Bilangan Aneh Ditemukan Dalam Benturan Partikel

Di Large Hadron Collider di Jenewa, fisikawan menembakkan proton-proton keliling lintasan 17 mil dan menabrakkan mereka pada hampir kecepatan cahaya. Itu salah satu eksperimen ilmiah paling disetel halus di dunia, tapi saat coba memahami puing quantum, fisikawan mengawali dengan alat sederhana bernama diagram Feynman yang tidak jauh beda dari cara anak kecil melukiskan situasi ini.

Matematikawan Mengejar Bayangan Sinar Bulan

Pada 1978, matematikawan John McKay menyadari sebuah kebetulan aneh. Dia sedang mempelajari cara-cara pelambangan struktur entitas misterius yang disebut grup monster, objek aljabar raksasa yang, menurut matematikawan, menangkap kesimetrian jenis baru. Matematikawan tidak yakin grup monster ini betul-betul eksis, tapi mereka tahu bahwa jika memang eksis, ia beraksi dengan cara istimewa di dimensi-dimensi tertentu, dua yang pertama adalah 1 dan 196.883.

Fisikawan Bongkar “Ruang Teori” yang Geometris

Pada 1960-an, fisikawan karismatik Geoffrey Chew mengadopsi visi alam semesta radikal, serta cara baru mengerjakan fisika. Para teoris di masa itu sedang berjuang menemukan tatanan di hutan partikel-partikel temuan baru yang amburadul. Mereka ingin tahu partikel mana saja yang menjadi blok dasar penyusun alam dan partikel mana saja yang komposit. Tapi Chew, profesor di Universitas California, Berkeley, berargumen menentang pembedaan demikian. “Alam begini adanya karena ini satu-satunya alam potensial yang konsisten dengan dirinya sendiri,” tulisnya saat itu. Dia yakin dirinya dapat menyimpulkan hukum alam semata-mata dari persyaratan bahwa mereka harus swa-konsisten.

Anak Panah Waktu yang (Hampir) Dapat Dibalik

Orang mungkin menduga bahwa fakta sefundamental eksistensi anak panah waktu tertanam dalam hukum fundamental fisika. Padahal tidak demikian. Jika Anda bisa merekam peristiwa-peristiwa subatomik, Anda akan dapati versi waktu mundur terlihat betul-betul masuk akal. Atau, lebih tepatnya: hukum fundamental fisika—hingga beberapa pengecualian esoterik kecil, sebagaimana akan kita kupas—tampak dipatuhi, entah kita ikuti aliran waktu ke depan atau ke belakang. Dalam hukum fundamental, anak panah waktu bersifat reversibel (dapat dibalik).

Untuk Hindari Multiverse, Fisikawan Usulkan Kesimetrian Skala

Walau galaksi terlihat lebih besar dari atom, dan gajah terlihat lebih berat dari semut, beberapa fisikawan mulai curiga bahwa perbedaaan ukuran adalah ilusi. Jangan-jangan deskripsi fundamental alam semesta tidak mencakup konsep “massa” dan “panjang”; berarti di intinya, alam tak punya rasa akan skala (sense of scale).

‘Persoalan Ukuran’ Multiverse

Jika fisika modern dianggap benar, semestinya kita tak berada di sini. Dosis energi amat kecil yang merembesi ruang hampa, yang pada tingkat lebih tinggi dapat merobek-robek kosmos, adalah satu triliun triliun triliun triliun triliun triliun triliun triliun triliun triliun kali lebih kecil dari prediksi teori. Dan massa kerdil boson Higgs, yang kekecilan relatifnya memungkinkan terbentuknya struktur-struktur besar semisal galaksi dan manusia, kurang-lebih 100 kuadtriliun kali lebih rendah dari ekspektasi. Penaikan [besaran] konstanta-konstanta ini sedikit saja akan mengakibatkan alam semesta tidak dapat dihuni.

Michio Kaku – Bukti Tuhan Eksis

“Saya berkesimpulan, kita berada di dunia yang diciptakan berdasarkan kaidah yang dibuat oleh suatu kecerdasan. Percayalah, segala sesuatu yang kita sebut untung-untungan tidak lagi masuk akal hari ini. Bagi saya jelas, kita eksis dalam rencana yang diatur menurut kaidah yang dibuat, dibentuk oleh kecerdasan universal dan bukan oleh untung-untungan.”

Matematika Islam

Al-Qur’an sendiri mendorong pengumpulan ilmu pengetahuan, dan Zaman Emas sains dan matematika Islam tumbuh subur sepanjang periode pertengahan dari abad 9 s/d 15. Baitul Hikmah dibangun di Baghdad sekitar tahun 810, dan dimulailah penerjemahan

Pendirian Terakhir Fermat

Oleh: Simon Singh dan Kenneth A. Ribet (Sumber: Mathematical American, Desember 2003, hal. 25-28) Teorema paling terkenal miliknya telah membingungkan para pemikir hebat selama lebih dari tiga abad. Tapi setelah 10 tahun bekerja, seorang matematikawan memecahkannya. Juni silam, 500 matematikawan berkumpul di Great Hall Universitas Göttingen, Jerman, untuk menyaksikan Andrew J. Wiles dari Universitas Princeton … Continue reading Pendirian Terakhir Fermat