sumber: Dennis Overbye, Misteri Alam Semesta, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 40)

“Ketidakpastian quantum ini adalah kunci untuk memahami mengapa segala sesuatu eksis, bagaimana sesuatu, alam semesta beserta hukumnya, bisa berasal dari kenihilan. Bagaimana ada quantum? Bagaimana ada eksistensi?… Kita semua terhipnotis hingga berpikir ada sesuatu di luar sana.” (John Wheeler) (Sumber: Dennis Overbye, Misteri Alam Semesta, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 77)

“Tak ada ruang, tak ada waktu, tak ada gravitasi, tak ada elektromagnetisme, tak ada partikel. Kita kembali ke masa di mana Plato, Aristoteles, dan Parmenides bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan besar: Bagaimana Ada Alam Semesta, Bagaimana Ada Kita, Bagaimana Ada Segala Sesuatu? Tapi untunglah kita hampir memiliki jawaban atas pertanyaan ini. Yaitu kita.” (John Wheeler) (Sumber: Dennis Overbye, Misteri Alam Semesta, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 84)

“Saya sungguh dibuat gila oleh pertanyaan tersebut. Saya akui terkadang saya 100% serius mengambil ide bahwa dunia adalah kilasan khayalan dan, di saat yang lain, bahwa dunia betul-betul eksis di luar sana tanpa tergantung kepada kita. Namun, saya sepenuh hati menganut kata-kata Leibniz, ‘Dunia ini mungkin adalah ilusi dan eksistensi mungkin hanyalah mimpi, tapi mimpi atau ilusi ini bagi saya cukup nyata berhubung kita tak pernah ditipu olehnya.’” (John Wheeler) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 182)

“Persoalan filosofis yang mengganggu mekanika quantum biasa kemudian menguat dalam apa yang disebut kosmologi quantum. Contohnya, sebagaimana dikatakan Dr. Linde, ada persoalan ayam-dan-telur. Manakah yang muncul lebih dulu: alam semesta, atau hukum yang mengaturnya? Atau, tanya dia, ‘Jika tidak ada hukum, bagaimana alam semesta muncul?’” (Dennis Overbye) (Sumber: Dennis Overbye, Misteri Alam Semesta, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 40)

“…Jika teori string akhirnya terkonfirmasi secara eksperimen sebagai theory of everything, maka kita harus bertanya dari mana persamaan-persamaannya berasal. Jika unified field theory sungguh-sungguh unik, sebagaimana diyakini Einstein, maka kita harus bertanya dari mana keunikan ini berasal. Fisikawan yang meyakini Tuhan ini percaya bahwa alam semesta begitu indah dan sederhana sehingga hukum tertingginya tidak mungkin hanya kebetulan. Alam semesta itu acak sama sekali atau tersusun dari elektron dan neutrino tak bernyawa, tak mampu menciptakan kehidupan, apalagi makhluk berakal. Jika, sebagaimana keyakinan saya dan beberapa fisikawan lain, hukum tertinggi realitas dapat dijelaskan oleh rumus yang mungkin tak lebih dari satu inchi panjangnya, maka pertanyaannya adalah, dari mana persamaan ini berasal?” (Michio Kaku) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 358)

“Mengapa apel jatuh? Karena ada hukum gravitasi. Mengapa hukum gravitasi? Karena ada persamaan tertentu yang merupakan bagian dari teori relativitas. Seandainya suatu hari nanti fisikawan berhasil menuliskan satu persamaan tertinggi yang melahirkan semua hukum fisika, seseorang masih bisa bertanya, ‘Mengapa persamaan tersebut?’” (Martin Gardner) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 358-359)

“Ada fisikawan-fisikawan quantum yang telah berkesimpulan bahwa konsep Tuhan bukan, bagaimanapun juga, sekadar khayalan.” (Jane Goodall) (Sumber: Nancy K. Frankenberry (Editor), The Faith of Scientists in Their Own Words, New Jersey: Princeton University Press, 2008, hal. 308)

“Komunitas ilmiah sedang bersiap mempertimbangkan ide penciptaan alam semesta oleh Tuhan sebagai hipotesis yang lebih terhormat hari ini dibanding masa-masa dalam 100 tahun terakhir lalu.” (Nightline with Ted Koppel di TV ABC, April 24, 1992) (Sumber: Walter L. Bradley, Is There Scientific Evidence for the Existence of God?, hal. 26)

“Pandangan tradisional bahwa initial condition (kondisi awal) adalah untuk kaum agamawan dan evolution equation (persamaan evolusi) adalah untuk fisikawan tampaknya telah tergulingkan—setidaknya untuk sementara. Para kosmolog kini bergelut dalam studi kondisi awal untuk menemukan apakah eksis sebuah ‘hukum’ kondisi awal, di mana proposal ‘tanpa perbatasan’ hanya akan menjadi satu kemungkinan contohnya. Ini memang radikal, tapi barangkali tak cukup radikal. Mengkhawatirkan sekali bahwa begitu banyak konsep dan ide yang dipakai dalam deskripsi matematis modern—‘penciptaan dari kenihilan’, ‘waktu mewujud bersamaan dengan Alam Semesta’—adalah sekadar citra halus intuisi manusia dan kategori pemikiran yang tradisional.” (John D. Barrow) (Sumber: John D. Barrow, New Theories of Everything, New York: Oxford University Press, 2007, hal. 92)

“Bagi seseorang yang memahami Alam Semesta dari sudut pandang final, seluruh penciptaan akan terlihat sebagai satu-satunya kebenaran dan keharusan.” (J. D’Alembert) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 191)

“…kita mempunyai prinsip antropik, yang menyadarkan kita bahwa sederetan ‘kebetulan’ ajaib membuat kesadaran di alam semesta tiga-dimensi kita menjadi mungkin. Terdapat pita parameter sempit yang membuat makhluk berakal menjadi kenyataan, dan kita kebetulan tumbuh subur di pita ini. Stabilitas proton, ukuran bintang, eksistensi unsur tinggi, dan seterusnya, semuanya terlihat disetel halus untuk memperkenankan bentuk kehidupan dan kesadaran kompleks. Seseorang dapat mendebat apakah keadaan kebetulan ini merupakan rancangan atau kebetulan, tapi tak ada yang bisa membantah penyetelan rumit yang diperlukan untuk memungkinkan kita.” (Michio Kaku) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 349)

“Menurut sifat segala sesuatu, tak ada yang kebetulan, semuanya ditetapkan oleh keharusan sifat ilahi untuk eksis dan bekerja dengan cara tertentu. Singkatnya, tak ada yang kebetulan di alam.” (Baruch Spinoza) (Sumber: Nancy K. Frankenberry (Editor), The Faith of Scientists in Their Own Words, New Jersey: Princeton University Press, 2008, hal. 145)

“Apakah manusia hanyalah sebintik debu tak penting di sebuah planet tak penting di sebuah galaksi tak penting di suatu tempat di luasnya angkasa? Tidak! Keharusan untuk menghasilkan kehidupan terletak di pusat seluruh mekanisme dan rancangan alam semesta… Perbedaan sedikitpun pada hukum fisika semisal gravitasi atau elektromagnetisme akan membuat kehidupan menjadi mustahil.” (John Wheeler) (Sumber: Walter L. Bradley, Is There Scientific Evidence for the Existence of God?, hal. 17)

“Astronomi menuntun kita menuju sebuah peristiwa unik, alam semesta diciptakan dari ketiadaan dan diseimbangkan secara halus guna menyediakan kondisi yang dibutuhkan untuk menopang kehidupan. Tanpa kejadian yang luar biasa mustahil, observasi sains modern mengisyaratkan suatu, boleh dikatakan, rencana supernatural mendasar.” (Arno Penzias) (Sumber: Arno Penzias, Our Universe: Accident or Design, Wits 2050, S. Africa: Starwatch, 1992, hal. 42.) (Sumber: Walter L. Bradley, Is There Scientific Evidence for the Existence of God?, hal. 25)

“Saat kita menyelidiki alam semesta dan mengidentifikasi banyak peristiwa fisika dan astronomi yang telah bekerja untuk kepentingan kita, alam semesta seolah telah tahu bahwa kita akan datang.” (Freeman J. Dyson, dikutip dalam buku Barrow dan Tipler, Anthropic Cosmological Principle, hal. 318) (Sumber: Walter L. Bradley, Is There Scientific Evidence for the Existence of God?, hal. 25)

