Untuk Hindari Multiverse, Fisikawan Usulkan Kesimetrian Skala

Walau galaksi terlihat lebih besar dari atom, dan gajah terlihat lebih berat dari semut, beberapa fisikawan mulai curiga bahwa perbedaaan ukuran adalah ilusi. Jangan-jangan deskripsi fundamental alam semesta tidak mencakup konsep “massa” dan “panjang”; berarti di intinya, alam tak punya rasa akan skala (sense of scale).

Bukti Multiverse Dari Tubrukan Antar Semesta

Mulanya Peiris skeptis. “Sebagai pengamat saya berpikir, teori apapun, betapapun menarik dan anggun, sangat tidak sempurna jika ia tidak punya konsekuensi yang dapat diuji,” ungkapnya. Tapi Johnson meyakinkannya, mungkin ada cara untuk menguji konsep ini. Jika alam semesta yang kita huni pernah bertubrukan dengan alam semesta lain di masa lampau, tabrakan itu akan meninggalkan jejak pada gelombang mikro kosmik latar (CMB), pijaran susulan redup dari Big Bang. Dan jika fisikawan mampu mendeteksi tanda tersebut, itu akan menyediakan jendela menuju multiverse.

‘Persoalan Ukuran’ Multiverse

Jika fisika modern dianggap benar, semestinya kita tak berada di sini. Dosis energi amat kecil yang merembesi ruang hampa, yang pada tingkat lebih tinggi dapat merobek-robek kosmos, adalah satu triliun triliun triliun triliun triliun triliun triliun triliun triliun triliun kali lebih kecil dari prediksi teori. Dan massa kerdil boson Higgs, yang kekecilan relatifnya memungkinkan terbentuknya struktur-struktur besar semisal galaksi dan manusia, kurang-lebih 100 kuadtriliun kali lebih rendah dari ekspektasi. Penaikan [besaran] konstanta-konstanta ini sedikit saja akan mengakibatkan alam semesta tidak dapat dihuni.

Fisikawan Temukan Bukti Bahwa Alam Semesta Adalah “Otak Raksasa”

Menurut studi yang dipublikasikan dalam Scientific Reports di jurnal Nature, alam semesta mungkin sedang tumbuh seperti otak raksasa—di mana letusan elektris antara sel-sel otak “dicerminkan” oleh bentuk galaksi meluas. Hasil simulasi komputer mengindikasikan “dinamika pertumbuhan alami”—cara sistem berevolusi—adalah sama untuk berbagai macam jejaring, entah itu internet, otak manusia, ataupun alam semesta secara keseluruhan.

“Teori Multiverse” Berpandangan Alam Semesta Adalah Matriks Realitas Virtual

Jika Anda pernah berpikir hidup adalah mimpi, tenang saja. Beberapa ilmuwan tersohor mungkin sependapat. Para filsuf sudah lama bertanya apakah memang ada dunia nyata di luar sana, ataukah “realitas” hanyalah kilasan imajinasi kita. Lalu datanglah fisikawan quantum, yang menyingkap alam ketidakpastian atom ala Alice in Wonderland, di mana partikel-partikel bisa berupa gelombang, dan benda padat larut ke dalam pola samar energi quantum. Dan sekarang kosmolog ikut-ikutan, menyatakan bahwa apa yang kita persepsikan sebagai alam semesta mungkin sebetulnya tidak lebih dari simulasi raksasa.

Ilmuwan Kondang Dunia Michio Kaku Buktikan Eksistensi Tuhan

Fisikawan teoritis Michio Kaku, salah satu ilmuwan paling terhormat di masa kini, mengklaim telah menemukan bukti pasti eksistensi Tuhan. Informasi yang dia sampaikan menimbulkan kegemparan hebat di komunitas ilmiah mengingat statusnya sebagai salah seorang pencipta dan pengembang teori revolusioner, Teori String, yang sangat diperhatikan di mana-mana.

Michio Kaku – Bukti Tuhan Eksis

“Saya berkesimpulan, kita berada di dunia yang diciptakan berdasarkan kaidah yang dibuat oleh suatu kecerdasan. Percayalah, segala sesuatu yang kita sebut untung-untungan tidak lagi masuk akal hari ini. Bagi saya jelas, kita eksis dalam rencana yang diatur menurut kaidah yang dibuat, dibentuk oleh kecerdasan universal dan bukan oleh untung-untungan.”

Catatan Mengenai Implicate Order

Haruskah kita mempertimbangkan Implicate Order sebagai bentuk baru tatanan deskriptif dalam fisika, misalnya menggantikan apa yang Bohm sebut Cartesian Order (koordinat dan titik tetap/pasti di ruang)? Ataukah itu pernyataan ontologis tentang dunia dan realitas (pernyataan tentang dunia apa adanya)?

Dua Jenis Tatanan

Setiap orang pernah melihat citra keterlipatan: Anda lipat sehelai kertas, ubah jadi paket kecil, buat sayatan, lalu hamparkan menjadi sebuah pola. Bagian-bagian yang berdekatan di sayatan terhampar menjauh. Ini seperti yang terjadi pada hologram. Keterlipatan sebetulnya sangat lumrah dalam pengalaman kita. Semua cahaya masuk ke ruangan ini hingga seluruh ruangan praktisnya terlipat ke dalam setiap bagian. Jika mata Anda menengok, maka cahaya akan dihamparkan oleh mata dan otak Anda. Saat Anda menengok lewat teleskop atau kamera, seluruh alam ruang dan waktu terlipat ke dalam setiap bagian, dan itu terhampar kepada mata. Pada televisi kuno yang tidak disetel dengan tepat, gambarnya terlipat ke dalam layar dan kemudian dapat dihamparkan melalui penyetelan.

Gnosis Bohm – Implicate Order

Bohm percaya, Implicate Order harus diperluas ke realitas multidimensi. Dengan kata lain, hologerak terlipat dan terhampar tanpa akhir menuju dimensionalitas ananta. Dalam lingkungan ini terdapat subtotalitas independen (misalnya unsur fisik dan entitas manusia) berotonomi relatif. Lapisan-lapisan Implicate Order dapat masuk semakin dalam menuju hal/alam tak dikenal. “Totalitas tak dikenal dan tak terdeskripsikan” inilah yang Bohm sebut hologerak. Hologerak adalah “dasar fundamental semua materi”.

David Bohm, Implicate Order, dan Hologerak

Teori Implicate Order memuat pandangan kosmik ultra-holistik; ia menghubungkan segala sesuatu dengan segala sesuatu yang lain. Secara prinsip, unsur individual apapun dapat mengungkap “informasi rinci mengenai setiap unsur lain di alam semesta”. Tema sentral teori Bohm adalah “keutuhan totalitas eksistensi yang tak terputus sebagai gerak mengalir tak terbagi tanpa batas”.