Oleh: Rachel Nuwer
6 Juni 2014
Sumber: BBC

Ratusan bahasa kita sedang terseok-seok di ambang kepunahan, dan sebagaimana Rachel Nuwer temukan, kita mungkin kehilangan lebih dari sekadar kata-kata jika mereka dibiarkan mati.

Tom Belt, orang asli Oklahoma, tidak bersentuhan dengan bahasa Inggris sampai dia menginjak taman kanak-kanak. Di rumahnya, percakapan berlangsung dalam bahasa Cherokee.

Belt tumbuh dewasa menunggangi kuda, dan usai lulus kuliah dia keliling negara melakoni pertunjukan rodeo. Akhirnya, dia berlabuh di North Carolina demi mengejar seorang wanita yang dijumpai di sekolah 20 tahun sebelumnya. “Selama tahun-tahun itu, dia bilang hal menarik dari saya adalah bahwa saya Cherokee termuda yang pernah ditemuinya yang bisa berbahasa Cherokee,” ungkap Belt. “Saya beli karcis pulang-pergi untuk mengunjunginya, tapi karcis pulang tak pernah terpakai.”

Pasangan ini menikah. Tapi isterinya—juga Cherokee—tidak berbicara bahasa tersebut. Dia segera sadar, dirinya adalah minoritas di antara kaumnya sendiri. Waktu itu, hanya 400-an penutur Cherokee yang tersisa dalam Eastern Band, suku yang berlokasi di tanah air historis Cherokee dan merupakan suku isterinya. Anak-anak kecil tak lagi belajar bahasa tersebut. “Saya mulai menyadari urgensi situasi ini,” kata Belt. Maka dia putuskan untuk berbuat sesuatu.

Cherokee bukan satu-satunya bahasa minoritas yang terancam punah. Selama seabad lalu saja, sekitar 400 bahasa—kurang lebih satu setiap tiga bulan—telah punah, dan mayoritas ahli bahasa menaksir 50% dari 6.500 bahasa dunia yang tersisa akan lenyap menjelang akhir abad ini (tapi sebagian menaruh angka setingginya 90%). Hari ini, sepuluh besar bahasa di dunia mewakili sekitar separuh populasi dunia. Bisakah kebhinnekaan bahasa dilestarikan, ataukah kita sedang menjadi spesies monolingual?

Bendera
Sepuluh besar bahasa di dunia mewakili sekitar separuh populasi dunia. (Kredit: Thinkstock)

Karena ada begitu banyak bahasa dalam bahaya, mustahil melabeli salah satunya sebagai bahasa paling langka atau paling terancam punah, tapi minimal 100 bahasa di seluruh dunia memiliki segelintir penutur saja—mulai dari Ainu di Jepang hingga Yagan di Chile. Menemukan orang-orang ini juga bisa sulit. Ada beberapa kasus terkenal—Marie Smith Jones wafat di Alaska pada 2008, membawa pergi bahasa Eyak bersamanya—tapi biasanya mereka adalah orang sepuh (seringkali dalam kondisi kesehatan menurun) yang tidak memperlihatkan keterampilan bahasa mereka. “Semakin sedikit jumlah penuturnya, semakin sulit memperoleh hitungan akurat,” kata David Harrison, direktur jurusan linguistik di Swarthmore College, dan salah satu pendiri organisasi nirlaba Living Tongues Institute for Endangered Languages.

Jikapun sejumlah orang masih menggunakannya, mereka mungkin hidup terpisah jauh sehingga tidak saling bercakap-cakap—atau dalam kasus bahasa Meksiko pra-Columbus, Ayapaneco, dua penutur terakhir menolak bicara satu sama lain selama bertahun-tahun. Tanpa praktek, bahasa asli sekalipun akan mulai merosot dalam benak penuturnya. Salikoko Mufwene, ahli bahasa di Universitas Chicago, tumbuh dewasa menggunakan bahasa Kiyansi, yang dipakai oleh sebuah kelompok etnis kecil di Republik Demokratik Kongo. Selama 40 tahun hidup jauh dari RDK, Mufwene hanya menemukan dua orang yang berbicara dalam bahasa tersebut. Dalam lawatan baru-baru ini ke kampung halamannya, dia mencari-cari kata dan berusaha keras mengikuti percakapan. “Saya sadar, Kiyansi lebih eksis dalam imajinasi saya daripada dalam praktek,” tuturnya. “Dengan cara inilah bahasa mati.”