“Walaupun dahulu saya mencela tajam ‘argument perancangan’, sejak saat itu saya paham bahwa, manakala dirumuskan dengan benar, ini merupakan argumen persuasif untuk eksistensi Tuhan.” (Anthony Flew) (Sumber: Antony Flew, There is a God, New York: HarperOne, 2007, hal. 95) (Sumber: Peter S. Williams, The Anthropic Design Argument, hal. 1)

“Bobot bukti perancangan ilahi alam semesta kini begitu berlimpah sehingga telah memaksa astronom dan filsuf yang menolak Tuhan Bibel sebagai Pencipta kosmos untuk mengusulkan eksistensi alam semesta dalam jumlah tak terhingga.” (Hugh Ross)

“Hipotesis ‘many worlds’-lah yang bersaing dengan ‘kesimpulan perancangan’ (bukan ‘hipotesis perancangan’) untuk menjelaskan observasi alam semesta ‘ramah kehidupan’, bukan prinsip antropik.” (Peter S. Williams) (Sumber: Peter S. Williams, The Anthropic Design Argument, hal. 4)

“Jika benar, ide multiverse akan menjadi…pergolakan kaya dan mengejutkan, tapi dengan konsekuensi yang berpotensi berbahaya. Selain kesukaran inheren dalam menaksir validitasnya, kapan kita mesti mengizinkan kerangka multiverse dimintai tolong dalam penjelasan ilmiah yang lebih tradisional? Seandainya ide ini mengemuka seratus tahun lalu, mungkinkah periset telah mencatat beragam misteri tentang bagaimana segala sesuatu berada di pojok multiverse kita dan tidak terdorong untuk menemukan semua sains ajaib abad lalu? …Bahayanya adalah, jika ide multiverse tertancap kuat, periset mungkin akan terlalu cepat menyerah dalam mencari penjelasan pokok. Saat dihadapkan dengan observasi tak terjelaskan, periset mungkin akan meminta tolong pada kerangka multiverse secara prematur – menyatakan bahwa suatu fenomena hanya mencerminkan kondisi-kondisi di gelembung alam semesta kita dan dengan demikian gagal menemukan pemahaman lebih dalam yang menanti kita…” (Brian Greene) (Sumber: John Brockman (editor), What’s Your Dangerous Idea?, London: Pocket Books, 2006, hal. 120-121) (Sumber: Peter S. Williams, The Anthropic Design Argument, hal. 6)

“Penganjur [teori many worlds] tak pelak lagi digerakkan oleh hasrat menghindari ‘hipotesis Tuhan’, dan, dalam mempergunakan asumsi berlebihan dan tak perlu tersebut, mereka berkesimpulan bahwa Prinsip Antropik Lemah sudah tak berdaya mendiskreditkan interpretasi teleologis.” (Guillermo Gonzalez) (Sumber: Guillermo Gonzalez, Home Alone in the Universe, www.arn.org) (Sumber: Peter S. Williams, The Anthropic Design Argument, hal. 4)

“Hipotesis ilmiah ‘multiple worlds’ cuma menggeser persoalan [‘penyetelan halus’] naik dari level universe ke multiverse. Untuk memahami ini, seseorang hanya harus mendaftar banyak asumsi yang menopang teori multiverse. Pertama, harus ada mekanisme penghasil alam semesta… Mekanisme ini seharusnya melibatkan proses-proses hukum alami – tepatnya ‘nukleasi’ quantum pocket universe dalam kasus eternal inflation. Tapi itu menimbulkan pertanyaan nyata tentang sumber hukum quantum (belum lagi hukum gravitasi, termasuk struktur sebab-akibat ruang-waktu yang padanya hukum tersebut bergantung) yang mengizinkan inflasi. Dalam teori multiverse standar, hukum penghasil alam semesta diterima begitu saja: mereka tidak muncul dari teori multiverse… Lebih jauh, jika kita mengakui bahwa multiverse diprediksikan oleh teori string/teori-M, maka teori tersebut, dengan bentuk matematisnya yang spesifik, juga harus diterima begitu saja…teori multiverse [tidak dapat] menyediakan penjelasan lengkap dan final mengapa alam semesta cocok untuk kehidupan…” (Paul Davies) (Sumber: Paul Davies, The Goldilocks Enigma: Why is the universe just right for life?, London: Penguin, 2007, hal. 231-232, 237) (Sumber: Peter S. Williams, The Anthropic Design Argument, hal. 5)

“Jika kita mencoba memahami mengapa alam semesta ramah hayati, kita tak terbantu oleh pemberitahuan bahwa semua alam semesta potensial eksis… Ide multiverse menggantikan dunia riil yang ditata secara rasional dengan permainan tebak kata luar biasa rumit dan menjadikan seluruh ide ‘penjelasan’ tersebut tak berarti.” (Antony Flew) (Sumber: Antony Flew, There is a God, New York: HarperOne, 2007, hal. 118-119) (Sumber: Peter S. Williams, The Anthropic Design Argument, hal. 5)

“Sekalipun sebuah generator banyak alam semesta eksis, itu, bersama dengan hukum dan prinsip latarnya, bisa dikatakan merupakan sistem kompleks…dengan kombinasi tepat hukum dan medan untuk menghasilkan alam semesta yang mengizinkan kehidupan: jika salah satu komponen luput atau berbeda…kemungkinan besar alam semesta yang mengizinkan kehidupan takkan bisa dihasilkan, Dengan tiadanya penjelasan alternatif, eksistensi sistem semacam itu mengindikasikan perancangan.” (Robin Collins) (Sumber: Robin Collins, Design and the Many Worlds Hypothesis, home.messiah.edu) (Sumber: Peter S. Williams, The Anthropic Design Argument, hal. 5)

“Bagaimanapun juga, sang perancang mungkin telah menciptakan lebih dari satu alam semesta. Oleh sebab itu eksistensi alam semesta berlipatganda cocok secara logis dengan eksistensi perancang alam semesta.” (Peter S. Williams) (Sumber: Peter S. Williams, The Anthropic Design Argument, hal. 6)

“Dengan ini kemuliaan Tuhan bertambah besar dan keagungan kerajaan-Nya termanifestasi; Dia diagungkan bukan di satu matahari, melainkan di matahari yang tak terbilang; bukan di satu bumi, bukan di satu dunia, melainkan di ribuan ribuan, saya katakan di dunia yang tak terhingga.” (Giordano Bruno) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 346)

“…dalam pengertian matematis tertentu, model multiverse paling umum (misalnya versi Level 4-nya Tegmark) adalah ekuivalen secara ontologis dengan deisme naif, deisme yang saya maksud adalah eksistensi Perancang/Pemilih Kosmik yang secara bijaksana memilih satu alam semesta riil dari daftar tak terhingga alam semesta potensial namun tak riil. Sungguh, saya menyangka penjelasan umum multiverse sebetulnya merupakan deisme naif yang didandani bahasa ilmiah. Keduanya menarik sistem yang tak dikenal, tak dapat dilihat, dan tak dapat diketahui. Keduanya mensyaratkan pembuangan informasi yang tak terhingga hanya untuk menjelaskan alam semesta (terhingga) yang kita amati… Jika saya benar, maka multiverse hanyalah penyempurnaan deisme naif sebagai penjelasan atas alam semesta fisik. Ia pada dasarnya keyakinan keagamaan belaka ketimbang argumen ilmiah… Saya percaya bahwa deisme naif dan konsep umum multiverse akan didapati sebagai kompleksitas ekuivalen sebab mereka terkandung dalam satu sama lain.” (Paul Davies) (Sumber: Bernard Carr (Editor), Universe or Multiverse?, Cambridge: Cambridge University Press, 2007, hal. 495)

