Haruskah Sains Berunding Dengan Agama?

Oleh: Lawrence M. Krauss dan Richard Dawkins
(Sumber: Scientific American, Juli 2007, hal. 88-91)

Dua pembela sains kenamaan saling bertukar pandangan perihal bagaimana ilmuwan sebaiknya mendekati agama dan para pemeluknya.

Pendahuluan Editor
Walaupun kedua penulis berada di pihak sains, mereka tidak selalu sependapat tentang cara terbaik dalam menentang ancaman bermotif agama terhadap praktek atau pelajaran ilmiah. Kraus, fisikawan terkemuka, sering masuk sorotan publik untuk mempertahankan teori evolusi dalam kurikulum sains sekolah dan menjauhkan varian-varian kreasionisme ilmiah semu darinya. Sebuah surat terbuka dikirimnya kepada Paus Benediktus XVI di tahun 2005, mendesak Paus agar tidak membangun tembok baru antara sains dan agama, agar memimpin Vatikan dalam menegaskan kembali pengakuan Gereja Katolik terhadap seleksi alam sebagai teori ilmiah yang sah.

Dawkins, biolog evolusi, penulis subur dan dosen, juga merupakan pengkritik fasih terhadap segala upaya meruntuhkan penalaran ilmiah. Namun secara umum dia kurang menampakkan perhatian dibanding Krauss dalam menggapai koeksistensi damai antara sains dan agama. Judul buku laris Dawkins, The God Delusion, barangkali paling merangkum pendapatnya soal keyakinan agama. Read more…

100 Tahun Misteri Quantum

Oleh: Max Tegmark dan John Archibald Wheeler
(Sumber: Scientific American, Februari 2001, hal. 68-75)

Sementara teori quantum merayakan ulangtahun ke-100, berbagai kesuksesan spektakulernya bercampur dengan teka-teki bandel.

“Dalam beberapa tahun ke depan, semua konstanta fisikal penting akan telah dikalkulasi, dan…satu-satunya pekerjaan yang tersisa bagi orang-orang sains saat itu adalah membawa pengukuran ini ke posisi desimal berikutnya.” Seiring kita memasuki abad 21 di tengah banyak kegemparan prestasi masa lalu, sentimen ini mungkin terdengar akrab. Tapi kutipan di atas keluar dari James Clerk Maxwell dan berasal dari pidato pelantikannya di Universitas Cambridge tahun 1871 yang mengungkapkan suasana di masa itu (walaupun suasana tersebut tidak disetujuinya). Tiga dekade kemudian, 14 Desember 1900, Max Planck mengumumkan rumusannya untuk spektrum benda hitam, letusan pertama revolusi quantum.

Artikel ini meninjau ulang 100 tahun pertama mekanika quantum, dengan fokus khusus pada sisi misteriusnya, memuncak dalam perdebatan berkelanjutan tentang konsekuensinya terhadap berbagai isu, mulai dari komputasi quantum hingga kesadaran, alam-alam semesta paralel, dan sifat dasar realitas fisik. Kami mengabaikan deretan penerapan ilmiah dan praktis yang mencengangkan yang ditopang oleh mekanika quantum: hari ini diperkirakan 30% PDB Amerika Serikat didasarkan pada penemuan yang diwujudkan oleh mekanika quantum, mulai dari semikonduktor pada chip komputer hingga laser pada pemutar CD, pencitraan resonansi magnetik di rumah sakit, dan banyak lagi. Read more…

Fisika Quantum — Penemuan yang Melumpuhkan Materialisme Secara Ilmiah

15 Maret 2008
(Sumber: www.harunyahya.com)

Model quantum alam semesta merupakan upaya untuk membersihkan [teori] Big Bang dari implikasi kreasionisnya. Para pendukung model ini mendasarkannya pada observasi fisika quantum (sub-atom). Dalam fisika quantum, partikel-partikel sub-atom teramati timbul dan lenyap secara spontan dalam kevakuman. Menafsirkan observasi ini—bahwa materi dapat bermula dari level quantum, bahwa ini adalah atribut materi—sebagian fisikawan berusaha menjelaskan kemulaan/kelahiran materi dari ketiadaan, pada saat terciptanya alam semesta, sebagai atribut materi dan menyajikannya sebagai bagian hukum alam. Dalam model ini, alam semesta kita ditafsirkan sebagai partikel sub-atom di dalam [partikel sub-atom] yang lebih besar.

Namun silogisme ini sudah tentu mustahil dan biar bagaimanapun tak mampu menjelaskan bagaimana alam semesta mewujud. William Lane Craig, penulis The Big Bang: Theism and Atheism, menjelaskan alasannya:

Kevakuman mekanis quantum yang melahirkan partikel-partikel materil jauh sekali dari gagasan “kevakuman” (artinya kenihilan) standar. Malah, kevakuman quantum adalah lautan partikel yang terus-menerus terbentuk dan larut. Partikel-partikel itu meminjam energi dari kevakuman untuk eksistensi singkat mereka. Ini bukan “nihil”, dan karenanya, partikel materil tidak mewujud dari nihil.[1]

Read more…