Jika para penutur terakhir sebuah bahasa hidup terpisah jauh, kosakata mereka mulai pudar. (Kredit: Thinkstock)

Bahasa biasanya menyentuh titik genting setelah digeser oleh bahasa yang dominan secara sosial, politik, dan ekonomi, seperti kata para ahli bahasa. Dalam skenario ini, mayoritas menggunakan sebuah bahasa lain—Inggris, Mandarin, Swahili. Jadi pemakaian bahasa tersebut adalah kunci mengakses pekerjaan, pendidikan, dan peluang. Adakalanya, terutama di komunitas imigran, orangtua memutuskan tidak mengajarkan bahasa warisan mereka kepada anak-anak, menganggapnya rintangan potensial bagi keberhasilan hidup.

Penutur bahasa minoritas menderita riwayat panjang persekusi. Hingga abad 20, banyak anak-anak Indian Amerika di Kanada dan AS dikirim ke sekolah asrama, di mana mereka sering dilarang berbicara dalam bahasa asli. Hari ini, banyak orang Amerika penutur bahasa Inggris masih memusuhi penutur non-bahasa Inggris, khususnya penutur bahasa Spanyol. Agustus silam, seorang ahli bahasa di China ditangkap karena mencoba membuka sekolah yang mengajarkan bahasa aslinya, Uighur. Kabarnya belum terdengar sejak saat itu.

Bahasa Terancam Punah

Untuk alasan ini dan lainnya, bahasa-bahasa sedang sekarat di seluruh dunia. Atlas of the World’s Languages in Danger milik Unesco mendaftar 576 bahasa sebagai terancam punah secara kritis, ribuan lain digolongkan sebagai terancam punah atau terancam. Jumlah tertinggi ada di Amerika. “Saya mau bilang nyaris semua bahasa [minoritas] di AS dan Kanada terancam punah,” kata Peter Austin, profesor linguistik lapangan di Universitas London. “Bahkan bahasa seperti Navajo, dengan ribuan penutur, masuk ke dalam kategori ini karena tak banyak anak mempelajarinya.” Namun jika diukur berbanding populasi, Australia memegang rekor dunia untuk bahasa terancam punah. Ketika orang Eropa pertama kali tiba di sana, 300 bahasa aborigin digunakan di seantero negara tersebut. Sejak saat itu, 100-an bahasa sudah punah, dan ahli bahasa menghitung 95% dari sisanya sedang mendekati ajal. Cuma selusin dari 300 bahasa awal masih diajarkan kepada anak-anak.

Penampil pertunjukan aborigin
Di Australia, lebih dari 100 bahasa aborigin telah punah sejak pendatang Eropa tiba. (Kredit: Getty Images)

Tapi memangnya kenapa jika sebuah bahasa tak jelas yang digunakan sedikit orang di sudut dunia terpencil menghilang?
Sebagian orang berargumen bahwa kehilangan bahasa, seperti halnya kehilangan spesies, adalah fakta kehidupan di planet yang terus berevolusi. Tapi kontra-argumen berlimpah-ruah. “Banyak orang merujuk pada Darwinisme sosial untuk berkata ‘masa bodoh’,” kata Mark Turin, antropolog dan ahli bahasa di Universitas Yale. “Tapi kita membelanjakan banyak uang untuk melindungi spesies dan keanekaragaman hayati, jadi kenapa hal yang menjadikan kita manusia tidak mesti dipelihara dan dilindungi pula?”

Terlebih, bahasa adalah saluran warisan manusia. Tulisan merupakan perkembangan relatif anyar dalam sejarah kita (sistem tulisan saat ini eksis di sepertiga bahasa dunia saja), jadi bahasa itu sendiri adalah satu-satunya cara untuk menyampaikan lagu, cerita, dan syair suatu komunitas. Iliad adalah cerita lisan sebelum dituliskan, begitu pula Odyssey. “Berapa banyak tradisi lain di luar sana yang takkan pernah kita ketahui karena tak seorangpun merekamnya sebelum bahasanya lenyap?” kata Austin.