“Titik pangkal semua argumen antropik multiverse adalah eksistensi pengamat. Ini menimbulkan pertanyaan tentang apa itu pengamat. Saya berasumsi bahwa ‘pengamatan’ adalah produk proses fisikal, contohnya aktivitas elektrokimiawi di otak. Lalu, pengamat-pengamat mungkin diciptakan secara artifisial melalui teknologi yang cukup maju. Mungkin ini cuma memerlukan sistem komputasi yang lebih besar dan lebih baik, sebagaimana diargumentasikan oleh para pendukung Kecerdasan Buatan hebat; mungkin ini memerlukan bentuk teknologi baru, sebagaimana diargumentasikan oleh Roger Penrose. Menurut saya, itu tak jadi soal. Di sebuah multiverse, akan ada subset alam-alam semesta di mana teknologi maju seperti punya kita muncul, dan sub-subset cukup besar akan memuat sekurangnya satu peradaban teknologis yang mencapai titik mensimulasikan kesadaran. Itu hanya langkah kecil dari mensimulasikan kesadaran menuju mensimulasikan komunitas makhluk sadar dan keseluruhan dunia virtual untuk mereka huni. Gagasan ini telah dipopulerkan dalam serial film sains fiksi The Matrix. Untuk dunia ‘riil’ tertentu, akan ada dunia-dunia virtual potensial dalam jumlah banyak, sebetulnya tak terhingga. Pengamat yang terpilih secara acak sangat lebih mungkin untuk mengalami simulasi virtual daripada simulasi riil. Jadi ada sedikit alasan untuk mengira bahwa dunia ini (dunia yang Anda dan saya amati sekarang) tak lain adalah dunia simulasi. Tapi penghuni dunia virtual simulasi berdiri dalam hubungan ontologis dengan sistem cerdas yang merancang dan menciptakan dunia mereka sebagaimana manusia berdiri dalam hubungan dengan Tuhan Perancang/Pencipta tradisional (fakta tidak mempengaruhi para penulis sains fiksi sejak Olaf Stapledon), tapi kini Tuhan menyamar – bukan sebagai Arsitek Agung – melainkan sebagai Insinyur Software Agung. Pencipta dunia-dunia virtual adalah perancang transenden dengan kemampuan menciptakan atau menghancurkan alam semesta-alam semesta simulasi sekehendak hati, mengubah keadaan di dalamnya, merencanakan hukum, melakukan mukjizat, dan lain-lain. Beralih ke ekstrim logisnya, penjelasan multiverse adalah argumen meyakinkan untuk eksistensi Tuhan (konvensional)! Ini tentu saja ironis, sebab multiverse semula diminta bantuan untuk, sebagian, menyingkirkan Tuhan demikian.” (Paul Davies) (Sumber: Bernard Carr (Editor), Universe or Multiverse?, Cambridge: Cambridge University Press, 2007, hal. 496)

“Dunia fisik aktual kita, yang di dalamnya sinyal-sinyal akustik atau elektromagnetik merupakan basis komunikasi, tampaknya dipilih di antara kemungkinan model-model matematis melalui kesederhanaan intrinsik dan harmoni.” (Richard Courant) (Sumber: Walter L. Bradley, Is There Scientific Evidence for the Existence of God?, hal. 9)

“Semakin manusia menyelidiki hukum yang mengatur alam semesta materil, semakin dia yakin bahwa beragam bentuknya muncul dari kekuatan beberapa prinsip sederhana. Prinsip-prinsip ini sendiri berkumpul, dengan gaya berakselerasi, menjadi suatu hukum yang lebih komprehensif lagi yang kepadanya semua materi tampaknya tunduk. Meski hukum tersebut sepertinya sederhana, harus diingat bahwa itu hanyalah salah satu dari tak terhingga banyaknya hukum sederhana: bahwa masing-masing hukum ini memiliki konsekuensi sekurangnya sama luasnya dengan hukum yang eksis, dan karenanya Pencipta yang memilih hukum tersekarang pasti telah meramalkan konsekuensi semua hukum lain.” (Charles Babbage) (Sumber: John D. Barrow, New Theories of Everything, New York: Oxford University Press, 2007, hal. 18)

“Karena Tuhan telah merancang alam semesta, maka semua fenomena alam akan mengikuti satu master plan. Satu pikiran merancang alam semesta hampir pasti menggunakan satu set prinsip dasar untuk mengatur seluruh fenomena terkait.” (Morris Kline) (Sumber: Walter L. Bradley, Is There Scientific Evidence for the Existence of God?, hal. 8)

“Tuhanlah yang menempatkan planet-planet pada jarak berlainan dari matahari agar, sesuai derajat densitas mereka, menikmati proporsi panas matahari yang lebih banyak atau lebih sedikit. Yakin akan realitas maksud cerdas dalam tatanan kosmik, Newton percaya bahwa, mendasari fenomena alam, terdapat entitas tak beraga, hidup, cerdas, maha ada, yang, di ruang tak terhingga—sebagaimana dalam inderanya—melihat fenomena alam secara mendalam. Tujuan utama ilmu alam, jelasnya, adalah untuk menemukan Kausa Pertama dan kemudian memecahkan pertanyaan-pertanyaan seperti berikut: Bagaimana gaya gravitasi bekerja? Apa yang mencegah bintang-bintang jatuh menuju satu sama lain? Apa peran komet, dan mengapa perilaku mereka begitu berbeda dari planet? Bagaimana kehidupan organik begitu luar biasa fungsional? Apa sumber seluruh tatanan, perekonomian, dan keindahan di dunia ini?” (Nancy K. Frankenberry) (Sumber: Nancy K. Frankenberry (Editor), The Faith of Scientists in Their Own Words, New Jersey: Princeton University Press, 2008, hal. 106)

“Alam semesta tak hanya lebih ganjil dari yang kita duga, ia lebih ganjil dari yang bisa kita duga.” (J.B.S. Haldane) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 62)

“Lima puluh tahun silam, alam semesta umumnya dianggap sebagai mesin… Ketika kita sampai kepada perbedaan ukuran yang besar di setiap arah—baik menuju kosmos secara keseluruhan, ataupun menuju lubuk dalam atom—interpretasi mekanis atas Alam gagal. Kita sampai kepada entitas-entitas dan fenomena-fenomena yang sama sekali tidak mekanis. Bagi saya, mereka lebih mengisyaratkan proses mental ketimbang mekanis; alam semesta lebih mirip pikiran hebat daripada mesin hebat.” (James Jeans) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 351)

“Sudah barang tentu doktrin tentang Tuhan personal yang ikut campur dalam peristiwa alam takkan pernah bisa disangkal, dalam pengertian nyata, oleh sains, sebab doktrin ini dapat senantiasa mencari perlindungan dalam domain-domain di mana pengetahuan ilmiah belum mampu menginjakkan kakinya.” (Albert Einstein) (Sumber: Nancy K. Frankenberry (Editor), The Faith of Scientists in Their Own Words, New Jersey: Princeton University Press, 2008, hal. 163)

“Terkait pertanyaan paling menantang, apakah proses-proses alam diatur oleh prinsip-prinsip aktif bawaannya atau oleh Tuhan, Newton bersikap ambivalen. Pada suatu tahap dia menyebut proses-proses alam yang diatur oleh prinsip-prinsip aktif, yang dia sebut sebagai agen Tuhan; lewat bantuan mereka, jumlah total gerak di alam semesta terkekalkan ketimbang terus menghilang. Pada tahap lain dia menyatakan bahwa Tuhan, sebagai mekanik matematis dan juga ulung, aktif secara langsung di kosmos—contohnya, membolehkan gaya gravitasi (‘benang kendali Tuhan’) untuk memelihara orbit planet-planet maupun untuk mendorong balik mereka manakala akumulasi interaksi mereka dengan benda langit lain membawa mereka menuju ketidakstabilan.” (Nancy K. Frankenberry) (Sumber: Nancy K. Frankenberry (Editor), The Faith of Scientists in Their Own Words, New Jersey: Princeton University Press, 2008, hal. 106)

“Sedangkan, Darwin terpecah dalam pertanyaan soal peran manusia di alam semesta. Walaupun dia didiskreditkan sebagai orang yang melengserkan manusia dari pusat alam semesta biologis, dia mengakui dalam otobiografinya mengenai ‘kesulitan ekstrim atau kemustahilan untuk memahami alam semesta yang sangat besar dan menakjubkan ini, termasuk manusia dengan kemampuannya untuk menatap jauh ke belakang dan jauh ke masa depan, sebagai hasil dari untung-untungan buta atau keharusan.’ Dia mengutarakan kepada seorang teman, ‘Teologi saya sama sekali kacau-balau.’” (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 345)

“Tuhan itu cerdik, tapi tidak jahat.” (Albert Einstein) (Sumber: Dennis Overbye, Misteri Alam Semesta, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 82)

“Menggunakan hukum Newton, seseorang bisa memprediksikan masa depan dengan presisi yang sama seperti ketika memandang masa lalu… Jika suatu entitas bisa mengetahui posisi dan kecepatan semua partikel di alam semesta, bagi intelek secerdas itu, tak ada yang tak pasti; dan masa depan, juga masa lalu, berada di hadapan matanya.” (Pierre Simon de Laplace, penasehat sains Napoleon) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 165)

“Demikian pula halnya, penghuni hyperspace yang memandang ke kita akan melihat kita secara keseluruhan: depan, belakang, dan samping secara serempak.” (Michio Kaku) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 194)

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS al-An’aam [5]: 103)

“Saya ingin tahu bagaimana Tuhan menciptakan dunia ini. Saya tidak tertarik pada fenomena ini dan itu. Saya ingin mengetahui pikiran Tuhan. Sisanya hanyalah rincian.” (Albert Einstein) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 345)

