Pakar NASA Ini Masuk Islam Pasca Sembunyikan Fakta Lailatul Qadar

Oleh: Adiba Hasan
Jum’at, 23 Ramadhan 1436 H / 10 Juli 2015
(Sumber: www.arrahmah.com)

Subhanallah ternyata banyak yang disembunyikan oleh orang-orang barat tentang kehebatan Islam yang ditunjukkan dalam bentuk kejadian alam di dunia ini.

Ilustrasi - Pakar NASA ini masuk Islam pasca sembunyikan fakta Lailatul Qadar
Ilustrasi – Pakar NASA ini masuk Islam pasca sembunyikan fakta Lailatul Qadar

Kepala Lembaga Mukjizat Ilmiah Al-Quran dan Sunnah di Mesir, Dr. Abdul Basith As-Sayyid menegaskan bahwa, Badan Nasional Antariksa Amerika (NASA) telah menyembunyikan kepada dunia bukti empiris ilmiah tentang (malam) Lailatul Qadar. Demikian dilansir BIP, Ahad (5/7/2015).

Ia menyayangkan kelompok jutawan Arab yang kurang perhatian dengan masalah ini sehingga dunia tidak mengetahuinya. Menurutnya, sesuai dengan hadits Nabi bahwa malam Lailatul Qadar adalah “baljah” (بَلْجَة); tingkat suhunya sedang), tidak ada bintang atau meteor jatuh ke (atmosfer) bumi, dan pagi harinya matahari keluar dengan tanpa radiasi cahaya.” Read more…

Seperempat Abad Matematika Rekreasional

Oleh: Martin Gardner
Ilustrasi oleh: Ian Worpole
(Sumber: Mathematical American, Desember 2003, hal. 2-9)

Penulis kolom “Mathematical Games” di Scientific American sejak 1956 sampai 1981 menceritakan 25 tahun teka-teki menghibur dan penemuan serius.

“Hiburan termasuk bidang matematika terapan.”
William F. White, A Scrapbook of Elementary Mathematics

Saya memulai kolom “Mathematical Games” dalam Scientific American edisi Desember 1956 dengan sebuah artikel tentang heksafleksagon. Struktur mengherankan ini, dihasilkan dengan melipat kertas biasa menjadi heksagon lalu merekatkan ujung-ujungnya, dapat dibalik sebelah dalamnya keluar secara berulangkali, sehingga menyingkap muka-muka tersembunyi. Struktur ini ditemukan pada 1939 oleh sekelompok mahasiswa sarjana Universitas Princeton. Heksafleksagon sangat asyik dimainkan, tapi yang lebih penting, ia memperlihatkan mata rantai antara teka-teki rekreasional dan matematika “serius”: salah satu penemunya adalah Richard Feynman, yang kemudian tergolong fisikawan teoritis paling masyhur di abad ini.

Pada waktu saya mengawali kolom tersebut, belum banyak buku-buku matematika rekreasional yang dicetak. Judul klasik di genre ini—Mathematical Recreations and Essays, ditulis oleh matematikawan ulung asal Inggris, W.W. Rouse Ball pada 1892—tersedia dalam versi yang diperbarui oleh sosok legendaris lain, ahli geometri Kanada, H.S.M. Coxeter. Dover Publications menerbitkan terjemahan dari buku berbahasa Prancis, La Mathématique des Jeux (Mathematical Recreations), karya teoris bilangan asal Belgia Maurice Kraitchik. Tapi di samping segelintir koleksi teka-teki lain, tak ada lagi yang bisa diceritakan. Read more…

Matinya Bukti

Oleh: John Horgan
(Sumber: Mathematical American, Desember 2003, hal. 10-15)

Komputer sedang mengubah cara matematikawan dalam menemukan, membuktikan, dan menyampaikan ide-ide, tapi adakah tempat untuk kepastian mutlak di dunia baru ini?

Legenda menyebut, tatkala Pythagoras dan para pengikutnya menemukan teorema yang menyandang namanya di abad 6 SM, mereka menyembelih seekor lembu jantan dan berpesta untuk merayakan. Sah-sah saja. Temuan mereka, yaitu hubungan antara sisi-sisi sebuah segitiga siku-siku, terus berlaku, bukan kadangkala atau seringkali, tapi selalu—tak peduli apakah segitiganya berupa sepotong sutera atau sebidang tanah atau lambang di atas daun lontar. Ini seperti sihir, anugerah para dewa. Tak heran begitu banyak pemikir, dari Plato hingga Kant, menjadi yakin bahwa matematika menawarkan kebenaran paling murni yang boleh diketahui manusia.

Keyakinan tersebut tampaknya dipertegas lagi pada bulan Juni lalu ketika Andrew J. Wiles dari Universitas Princeton mengungkap, dalam pertemuan di Universitas Cambridge, bahwa dirinya telah memecahkan teorema terakhir Fermat. Persoalan ini, salah satu yang paling terkenal dalam matematika, diajukan lebih dari 350 tahun lampau, dan berakar dari Pythagoras sendiri. Karena tak tersedia lembu jantan, para pendengar Wiles menunjukkan apresiasi mereka dengan bertepuk tangan. Read more…