Anak kucing
Apa perasaan Anda melihat anak kucing ini? Bahasa Cherokee punya kata unik untuk itu, “oo-kah-huh-sdee”. (Kredit: Thinkstock)

Bahasa juga menyampaikan budaya unik. Cherokee, misalnya, tidak punya kata untuk goodbye (“selamat tinggal”), hanya ada I will see you again (“kita akan bertemu lagi”). Demikian pula, tak ada ungkapan untuk I’m sorry (“saya minta maaf”). Di sisi lain, ia memiliki ungkapan istimewanya sendiri. Satu kata, oo-kah-huh-sdee, mewakili kegemasan yang dialami saat melihat bayi manis atau anak kucing. “Semua hal ini menyampaikan sebuah budaya, sebuah cara menafsirkan perilaku dan emosi manusia yang tidak tersampaikan dalam bahasa Inggris,” kata Belt. Tanpa bahasa, budayanya sendiri mungkin terseok-seok, atau bahkan menghilang. “Jika kita ingin bertahan hidup, ingin terus eksis sebagai masyarakat dengan budaya khas dan unik,” sambungnya, “maka kita harus memiliki bahasa.”

“Sangat sulit sebagai penutur bahasa Inggris untuk memahaminya,” tambah Lenore Grenoble, ahli bahasa di Universitas Chicago. “Tapi Anda mendengarnya berkali-kali: bahwa orang-orang merasakan kehilangan bahasa mereka secara sangat personal.”

Kekayaan Kearifan

Sebuah argumen lain mencerminkan dalil pelestarian keanekaragaman hayati. Sebagaimana ekosistem menyediakan segudang layanan untuk umat manusia—sebagian sudah diketahui, yang lain tidak diketahui atau belum ditemukan—bahasa juga matang dengan segala kemungkinan. Mereka mengandung sekumpulan pengetahuan, mencakup geografi, ilmu hewan, matematika, ilmu pelayaran, astronomi, ilmu farmasi, ilmu tumbuhan, meteorologi, dan banyak lagi. Dalam kasus Cherokee, bahasa tersebut lahir dari ribuan tahun menghuni Pegunungan Appalachia selatan. Ada kosakata Cherokee untuk setiap béri terakhir, batang, daun palem, dan jamur payung di kawasan itu, dan nama-nama tersebut juga menyampaikan atribut yang mungkin dimiliki objeknya—apa ia bisa dimakan, beracun, atau bernilai medis. “Tak ada budaya yang memonopoli kejeniusan manusia, dan kita tak pernah tahu dari mana gagasan cemerlang berikutnya datang,” kata Harrison. “Kita kehilangan pengetahuan kuno jika kita kehilangan bahasa.”

Béri
Bahasa bisa mengandung pengetahuan penting—nama-nama béri bisa memberitahu apakah mereka beracun, misalnya. (Kredit: Thinkstock)

Terakhir, bahasa adalah cara menafsirkan dunia, dan tak ada dua bahasa yang sama. Dengan demikian, mereka dapat menyediakan wawasan tentang ilmu syaraf, psikologi, dan kapasitas linguistik spesies kita. “Bahasa-bahasa berbeda menyediakan jalan pemikiran dan kerangka khas untuk memikirkan dan memecahkan masalah,” kata Harrison. Kembali ke Cherokee, tak seperti bahasa Inggris, ia lebih berdasarkan kata kerja daripada kata benda, dan kata-kata kerjanya dapat ditasrifkan dalam banyak cara berdasarkan siapa objek penderitanya. Dan tergantung akhiran, penutur dapat menunjukkan apakah sebuah kata benda mendekati atau menjauhinya, menanjak atau menurun, ke hulu atau ke hilir. Ini cara yang jauh lebih presisi dalam berurusan dengan dunia dibanding bahasa Inggris. “Ada kesalahpahaman bahwa bahasa-bahasa ini sederhana karena banyak yang tidak dituliskan,” kata Turin. “Padahal sebagian besar mempunyai sistem tatabahasa luar biasa rumit yang jauh melebihi sistem bahasa Inggris.”