“Apa yang kita manusia cari dalam kisah penciptaan adalah cara merasakan dunia yang akan membukakan pada kita hal-hal transenden, yang memberitahu kita dan pada saat yang sama membentuk diri kita di dalamnya. Itulah yang orang-orang inginkan. Inilah yang jiwa minta.” (Joseph Campbell) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 62)

“Pengalaman terindah yang bisa kita miliki adalah misteri. Ini merupakan emosi fundamental yang menjadi tempat lahir seni dan sains sejati. Barangsiapa yang tidak mengetahuinya dan tidak lagi ingin tahu, tidak lagi terheran, sama halnya dengan orang mati, dan penglihatannya kabur.” (Albert Einstein) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 344)

“Pertanyaan di atas semua pertanyaan manusia, persoalan yang berada di balik semuanya dan yang lebih menarik dari semuanya, adalah mengenai penetapan kedudukan manusia di Alam dan hubungannya dengan Kosmos.” (Thomas H. Huxley) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 344)

“Saya bukan seorang atheis, dan saya pikir tak bisa menyebut diri sebagai pantheis. Kita berada dalam kedudukan seorang anak kecil yang memasuki perpustakaan besar berisi buku-buku dalam banyak bahasa. Sang anak tahu bahwa seseorang pasti telah menulis buku-buku itu. Dia tak tahu bagaimana. Dia tak paham bahasa tulisan buku-buku itu. Sang anak dengan suram menduga [adanya] tatanan misterius dalam penyusunan buku-buku tersebut tapi tak tahu apa itu. Ini, bagi saya, adalah sikap bahkan manusia paling cerdas kepada Tuhan. Kita melihat alam semesta disusun secara ajaib dan mematuhi hukum tertentu tapi kita hanya memahami hukum-hukum itu secara buram. Akal terbatas kita menyadari kekuatan misterius yang menggerakkan rasi-rasi itu…” (Albert Einstein) (Sumber: Nancy K. Frankenberry (Editor), The Faith of Scientists in Their Own Words, New Jersey: Princeton University Press, 2008, hal. 153)

“Saya tak tahu seperti apa saya bagi dunia, tapi bagi diri saya, rasanya saya hanya seorang bocah yang sedang bermain di pantai, dan sekali-sekali menemukan kerikil yang lebih halus atau kerang yang lebih indah daripada biasa, sementara samudera kebenaran yang besar terhampar di hadapan saya, tak diketemukan.” (Isaac Newton) (Sumber: Nancy K. Frankenberry (Editor), The Faith of Scientists in Their Own Words, New Jersey: Princeton University Press, 2008, hal. 107)

“Saya melihat sebuah pola, tapi imajinasi saya tak sanggup membayangkan pembuat pola itu. Saya melihat sebuah jam, tapi saya tak sanggup membayangkan pembuatnya. Akal manusia tak mampu membayangkan empat dimensi, lantas bagaimana bisa ia membayangkan Tuhan, yang di hadapan-Nya seribuan tahun dan seribuan dimensi adalah satu [kesatuan]?” (Albert Einstein) (Sumber: Nancy K. Frankenberry (Editor), The Faith of Scientists in Their Own Words, New Jersey: Princeton University Press, 2008, hal. 152)

“…Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS al-Hadid [57]: 6)

“…Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada…” (QS al-Hadid [57]: 4)

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada…” (QS Al-Mujaadilah [58]: 7)

“Ya, saya ingin mengatakan bahwa pasti ada maksud. Saya tidak tahu apa semua maksud itu, tapi saya kira salah satunya adalah Tuhan menciptakan manusia agar bersahabat dengan Tuhan. Maksud yang lebih besar mungkin adalah agar ciptaan Tuhan mengagungkan Tuhan.” (Don Page) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 356)

“Perasaan saya adalah bahwa dalam agama terdapat hal-hal yang sangat serius, seperti eksistensi Tuhan dan persaudaraan manusia, itu merupakan kebenaran serius yang suatu hari akan kita belajar pahami mungkin dengan bahasa berbeda pada skala berbeda… Jadi saya pikir terdapat kebenaran sejati di sana, dan dalam pengertian tersebut keagungan alam semesta penuh dengan makna, dan kita berhutang kehormatan dan keterkaguman kepada Penciptanya.” (Charles Misner) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 356)

“Sebagian besar agama dunia meyakini suatu bentuk takdir, ide bahwa Tuhan tak hanya maha kuasa (serba kuasa) dan maha ada (ada di mana-mana), tapi juga maha tahu (tahu segalanya, bahkan masa depan). Dalam beberapa agama, ini artinya Tuhan mengetahui apakah kita akan masuk surga atau neraka, bahkan sebelum kita lahir. Pada esensinya, terdapat ‘buku takdir’ di suatu tempat di surga dengan semua nama kita terdaftar, mencakup tanggal lahir kita, kegagalan dan keberhasilan kita, kesenangan dan kesusahan kita, bahkan tanggal kematian kita, dan apakah kita akan hidup di surga atau dalam kutukan abadi.” (Michio Kaku) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 166)

“Bagi Newton dan Einstein, gagasan tentang kehendak bebas, bahwa kita adalah penguasa takdir kita, merupakan sebuah ilusi. Gagasan masuk akal tentang realitas ini, bahwa objek-objek konkret yang kita sentuh adalah nyata dan eksis dalam kondisi definitif, oleh Einstein disebut ‘realitas objektif’.” (Michio Kaku) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 165)

“Saya adalah seorang determinis, dipaksa bertindak seolah-olah terdapat kehendak bebas, sebab jika saya ingin hidup dalam sebuah masyarakat beradab, saya harus bertindak secara bertanggung jawab. Saya tahu secara filosofis seorang pembunuh tidak bertanggung jawab atas kejahatannya, tapi saya tidak akan minum teh bersamanya. Karir saya telah ditentukan oleh berbagai gaya yang saya tidak punya kuasa atasnya, terutama kelenjar-kelenjar misterius itu di mana alam mempersiapkan esensi kehidupan. Henry Ford boleh menyebutnya Suara Batin, Socrates menyebutnya sebagai daemon: tiap manusia menjelaskan fakta dengan caranya sendiri bahwa kehendak manusia tidaklah bebas… Segala sesuatu itu ditetapkan…oleh gaya-gaya yang kita tak punya kuasa atasnya…pun bagi serangga dan bintang. Manusia, sayuran, atau debu kosmik, kita semua berdansa menurut tempo misterius, dilagukan di kejauhan oleh satu pemain tak nampak.” (Albert Einstein) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 165-166)

“…Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh…” (QS Ali Imran [3]: 154)

“Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya…” (QS al-Israa [17]: 13)

Rasulullah saw ditanya: “Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni surga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka?” Rasulullah saw menjawab: “Ya.” Kemudian beliau ditanya lagi: “Jadi untuk apa orang-orang harus beramal?” Rasulullah saw menjawab: “Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi takdirnya.” (Shahih Muslim No. 4789)

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan(Nya)…” (QS al-An’aam [5]: 107)

“…Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya,…” (QS al-An’aam [5]: 112)

“Perlaluan waktu yang dirasakan manusia, perasaan kita akan aliran dan perlaluan searah dari masa lalu yang tetap menuju masa depan yang terbuka, tidak bisa diakomodasi dalam teori relativitas. Dalam hal ini, teori Einstein menyerupai teisme klasik Barat, di mana Tuhan Yang kekal melihat seluruh sejarah dunia terhampar di hadapan-Nya, dan sedikit banyak, semua peristiwa terjadi serentak di manifold ruang-waktu empat-dimensi tak bermasa.” (Nancy K. Frankenberry) (Sumber: Nancy K. Frankenberry (Editor), The Faith of Scientists in Their Own Words, New Jersey: Princeton University Press, 2008, hal. 148)

“Segala sesuatu untuk seluruh waktu masa depan telah ditetapkan, segalanya implisit dalam instanton.” (Neil Turok) (Sumber: Dennis Overbye, Misteri Alam Semesta, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 42)

“Waktu adalah cara Tuhan mencegah segalanya terjadi serentak.” (Grafiti anonim Texas) (Sumber: John D. Barrow, New Theories of Everything, New York: Oxford University Press, 2007, hal. 66)

“Kita tidak mungkin mengirim seorang pelancong waktu kembali ke Taman Eden untuk meminta Hawa agar tidak memungut apel dari pohonnya.” (Igor Novikov) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 155)

