Oleh: Ajip Rosidi
(Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu 5 November 2011, hal. 30)

Bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk kata jamak. Jumlah benda atau orang yang melakukan kata kerja tidak memengaruhi bentuk kata benda atau kata kerja yang digunakan dalam bahasa Indonesia. Sebuah disebut buku, dua buah disebut buku, banyak disebut buku juga. Seorang disebut manusia, dua orang disebut manusia, dan banyak orang juga disebut manusia.

Berlainan misalnya dengan bahasa Inggris yang membedakan kata bendanya kalau jumlahnya satu dengan yang lebih dari satu (banyak). One book, many books. A man, many men. Secara umum bentuk jamak dalam bahasa Inggris ditambah dengan huruf s, tetapi ada kekecualian seperti halnya dengan man yang menjadi men, tidak menjadi mans, a mouse menjadi many mice, tidak menjadi many mouses, dan lain-lain. Kekecualian itu tidak banyak, tetapi harus dihafalkan.

Dalam bahasa Belanda dan beberapa bahasa Barat lainnya pun ada bentuk yang membedakan menyebut benda tunggal dengan menyebut benda yang jumlahnya banyak (lebih dari satu). Misalnya dalam bahasa Prancis seperti dalam bahasa Inggris ditambah dengan s. Dalam bahasa Belanda kalau banyak ditambah dengan akhiran –en, seperti een dier (mufrad), tetapi viel dieren (jamak), een doctor (mufrad), tetapi drie doctoren (jamak). Read more…

Oleh: Lawrence H. Ford dan Thomas A. Roman
(Sumber: Scientific American, Special Edition – The Edge of Physics, Mei 2003, hal. 84-91)

Pembangunan wormhole dan warp drive membutuhkan bentuk energi yang sangat tak biasa. Tapi hukum fisika yang memperkenankan “energi negatif” ini juga membatasi perilakunya.

Wormhole akan terlihat sebagai bukaan bulat menuju wilayah kosmos yang jauh. Dalam foto Times Square rekayasa ini, wormhole memungkinkan warga New York berjalan ke Sahara dengan satu langkah. Walaupun tidak melanggar hukum fisika yang dikenal, wormhole semacam itu membutuhkan jumlah energi negatif yang tak realistis.

Bisakah kawasan ruang mengandung [sesuatu] kurang dari nol? Akal sehat akan bilang tidak; yang paling banter bisa kita lakukan adalah menyingkirkan semua materi dan radiasi dan menyisakan kevakuman. Tapi fisika quantum terbukti punya kemampuan mengacaukan intuisi, dan tidak terkecuali dalam perkara ini. Kawasan ruang, ternyata, bisa mengandung [sesuatu] kurang dari nol. Energi per unit volumenya—densitas energi—bisa kurang dari nol.

Tak perlu dikatakan, implikasinya ganjil. Menurut relativitas umum, teori gravitasi Einstein, kehadiran materi dan energi melengkungkan struktur geometris ruang dan waktu. Yang kita rasakan sebagai gravitasi merupakan distorsi ruangwaktu oleh energi atau massa positif normal. Tapi ketika energi atau massa negatif—disebut materi eksotis—menekuk ruangwaktu, segala jenis fenomena menakjubkan menjadi mungkin: traversable wormhole (wormhole yang dapat dilintangi/diseberangi–penj), yang dapat berfungsi sebagai terowongan/tembusan ke wilayah-wilayah jauh alam semesta; warp drive, yang memungkinkan perjalanan lebih cepat daripada cahaya; dan mesin waktu, yang mungkin memperkenankan pejalanan ke masa lalu. Energi negatif bahkan bisa dipakai untuk membuat mesin gerak perpetual atau menghancurkan black hole. Read more…

Oleh: George Dvali
(Sumber: Scientific American, Februari 2004, hal. 68-75)

Mungkin akselerasi kosmik bukan disebabkan oleh dark energy tapi oleh kebocoran gravitasi tak terhenti dari dunia kita.

Kosmolog dan fisikawan partikel jarang-jarang merasa begitu bingung. Walaupun model standar kosmologi kita telah dikonfirmasikan oleh observasi mutakhir, ia masih memiliki lubang menganga: tak ada yang tahu mengapa perluasan alam semesta mencepat. Jika Anda melempar batu lurus ke atas, tarikan gravitasi Bumi akan membuatnya melambat; ia tidak akan mencepat menjauhi planet ini. Demikian halnya, galaksi-galaksi jauh, yang terjauhkan oleh perluasan big bang, semestinya menarik satu sama lain dan melambat. Tapi mereka sedang berakselerasi memisah. Para periset umumnya mengatributkan akselerasi tersebut pada suatu entitas misterius yang disebut dark energy, tapi hanya sebagian kecil fisika yang mendukung istilah halus ini. Satu-satunya hal yang kian jelas adalah bahwa pada jarak terbesar yang bisa diamati, gravitasi berperilaku dengan cara agak aneh, berubah menjadi gaya tolak.