Berebut Menyelamatkan

Atas semua alasan ini, para ahli bahasa berebut mendokumentasikan dan mengarsipkan beranekaragam bahasa yang sedang menghilang dengan cepat. Upaya mereka meliputi pembuatan kamus, pencatatan sejarah dan tradisi, dan penerjemahan cerita lisan. “Jika ada dokumentasi bagus, maka ada peluang bahasa-bahasa ini dapat direvitalisasi di masa mendatang bahkan setelah mereka tak lagi dipakai,” ucap Turin.

Namun, tanpa penutur atau orang yang tertarik merevitalisasinya, upaya ini seperti “melestarikan bahasa sebagai artefak museum,” kata Mufwene.

Setelah sadar bahwa bahasanya akan lenyap, Belt dan para penutur Cherokee lain yang prihatin di Eastern Band mulai berunding bagaimana menyelamatkan bahasa ini. Belt bersukarela, misalnya, mengajarkan pelajaran bahasa Cherokee di sekolah setempat, dan akhirnya suku tersebut memutuskan membuat sekolah imersi bahasa untuk anak-anak, di mana pelajaran-pelajaran inti—meliputi sains dan matematika—diajarkan dalam bahasa Cherokee. Bahasa Cherokee kini juga ditawarkan di universitas setempat di mana Belt mengajar.

Kata (Kredit: Thinkstock)

“Eastern Cherokee adalah salah satu yang diam-diam mengerjakan program revitalisasi bahasanya sendiri,” kata Bernard Perley, antropolog di Universitas Wisconsin, Milwaukee. “Tapi tak seorangpun pernah mendengar pekerjaan yang mereka lakukan.”

Ada juga beberapa contoh bahasa dihidupkan kembali bahkan setelah betul-betul punah. Pada 1960-an, para penutur fasih terakhir bahasa Miami yang tinggal di Midwest meninggal dunia. Namun, sebagian besar berkat usaha seorang anggota suku Miami Nation yang menaruh perhatian, bahasa itu kini diajarkan di Universitas Miami, Ohio. “Miami Nation bertanya, bagaimana jika para ahli keliru? Bagaimana jika bahasa ini cuma sedang tidur, dan kita dapat membangunkannya?” kata Perley. “Mereka mengubah retorika tersebut dari mati menjadi hidup.”

Dukungan Teknologi

Hingga taraf tertentu, teknologi dapat membantu upaya ini. “Banyak penutur memanfaatkan teknologi untuk melakukan hal-hal menarik yang tak terbayangkan satu generasi silam,” kata Turin. Sebagai contoh, sebuah versi Windows 8 tersedia dalam bahasa Cherokee, dan sebuah aplikasi Cherokee memungkinkan penuturnya mengirim SMS dalam ke-85 huruf bahasa tersebut. Banyak situs yang dicurahkan untuk bahasa-bahasa tunggal atau bahasa-bahasa kawasan tertentu menyatukan para penutur dan juga menyediakan alat ajar multimedia, meliputi proyek Digital Himalayas, blog Diyari, proyek Arctic Languages Vitality, dan Enduring Voices Project.

Berkat upaya Eastern Band, hari ini sekitar 60 anak mereka dapat berbahasa Cherokee—statistik yang jauh lebih baik daripada ketika Belt pindah ke North Carolina pada 1991. Belt, bersama tak terhitung penutur bahasa-bahasa langka dan terancam punah lainnya, tidak siap membiarkan bahasanya pudar menjadi sejarah—meskipun perjalanan ke arah revitalisasi adalah perjalanan menanjak. Seperti kata seorang tetua kepada Belt bertahun-tahun lalu: “Bagus-bagus saja kalian mau melakukan ini, tapi ingat, mereka tidak mengambilnya dalam semalam, dan kalian takkan mendapatkannya kembali dalam semalam.”

Jika Anda ingin mengomentari artikel ini atau apa saja yang Anda baca di BBC Culture, kunjungi laman Facebook atau Google+ kami atau kirim pesan di Twitter.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s