“Pada suatu hari di sekolah Minggu, kami mempelajari Genesis. Kisah mengenai Tuhan yang berkata keras dari surga, ‘Jadilah Cahaya!’, terdengar jauh lebih menarik dibanding bermeditasi dalam sunyi tentang Nirwana. Dengan polos saya bertanya kepada guru sekolah Minggu saya, ‘Apakah Tuhan memiliki ibu?’ Biasanya dia memberikan jawaban yang tajam dan pelajaran moral yang dalam. Namun kali ini dia tercengang. ‘Tidak,’ jawabnya ragu-ragu, ‘mungkin Tuhan tidak memiliki ibu.’ ‘Lalu dari mana Tuhan berasal?’ saya bertanya. Dia mengomel bahwa dirinya harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan pendeta terkait pertanyaan itu.” (Michio Kaku) (Sumber: Michio Kaku, Dunia Paralel, Bumi: Sainstory, 2010, hal. 19)

“Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya umatmu tak henti-hentinya bertanya: Kenapa begini, kenapa begini? Sampai-sampai mereka mengatakan: Allah menciptakan makhluk, lalu siapakah yang menciptakan Allah.’” (HR Muslim)

“Tak henti-hentinya manusia bertanya-tanya, sampai-sampai dikatakan: ‘Allah menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah?’ Barang siapa yang merasakan keraguan dalam hatinya, maka hendaklah ia berkata: ‘Aku beriman kepada Allah.’” (HR Muslim)

“…Newton mengarang sebuah esai analisis linguistik teologi, dalam upaya menemukan penyimpangan yang dimasukkan ke dalam agama Kristen. Newton bukan seorang penganut Trinitas ortodoks. Dia percaya pandangannya tersembunyi di dalam Injil, tapi [dia yakin] bahwa dokumen wahyu tersebut telah diselewengkan oleh penulis-penulis terkemudian yang memasukkan konsep baru dan bahkan kalimat baru. Jadi Newton, melalui analisis linguistik, mencoba menemukan kebenaran.” (I. Bernard Cohen) (Sumber: Nancy K. Frankenberry (Editor), The Faith of Scientists in Their Own Words, New Jersey: Princeton University Press, 2008, hal. 149)

“Sistem Matahari, Planet, dan Komet terindah ini hanya bisa berawal dari nasehat dan kendali Entitas cerdas dan berkuasa. Dan jika Bintang diam merupakan pusat sistem serupa lain, ia, yang dibentuk oleh nasehat demikian pula, harus tunduk kepada kendali Yang Esa; terutama karena cahaya Bintang diam bersifat sama dengan cahaya Matahari, dan dari setiap sistem, cahaya melintas ke semua sistem lain. Kalau tidak, sistem-sistem Bintang diam pasti, akibat gravitasinya, jatuh ke satu sama lain, Dia telah menempatkan Sistem-sistem itu pada jarak besar sekali dari satu sama lain. Entitas ini mengatur segalanya, bukan sebagai jiwa dunia, tapi sebagai Raja atas segalanya: Dan, atas sebab kekuasaan-Nya, Dia tak bisa dipanggil Tuhan Bapak Pantokrator, atau Penguasa Universal. Sebab Tuhan adalah kata relatif, dan mempunyai kaitan dengan hamba; dan Ketuhanan adalah kekuasaan Tuhan, bukan atas Diri-Nya Sendiri, sebagaimana menurut orang-orang yang membayangkan Tuhan yang tinggi sebagai jiwa dunia, tapi atas hamba. Tuhan tertinggi adalah Entitas kekal, maha, mutlak sempurna; tapi entitas yang tak memiliki kekuasaan, betapapun sempurnanya ia, tidak bisa disebut sebagai Tuhan Bapak; sebab kita [biasa] mengatakan, Tuhan saya, Tuhan Anda, Tuhannya Israel, Tuhan para Dewa, dan Raja para Raja; tapi kita tak [biasa] mengatakan Entitas Kekal saya, Entitas Kekal Anda, Entitas Kekalnya Israel, Entitas Kekal [di antara] para Dewa; kita tak [biasa] mengatakan, Entitas Maha saya, atau Entitas Sempurna saya: semua itu adalah gelar-gelar yang tak ada kaitannya dengan hamba. Kata Tuhan biasanya berarti Raja; tapi tidak semua raja adalah Tuhan. Kekuasaan entitas spiritual-lah yang merupakan Tuhan; kekuasaan sejati, tertinggi, atau imajiner menghasilkan Tuhan sejati, Tuhan Tertinggi, atau Tuhan imajiner. Dan dari kekuasaan sejati-Nya teriring bahwa Tuhan sejati adalah Entitas Hidup, Cerdas, dan Berkuasa; dan, dari kesempurnaan lain-Nya, bahwa Dia adalah Tertinggi dan Tersempurna. Dia Kekal dan Tak Terbatasi [Ruang], Maha Kuasa dan Maha Tahu; yakni, masa-Nya membentang dari Kekekalan menuju Kekekalan; kehadiran-Nya membentang dari [Ruang] Tak Terbatas menuju [Ruang] Tak Terbatas; Dia mengatur segalanya, dan tahu segalanya yang sedang atau dapat dilakukan. Dia bukan Kekekalan dan Ketakterbatasan [Ruang], melainkan Kekal dan Tak Terbatasi [Ruang]; Dia bukan Masa dan Ruang, tapi Dia abadi dan hadir. Dia abadi selamanya, dan hadir di mana-mana; dan, dengan eksis selalu dan di mana-mana, Dia merupakan Masa dan Ruang. Karena setiap partikel Ruang ada selalu, dan setiap momen Masa tak terbagi ada di mana-mana, tentu saja Pencipta dan Raja segalanya tidak mungkin pernah tak ada dan [tidak mungkin] pernah tak ada di mana-mana. Setiap jiwa yang memiliki persepsi, meski dalam zaman berbeda dan dalam organ indera dan gerak berbeda, tetap merupakan sosok yang sama yang tak terbagi. Ada bagian-bagian berturut-turut tertentu dalam masa, bagian-bagian koeksis dalam ruang, tapi tak ada pada sosok manusia, atau prinsip berpikirnya; dan [bagian-bagian] itu kurang-lebih bisa ditemukan pada dzat berpikir Tuhan. Setiap manusia, sepanjang ia adalah sesuatu yang punya persepsi, merupakan orang yang satu dan yang sama semasa seluruh hidupnya, dalam semua dan setiap organ inderanya. Tuhan adalah Tuhan yang [tetap] sama, [ada] selalu dan di mana-mana. Dia maha hadir, bukan hanya secara virtual [penglihatan], tapi juga secara substansial [esensi]; sebab kevirtualan tidak dapat hidup tanpa substansi. Di dalam-Nya segalanya terkandung dan bergerak; tapi tidak saling mempengaruhi: Tuhan tidak menderita apapun akibat gerak benda-benda; benda-benda tidak menemukan hambatan apapun dari kemahahadiran Tuhan. Semuanya memperkenankan Tuhan tertinggi wajib eksis; dan dengan kewajiban yang sama pula Dia eksis selalu dan di mana-mana. Darimana Dia juga adalah maha serupa, maha melihat, maha mendengar, maha berwenang, maha kuasa untuk mengindera, memahami, dan bertindak; tapi bukan dalam cara manusia sama sekali, bukan dalam cara jasmaniyah sama sekali, [melainkan] dalam cara yang sama sekali tidak kita ketahui. Sebagaimana orang buta tak bisa mengetahui warna, begitupun kita tak mengetahui cara Tuhan maha bijak mengindera dan memahami segalanya. Dia sama sekali tidak berbadan dan bukan sosok badaniyah, dan karenanya tak bisa dilihat, didengar, disentuh, ataupun disembah melalui perlambangan benda/makhluk jasmaniyah. Kita mengetahui atribut-atribut-Nya, tapi dzat sejati-Nya tak kita ketahui. Pada badan, kita hanya melihat sosok dan warna, kita hanya mendengar suara, kita hanya menyentuh permukaan luar, kita hanya mencium bau, dan hanya merasakan rasa; tapi substansi dalamnya tidak diketahui, baik oleh indera kita, ataupun oleh tindakan refleks pikiran kita; dengan demikian kurang-lebih kita mengetahui dzat Tuhan. Kita mengetahui-Nya hanya melalui perancangan makhluk oleh-Nya yang maha bijak dan unggul, dan [melalui] kausa-kausa akhir; kita mengagumi-Nya atas kesempurnaan-Nya; tapi kita memuja dan menyembah-Nya lantaran kekuasaan-Nya. Sebab kita menyembah-Nya sebagai hamba-Nya; dan Tuhan tanpa kekuasaan, pemeliharaan, dan kausa akhir, tak lain hanyalah Nasib dan Sifat. Kebetulan metafisik buta, yang tentu saja sama selalu dan di mana-mana, tidak dapat menghasilkan keanekaragaman benda/makhluk. Semua keanekaragaman benda/makhluk di alam yang kita temukan, yang disesuaikan dengan zaman dan tempat berbeda-beda, hanya bisa timbul tak lain dari ide dan kehendak Entitas yang wajib eksis. Tapi, melalui kiasan, Tuhan dikatakan melihat, berbicara, tertawa, mencintai, membenci, menginginkan, memberi, menerima, gembira, marah, memerangi, menyusun, bekerja, membangun. Sebab semua gagasan kita tentang Tuhan diambil dari cara manusia, yang melalui perbandingan tertentu, meski tak sepenuhnya, memiliki suatu keserupaan, bagaimanapun. Sejauh itulah menyangkut Tuhan; mempercakapkan Dia berdasarkan wujud benda/makhluk, tentu saja termasuk ke dalam Ilmu Alam.” (Isaac Newton) (Sumber: Nancy K. Frankenberry (Editor), The Faith of Scientists in Their Own Words, New Jersey: Princeton University Press, 2008, hal. 114-116)