Hukum fisika menyatakan bahwa gravitasi dihasilkan oleh materi dan energi, sehingga mereka mengatributkan jenis gravitasi aneh pada jenis materi atau energi aneh. Begitulah dasar pemikiran dark energy. Tapi mungkin hukum itu sendiri perlu diubah. Fisikawan memiliki preseden untuk perubahan semacam itu: hukum gravitasi yang Newton rumuskan pada abad 17, yang mempunyai berbagai keterbatasan konseptual dan eksperimen, memberi jalan untuk teori relativitas umum Einstein pada 1915. Relativitas juga mempunyai keterbatasan; rincinya, ia menjumpai masalah saat diterapkan pada jarak amat kecil, yang merupakan domain mekanika quantum. Sebagaimana relativitas memasukkan fisika Newtonian, teori gravitasi quantum akhirnya akan memasukkan relativitas.

Selama bertahun-tahun, fisikawan telah menghasilkan beberapa pendekatan masuk akal menuju teori gravitasi quantum, yang paling menonjol adalah teori string. Ketika gravitasi beroperasi pada jarak mikroskopis—contohnya di pusat black hole, di mana massa besar dijejalkan ke dalam volume subatom—atribut-atribut aneh quantum materi bermain, dan teori string menggambarkan bagaimana hukum gravitasi berubah. Read more…

Oleh: Graham P. Collins
(Sumber: Scientific American, Juli 2004, hal. 94-103)

Seorang matematikawan Rusia telah membuktikan penaksiran Poincaré yang berumur seabad dan melengkapi katalog ruang tiga-dimensi. Dia mungkin akan memperoleh hadiah $1 juta.

Henri Poincaré menaksir pada 1904 bahwa objek tiga-dimensi yang memiliki atribut-atribut tertentu bola tiga-dimensi bisa diubah bentuk menjadi bola-3. Perlu 99 tahun bagi matematikawan untuk membuktikan penaksirannnya itu. (Awas: bola tiga-dimensi barangkali tidak seperti yang Anda pikirkan!)

Berdiri dan tengoklah sekeliling. Berjalan melingkar. Melompat di udara. Lambaikan tangan Anda. Anda adalah sekumpulan partikel yang bergerak-gerak dalam sekawasan kecil manifold-3—ruang tiga-dimensi—yang membentang ke semua arah sejauh bermiliar-miliar tahun-cahaya.

Manifold adalah konstruk matematis. Kemenangan fisika sejak zaman Galileo dan Kepler adalah keberhasilan deskripsi realitas melalui matematika beberapa citarasanya, semisal matematika manifold. Menurut fisika, segala sesuatu berada di depan latar belakang ruang tiga-dimensi (kesampingkan spekulasi para teoris string bahwa ada dimensi-dimensi kecil di samping tiga dimensi yang nyata) [lihat “Teori yang Dulu Dikenal Sebagai String”, tulisan Michael J. Duff, Scientific American, Februari 1998]. Tiga dimensi berarti tiga bilangan dibutuhkan untuk menetapkan lokasi partikel. Di dekat Bumi, contohnya, tiga bilangan itu berupa garis lintang, garis bujur, dan ketinggian. Read more…

Oleh: Ajip Rosidi
(Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu 15 Oktober 2011, hal. 30)

Dalam setiap bahasa ada kata-kata makian, yaitu kata-kata yang digunakan orang kalau marah atau kalau mau menghina orang lain. Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu tetapi pada awalnya diajarkan melalui sekolah, tidak banyak membawa kata makian seperti yang biasa digunakan dalam masyarakat Melayu. Oleh karena itu, jika marah atau mau menghina orang lain, orang Indonesia sering menggunakan kata makian yang berasal dari bahasa ibunya yang mungkin tidak ada dalam kosakata bahasa Melayu, seperti orang Jawa memaki dengan “diancuk!”, orang Sunda dengan “bebel!”. Keduanya dalam bahasa aslinya termasuk kata-kata yang tidak patut diucapkan di depan umum.

Menurut para ahli, kata-kata yang biasa digunakan untuk memaki dalam berbagai bahasa diambil dari kata-kata yang terdapat dalam enam golongan yaitu:

  1. Yang bertalian dengan agama atau kepercayaan,
  2. Yang bertalian dengan kelamin,
  3. Yang bertalian dengan nama bagian tubuh,
  4. Yang bertalian dengan fungsi bagian tubuh,
  5. Kata-kata yang merupakan sinonim kata “bodoh”,
  6. Nama-nama binatang.

Tentu saja tidak dalam setiap bahasa perimbangan kata-kata yang berasal dari keenam golongan itu sama. Dalam suatu bahasa mungkin ada yang kata makiannya lebih banyak dari golongan pertama dan golongan ketiga, sedangkan dari golongan keempat dan kedua kurang. Sementara itu, dalam bahasa yang lain mungkin dari golongan pertama tidak ada atau hampir tidak ada. Read more…