“Pilihan terakhir, Queries about the word Homoousios, adalah karya tulis retoris yang mengungkap dua keyakinan Newton yang paling berapi-api: bahwa kata Yunani untuk “same substance” (“unsur yang sama”) merupakan inovasi metafisik yang ditambahkan ke dalam Injil, dan bahwa orang-orang yang mempertahankan kata tersebut adalah penyokong supremasi Paus dalam perbudakan Roma. Dalam General Scholium, argumentasi anti-trinitasnya Newton, meski terang sekali, direndam. Dalam naskah-naskah teologisnya, dia dengan jelas menempatkan Yesus Kristus sebagai seorang manusia yang memperantarai Tuhan tapi tidak boleh disembah menggantikan Bapak.” (Nancy K. Frankenberry) (Sumber: Nancy K. Frankenberry (Editor), The Faith of Scientists in Their Own Words, New Jersey: Princeton University Press, 2008, hal. 107)

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam’, padahal Al Masih (sendiri) berkata: ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu’. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS al-Maa’idah [5]: 72)

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam.’ Katakanlah: ‘Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?’ Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS al-Maa’idah [5]: 17)

“Salah seorang peneliti paleontologi mengatakan, ‘Manusia telah memulai penggalian peninggalan untuk mencari emas dan menemukan perhiasan dan mutiara. Kemudian manusia mengetahui sesuatu yang lebih indah dari barang-barang tambang itu. Mereka mencarinya dan beramai-ramai mengeluarkan dan memperolehnya. Itu adalah sejarah suci, atau sejarah bernilai tinggi yang menjulang ke langit. Ia memiliki simpanan di rongga bumi.’” (Al-’Aqqad) (Sumber: Muhammad Isa Dawud , Penghuni Bumi Sebelum Kita (diterjemahkan oleh Irwan Kurniawan), Bandung: Pustaka Hidayah, Cet. XIV, Januari 2009, hal. 48)

“Menurut pendapat saya, sejarah peradaban tertua manusia adalah kemerosotan pesat dari monoteisme menuju politeisme ekstrim dan keyakinan pada roh jahat. Ini sejatinya adalah sejarah kejatuhan manusia.” (Stephen Langdon) (Sumber: Dr. Arthur C. Custance, From Monotheism to Polytheism, www.custance.org)

“Sejarah agama Sumeria, yang merupakan pengaruh budaya paling kuat di dunia kuno, bisa ditelusuri lewat prasasti fotografis hingga konsep keagamaan terawal manusia. Bukti-bukti tak salah lagi menunjuk pada sebuah monoteisme awal, prasasti dan peninggalan sastra bangsa-bangsa Semit tertua juga mengindikasikan monoteisme primitif, dan asal-usul patung agama Hebrew dan agama-agama Semit lainnya kini sama sekali tak dapat dipercaya.” (Stephen Langdon) (Sumber: Dr. Arthur C. Custance, From Monotheism to Polytheism, www.custance.org)

“Jika kebudayaan-kebudayaan primitif berkelompok atas dasar tingkat kebudayaan mereka dan kemudian kelompok-kelompok ini ditempatkan dalam urutan menaik, ditemukan bahwa kelompok terendah memiliki konsep Tuhan paling murni dan bahwa begitu sebuah kelompok berkembang dari pemburu menjadi pengumpul dan penyimpan makanan, menjadi penanam makanan dalam bentuk nomaden penggembala yang memelihara sekawanan binatang, menjadi penanam makanan dalam hal penggunaan tanah yang didiami, dan naik derajat menjadi komunitas semi-urban, kita pertama-tama menemukan keyakinan sederhana kepada Entitas Tertinggi yang tak mempunyai isteri ataupun keluarga. Di bawah-Nya dan diciptakan oleh-Nya adalah pasangan pertama yang darinya suku diturunkan… kita menemukan bentuk keyakinan ini di kalangan Pigmi Afrika Tengah, penghuni Australia Tenggara, penghuni utara California tengah, Algonkin primitif, dan, hingga taraf tertentu, Koryaka dan Ainu.” (Wilhelm Schmidt) (Sumber: Dr. Arthur C. Custance, From Monotheism to Polytheism, www.custance.org)

“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu putera Allah’ dan orang-orang Nasrani berkata: ‘Al Masih itu putera Allah’. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS at-Taubah [9]: 30-31)

“Mereka (orang-orang kafir) berkata: ‘Allah mempunyai anak’. Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya.” (QS al-Baqarah [2]: 116)

“Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).” (QS al-Maa’idah [5]: 75)

“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu,” (QS al-Mu’minuun [23]: 91)

“Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah’, maka jadilah ia.” (QS Maryam [19]: 35)

“Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.” (QS al-An’aam [6]: 101)

“…berdasarkan semua hal yang telah ketahuan selama seratus tahun terakhir dari studi dokumen kuno, yakni, dari riwayat tertulis peradaban kuno, gambaran sejarah spiritual manusia, sepanjang menyangkut rumusan keyakinannya, memperkenankan kita cukup menyimpulkan bahwa manusia memulai dengan keyakinan murni terhadap Tuhan keadilan dan kepengasihan, yang maha ada, maha kuasa, dan maha tahu, yang bisa disembah tanpa memerlukan gambar-gambar atau perlengkapan lain semacam itu.” (Arthur C. Custance) (Sumber: Dr. Arthur C. Custance, From Monotheism to Polytheism, www.custance.org)

“Segera begitu kita sampai pada tatanan kebudayaan primitif berikutnya, kondisi berubah sama sekali. Bukan hanya pasangan pertama atau ayah pertama yang mendapat penyembahan, tapi juga sejumlah besar atau kecil leluhur mati lainnya…penyembahan leluhur dan orang mati lainnya menggantikan penyembahan Entitas Tertinggi sepenuhnya, dan antropomorfisasi dewa-dewa yang diakibatkan oleh penyamaan ini melahirkan pembuatan berbagai macam ‘gambar’. Esensi murni Entitas Tertinggi direduksi menjadi karikatur kasar orang mati.” (Arhur C. Custance) (Sumber: Dr. Arthur C. Custance, From Monotheism to Polytheism, www.custance.org)

“Di Gurun Kalahari, di hutan Ituri, dan di banyak lokasi lain yang tak terhitung, antropolog-antropolog muda mulai mengerjakan tanya-jawab yang lebih dalam. Mereka bertanya kepada para penganut animisme: ‘Ngomong-ngomong, siapa yang menciptakan dunia?’ dan terkejut mendengar mereka menjawab, seringkali dengan senyum bahagia, dengan menyebut nama Entitas tunggal yang hidup di langit. ‘Apa Dia baik atau jahat?’ merupakan pertanyaan lumrah kedua. ‘Tentu saja baik’ adalah jawaban tetap. ‘Tunjukkan kepada saya berhala yang kalian gunakan untuk melambangkan-Nya,’ periset meminta. ‘Berhala apa? Tak tahukah Anda bahwa Dia jangan pernah dilambangkan dengan berhala apapun?’” (Don Richardson) (Sumber: Zenith Harris Merrill, Monotheism – The Original Religion of Man, www.bloomington.in.us)

“Suku Zulu tak punya berhala, melainkan mengakui Entitas Tertinggi yang dikenal sebagai Great-Great One ataupun sebagai First Outcomer. Terlepas dari reputasi mereka sebagai suku tanpa konsep Tuhan, suku Zulu berulangkali menyebut-Nya, dan sungguh atas kemauan sendiri, sebagai Pencipta segala sesuatu dan seluruh manusia.” (Pendeta Titcombe) (Sumber: Dr. Arthur C. Custance, From Monotheism to Polytheism, www.custance.org)

“Dalam Book of History ataupun Odes tak ada penyebutan berhala yang bisa ditelusuri. Tak ada perlambangan yang pernah dibuat di China untuk apapun di kayangan atas atau di bumi bawah untuk melambangkan Tuhan. Dan Dia boleh disembah di manapun kapanpun, sebab Dia hadir di mana-mana.” (Williams) (Sumber: Dr. Arthur C. Custance, From Monotheism to Polytheism, www.custance.org)

“Saya sadar bahwa pengalaman saya di hutan, pemahaman saya soal simpanse, telah memberi saya perspektif baru. Secara pribadi saya yakin sama sekali bahwa ada sebuah kekuatan spiritual besar yang kita sebut Tuhan, Allah, atau Brahma, walaupun saya tahu, juga secara yakin, bahwa akal terbatas saya takkan pernah bisa memahami wujud atau sifatnya… Saya mengimani kekuatan spiritual yang, sebagai seorang Kristen, saya sebut Tuhan. Tapi begitu saya tumbuh dewasa dan tahu tentang berbagai agama, saya jadi percaya bahwa, bagaimanapun juga, hanya ada Satu Tuhan, dengan nama berbeda-beda: Allah, Tao, Pencipta, dan sebagainya. Tuhan, menurut saya, adalah Roh Agung yang di dalam-Nya ‘kita hidup dan bergerak dan merasakan eksistensi kita’.” (Jane Goodall) (Sumber: Nancy K. Frankenberry (Editor), The Faith of Scientists in Their Own Words, New Jersey: Princeton University Press, 2008, hal. 302-303 & 307)

“Monoteisme dikenal di masa yang sangat awal. The Egyptian Book of the Dead menunjukkan bahwa bangsa Mesir mulanya meyakini satu Tuhan agung dan bukan banyak tuhan. Seiring berjalannya waktu, masing-masing atribut Tuhan sejati itu dipersonifikasikan sebagai dewa baru dan tersendiri – dan begitulah politeisme berkembang.” (Zenith Harris Merrill) (Sumber: Zenith Harris Merrill, Monotheism – The Original Religion of Man, www.bloomington.in.us)

“Seandainya konsepsi satu tuhan hanyalah evolusi dari penyembahan roh, semestinya kita menemukan penyembahan banyak tuhan yang mendahului penyembahan satu Tuhan… Apa yang kita temukan adalah sebaliknya, monoteisme merupakan taraf pertama yang tertelusuri dalam teologi… Ke manapun kita menelusuri politeisme sampai taraf terawalnya, kita menemukan bahwa itu dihasilkan dari kombinasi monoteisme.” (Sir Flinders Petrie) (Sumber: Dr. Arthur C. Custance, From Monotheism to Polytheism, www.custance.org)

“…ide bangsa Mesir kuno mengenai Tuhan adalah ide mengenai karakter yang amat mulia, dan jelas bahwa mereka membedakan secara tajam antara Tuhan dan ‘dewa-dewa’… Jadi di sini kita punya Satu Tuhan yang self-created (terwujud dengan sendirinya), self-existent (eksis dengan sendirinya), dan Maha Kuasa, yang menciptakan alam semesta.” (Sir Wallis Budge) (Sumber: Zenith Harris Merrill, Monotheism – The Original Religion of Man, www.bloomington.in.us)

“M. de Rouge tak diragukan lagi tepat dalam penegasannya bahwa di beberapa tempat (pusat) pemujaan, satu dewa yang sama muncul berulang kali dengan nama dan simbol berbeda-beda…” (Renouf) (Sumber: Dr. Arthur C. Custance, From Monotheism to Polytheism, www.custance.org)

“Faktanya bagi saya adalah bahwa agama Mesir tak pernah sama sekali kehilangan unsur monoteistis yang pernah dimilikinya.” (Sir Wallis Budge) (Sumber: Zenith Harris Merrill, Monotheism – The Original Religion of Man, www.bloomington.in.us)

“Sebagai hasil dari studi mereka atas teks-teks Mesir, banyak Egyptolog terdahulu, semisal Champollion-Figeac, de Rouge, Pierret, dan Brugsch tiba pada kesimpulan bahwa penghuni di Lembah Nil, sejak masa terawal, meyakini eksistensi satu Tuhan, yang tak bernama, tak dapat dicerna, dan kekal.” (Sir Wallis Budge) (Sumber: Zenith Harris Merrill, Monotheism – The Original Religion of Man, www.bloomington.in.us)

“…sejak, atau sebelum, permulaan periode sejarah, agama monoteistis murni Mesir melewati fase Sabeisme.” (M. de Rouge) (Sumber: Dr. Arthur C. Custance, From Monotheism to Polytheism, www.custance.org)

“…lembaran yang dilaporkan oleh T.G. Pinches, meski terlestarikan secara tak lengkap, memberitahu kita bahwa semua…dewa tertinggi di kuil Babilonia ditunjuk sebagai satu dengan dan satu dalam dewa Marduk.” (Arthur C. Custance) (Sumber: Dr. Arthur C. Custance, From Monotheism to Polytheism, www.custance.org)

“Ketika literatur tulisan paku mulai pertama kali menyingkap pesannya, ahli tulisan paku dan hieroglif Mesir segera mendapati diri mereka berhadapan dengan dahsyatnya jumlah dewa dan dewi, dan setan dan kekuatan spiritual lain yang lebih rendah, yang tampaknya selalu saling berperang dan kebanyakan amat destruktif. Namun, begitu lembaran-lembaran yang lebih purba digali dan diterangkan, dan ketrampilan dalam menguraikannya meningkat, gambaran pertama politeisme kasar mulai diganti oleh sesuatu yang lebih hampir mendekati hirarki makhluk-makhluk halus yang tersusun ke dalam semacam pengadilan dengan satu Entitas Tertinggi di atas mereka semua.” (Arthur C. Custance) (Sumber: Dr. Arthur C. Custance, From Monotheism to Polytheism, www.custance.org)

“Dan mereka berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak’, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan: ‘Sesungguhnya aku adalah tuhan selain daripada Allah’, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim.” (QS al-Anbiyaa’ [21]: 26-29)

“Selain hasil yang lebih nyata, penggalian kami telah membuktikan sebuah fakta baru, yang akan harus dipertimbangkan oleh peneliti agama-agama Babilonia. Kami telah memperoleh, untuk pertama kalinya sepanjang pengetahuan kami, material keagamaan yang utuh dalam hal suasana sosialnya. Kami memiliki banyak sekali bukti koheren, diperoleh dalam jumlah yang sama dari sebuah kuil dan dari rumah-rumah yang dihuni oleh orang-orang yang melakukan penyembahan di kuil tersebut. Jadi kami sanggup menarik kesimpulan, yang tak dimungkinkan oleh temuan itu sendiri. Contoh, kami menemukan bahwa gambar-gambar pada sumbat silinder (cylinder seal), yang biasanya terkait dengan beragam dewa, semuanya bisa dicocokkan menjadi gambaran konsisten di mana satu tuhan yang disembah di kuil ini merupakan figur sentral. Tampaknya pada periode awal ini berbagai aspek-Nya tidak dianggap sebagai dewa-dewa terpisah di kuil Sumeria-Akkadia.” (Henry Frankfor) (Sumber: Dr. Arthur C. Custance, From Monotheism to Polytheism, www.custance.org)

“Terdapat monoteisme yang mendahului politeisme Weda; dan bahkan dalam pemanggilan tak terkira banyaknya dewa, ingatan tentang Tuhan, yang maha esa dan maha kuasa, menerobos kabut fraseologi musyrik layaknya langit biru yang tersembunyi oleh awan yang melintas.” (Max Muller) (Sumber: Dr. Arthur C. Custance, From Monotheism to Polytheism, www.custance.org)

“Mereka memanggil dia Indra, Mythra, Varunna, Agni—Yang Maha Esa, nama Yang Maha Bijak dengan istilah berbeda-beda.” (Edward McCrady) (Sumber: Dr. Arthur C. Custance, From Monotheism to Polytheism, www.custance.org)

“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Yusuf [12]: 40)

“Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan.” (QS an-Najm [53]: 27)

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al-Lata dan al-Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (QS an-Najm [53]:19-23)

“Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” (QS al-Fuurqan [25]: 3)

“Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai Tuhan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) tidak dapat menolong mereka. Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka? Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan.” (QS al-Ahqaaf [46]: 28)

“Di Mesir, bahkan Osiris, Isis, dan Horus, yang begitu familiar sebagai tiga serangkai, mulanya didapati sebagai unit terpisah dalam kedudukan berlainan: Isis sebagai dewi perawan, dan Horus sebagai Tuhan yang eksis dengan sendirinya. Tiap-tiap kota kelihatannya memiliki satu dewa, dan kemudian [dewa-dewa] lainnya ditambahkan. Demikian halnya, kota-kota Babilonia masing-masing memiliki dewa tertinggi, dan kombinasi ini serta transformasi mereka menjadi kelompok-kelompok saat kampung halaman mereka menyatu secara politik menunjukkan bagaimana pada dasarnya mereka mulanya adalah dewa-dewa tersendiri.” (Sir Flinders Petrie) (Sumber: Dr. Arthur C. Custance, From Monotheism to Polytheism, www.custance.org)

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: ‘Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga’, padahal sekali-kali tidak ada tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS al-Maa’idah [5]: 73)

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: ‘(Tuhan itu) tiga’, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.” (QS An-Nisaa [4]:171)

“Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.’ Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).’” (QS Ali ‘Imran [3]: 64)

“Pada periode sejarah China ini, Tuhan Penguasa Tertinggi adalah maha esa dan tak dapat dibagi, tidak berubah, tak ada yang setara dengan-Nya, berkuasa mutlak dan sendirian atas segala sesuatu di kayangan atas dan di bumi bawah. Dia berbuat apa yang Dia kehendaki dan tak ada kekuatan yang mampu menghalangi-Nya, dan kehendak-Nya selalu benar…” (Williams) (Sumber: Dr. Arthur C. Custance, From Monotheism to Polytheism, www.custance.org)

“Salah satu dewa tertua dan tentu saja teragung adalah Dewa Langit Ti’en. Pada masa-masa amat awal, Ti’en dianggap sebagai raja agung di langit, lebih mulia daripada raja bumi manapun, lebih brilian, dan lebih menakutkan. Kemudian, banyak orang memandang dia sebagai dinamo impersonal, sumber energi yang menggerakkan dunia.” (Edward H. Schafer) (Sumber: Dr. Arthur C. Custance, From Monotheism to Polytheism, www.custance.org)

“Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (QS al-Anbiyaa’ [21]: 21-22)

“Kembali ke bangsa paling primitif, Pigmi Afrika atau penghuni Australia tengah atau Indian California tengah—semuanya memiliki satu Dewa Langit Tertinggi yang kepada-Nya mereka memberi persembahan darah mereka dan buah pertama mereka yang diperoleh dalam perburuan atau dari tanah. Semua bangsa ini juga memiliki doa-doa singkat dengan upacara di sana sini kepada Tuhan Pencipta Tertinggi yang sebelum-Nya tak ada satupun yang eksis.” (Wilhelm Schmidt) (Sumber: Dr. Arthur C. Custance, From Monotheism to Polytheism, www.custance.org)

“Semua bangsa primitif ini memiliki pengetahuan tentang Dewa Tertinggi, …Dewa Tertinggi yang mereka akui pada esensinya adalah sosok sama beratribut sama di mana-mana.” (Samuel Zwemer) (Sumber: Dr. Arthur C. Custance, From Monotheism to Polytheism, www.custance.org)

“Dr. Wilhelm Schmidt, seorang Austria, pada 1920-an mulai menghimpun setiap ‘nama alias Yang Maha Kuasa’ yang ditemukan oleh penjelajah di seluruh dunia. Schmidt menghabiskan enam volume yang mengagumkan berjumlah total 4.500 halaman untuk merinci semuanya! Minimal seribu contoh lebih telah ketahuan sejak saat itu. Kira-kira 90% atau lebih agama-agama rakyat di planet ini memuat pengakuan jelas akan eksistensi satu Tuhan Tertinggi!” (Zenith Harris Merrill) (Sumber: Zenith Harris Merrill, Monotheism – The Original Religion of Man, www.bloomington.in.us)

“Sifat, peran, dan karakteristik dewa langit universal ini mungkin tersembunyi di bawah bermacam wujud, tapi dia kurang-lebih selalu dapat dikenali oleh sejarawan agama dan selalu identik dalam definisi esensial… Dewa langit telah memerintah di mana-mana. Kerajaannya masih meliputi seluruh dunia tak beradab. (Dia memerintah banyak dunia beradab pula dengan nama berbeda-beda.) Tak ada motif historis dan protohistoris yang bisa ditetapkan sebagai penyebab, tidak pula migrasi ras ataupun penyebaran mitos dan cerita rakyat bisa memberikan justifikasi sedikitpun atas fakta ini. Universalitas dewa langit dan keseragaman karakter esensialnya merupakan konsekuensi logis dari keseragaman sistem kosmogoni primitif.” (G. Foucart) (Sumber: Zenith Harris Merrill, Monotheism – The Original Religion of Man, www.bloomington.in.us)

“Istilah Yunani, ‘Deos’ (Tuhan), telah mengalami perubahan pelafalan/geografis, berbentuk ‘Deos’ di suatu kawasan, ‘Deus’ di kawasan lain, dan ‘Theos’ di kawasan lain lagi. Itu cuma langkah kecil menuju ‘Zeus’, ‘Tuhan’ utama dalam mitologi Yunani. Maknanya telah berubah perlahan-lahan, tapi konsep awalnya bisa dengan mudah ditelusuri ke satu sumber bersama.” (Don Richardson) (Sumber: Zenith Harris Merrill, Monotheism – The Original Religion of Man, www.bloomington.in.us)

“Para teoris evolusi berpandangan bahwa konsep satu Entitas Tertinggi baru dicapai setelah melewati keyakinan yang lebih rendah semisal pemujaan, dewa-dewa alam, dan politeisme. Mereka kini menemukan bahwa semakin ‘primitif’ sebuah suku, semakin maju idenya mengenai satu Tuhan sejati – monoteisme!” (Zenith Harris Merrill) (Sumber: Zenith Harris Merrill, Monotheism – The Original Religion of Man, www.bloomington.in.us)

“Temuan-temuan semacam itu telah menggelisahkan evolusionis lebih daripada fenomena kebudayaan lainnya.” (Don Richardson) (Sumber: Zenith Harris Merrill, Monotheism – The Original Religion of Man, www.bloomington.in.us)

“Bukti-bukti menunjukkan bahwa [manusia] memulai dengan Cahaya sejati dan kini pemahamannya semakin gelap. Bukti atas hal ini di kalangan bangsa primitif ditemukan di setiap pelosok dunia di mana bangsa semacam itu kini eksis atau pernah eksis pada masa-masa belakangan. Dan paradoksnya, semakin primitif mereka, semakin sederhana dan semakin murni keyakinan mereka.” (Arthur C. Custance) (Sumber: Dr. Arthur C. Custance, From Monotheism to Polytheism, www.custance.org)

“Manusia punya kebutuhan sosial, moral, dan emosional. Yang pertama, atau kebutuhan sosial, dipenuhi oleh keyakinan awal dia terhadap Entitas Tertinggi yang juga merupakan Bapak manusia. Yang kedua, atau kebutuhan moral, mendapat sandaran dalam keyakinan terhadap Entitas Tertinggi yang juga merupakan Hakim kebaikan dan keburukan dan Dia bebas dari semua noda moral. Kelompok kebutuhan yang ketiga, atau emosional, dipenuhi oleh keyakinan dia terhadap Entitas Tertinggi Pemurah yang dari-Nya tak ada yang keluar selain kebaikan. Manusia memiliki kebutuhan lain pula. Dia mencari sebab rasional dan ini dipenuhi oleh konsep Entitas Tertinggi yang menciptakan dunia dan yang memerintahnya sedemikian rupa sehingga masuk akal, sedemikian rupa sehingga dapat dipercaya. Manusia juga membutuhkan pelindung dan menemukannya pada Entitas ini yang maha kuasa. Jadi dalam semua atribut ini, sosok dimuliakan ini melengkapi manusia primitif dengan kemampuan dan kekuatan untuk hidup dan mencintai, untuk percaya dan bekerja, dan untuk mengorbankan tujuan tak bernilai demi tujuan yang lebih bernilai.” (Wilhelm Schmidt) (Sumber: Dr. Arthur C. Custance, From Monotheism to Polytheism, www.custance.org)

“…karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 22)

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS al-Furqaan [25]: 43-44)

“Dan katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.’” (QS al-Israa [17]: 111)

“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan akan mengatakan: ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun.’ Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami…” (QS al-An’aam [6]: 148)

“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS al-Anbiyaa’ [21]: 92)